Mereka adikku =^^=


Kalau banggain diri sendiri kayaknya udah sering ya kupost disini. Naah, kali ini mau berbangga atas prestasi adikku nih.

Minggu, 7 April 2013 (ketauan dech draft post udah lama :P)

Di Masjid tempat aku belajar tahsin-tahfizh, LTQ namanya, diadakan Majlis Qur’an. Daaaan, adikku (yang memang sudah hampir hafal seluruh juz 30) diberi kepercayaan untuk tampil membawakan salah satu surat dalam Juz 30 tanpa membaca Al-qur’an. Uci (7) kebagian surat ‘Abasa, Dika (5) kebagian surat An-Naziat.

Tadinya aku yang deg deg an gitu. Secara mereka kan jarang banget tampil di depan. Khawatir mereka lupa atau jadi speechless saking gugupnya (soalnya mba’nya begitu :P). Tapi kecemasanku lenyap seketika saat melihat mereka tampil dengan tenangnya.

Andhika, duduk bersila dengan gaya cool khas cowo :mrgreen: dan membacakan surat tanpa beban. Tanpa kesalahan!! Sempat heran, karena kalau dilihat ekspresinya, dia seperti ngga mikir, bengong aja gitu ngeliatin orang-orang di depan. Bibirnya kayak bergerak otomatis. Dengan penuh percaya diri, dia menegakkan pandangan ke depan, memegang mix yang kok kayaknya gedean mix-nya daripada adekku :lol:, dan melantunkan surat dengan lantang dan mengalir. Terkejut campur bangga aku melihatnya. Lebih dari apa yang aku harap dia tampilkan. (Sayang saat itu aku tidak terpikir untuk mem-video-kannya).

Sedangkan Uci, dengan suara yang juga tanpa getar, membaca dengan terus memandang pembimbingnya. Lucu melihatnya. Seakan-akan di wajah pembimbingnya itu ada Al-Qur’annya.

Tapi Alhamdulillah, keduanya berhasil melewati tantangan itu dengan baik dan lancar. Salutku pada mereka. Tak nampak ketakutan dan kegugupan di wajah dan sikap mereka.

Apa itu karena mereka masih kecil??

Karena dulu, waktu TK (atau SD?), aku pun pernah ikut lomba MTQ tingkat kotif Depok dan menjadi juara 1. Aku tidak ingat kalau saat itu aku merasa nervous, ketakutan, ngga berani tampil, dan sebagainya. Yang kutahu, aku tampil ya tampil aja. Al-Qur’an yang terpampang di depanku, yang seharusnya kubaca, malah kuabaikan. Mataku jelalatan kemana-mana karena memang surat yang dibaca sudah kuhafal di luar kepala. Mungkin karena waktu itu masih polos dan ngga ngerti apa-apa kali yaa, jadi merasa PD aja, mungkin begitu juga dengan adik-adikku sekarang.

Berarti memang betul kata pepatah (?), semakin besar, semakin tahu, semakin banyak perhitungan, semakin banyak pertimbangan, semakin payah. Karena diriku pun semakin besar malah semakin ngga berani tampil. Suruh aku memberi sambutan di depan 20 orang saja, hampir pasti aku akan kabur dan ngga muncul-muncul lagi. Hahaha… 😆

Hmm.. Menjadi PR bagiku untuk mendidik adikku tidak menjadi penakut sepertiku. Mereka harus dibiasakan sering tampil agar terus berani sampai besar nanti. Bagaimana caranya ya? Ada yang tahu??

Overall, mereka telah membuatku bangga. Sangat bangga. Dan semoga kelak mereka akan terus membuat keluargaku bangga.

Jadi anak sholeh-sholehah ya sayang. Semoga Alloh selalu menjaga kalian. Semoga hafalan Qur’an kalian terus terjaga, meningkat, dan bisa menjadi naungan di akhirat kelak. Aamiin.

Tanda cinta untuk perokok


Introduction

Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh di hari ini, 31 Mei, aku ingin menerbitkan salah satu hutang postingku. Ini juga merupakan request special dari seorang teman yang ingin sekali berhenti merokok.

Sebenarnya isi postingan ini adalah tugas kelompok sekaligus UAS untuk mata kuliah Character Building saat kuliah dulu (akhir tahun 2010).

Tugas yang kukerjakan dengan sepenuh hati dan penuh dedikasi. Totalitas yang membuatku cukup puas.

Dilatar belakangi oleh kebencianku yang sangat pada rokok dan rasa sayangku yang sangat pula pada para perokok.

Aku ingin berbagi, bukan hanya mencaci. Aku ingin memberi solusi, tapi tak ada lagi yang bisa kulakukan selain ini.

Postingan ini adalah tanda cinta dariku, khusus kupersembahkan untuk kamu-kamu yang merokok, kamu-kamu yang punya keluarga perokok, kamu-kamu yang prihatin dengan mewabahnya budaya merokok.

***

Fakta tentang rokok

  • 85% asap rokok dihirup oleh perokok pasif dan hanya 15% yang dihirup oleh perokoknya.
  • Menurut WHO, badan kesehatan PBB, sekitar 700 juta anak, atau sekitar setengah dari seluruh anak di dunia terpaksa menghirup udara yang tercemari asap rokok. Sebanyak 5,4 juta orang meninggal akibat rokok di seluruh dunia. Untuk kawasan Asia Tenggara, sebanyak 124 juta orang dewasa yang merokok. Sekitar 46% berada di Indonesia.
  • Indonesia merupakan konsumen rokok tertinggi kelima di dunia dengan jumlah rokok yang dikonsumsi (dibakar) pada tahun 2002 sebanyak 182 milyar batang rokok setiap tahunnya setelah Republik Rakyat China (1.697.291milyar), Amerika Serikat (463,504 milyar), Rusia (375.000 milyar) dan Jepang (299.085 milyar)
  • Sekitar 28,3% perokok adalah tergolong dalam sosial ekonomi rendah, dimana mereka membelanjakan rata-rata 15%-16% dari pendapatan dalam sebulan untuk membeli rokok

Aku lupa darimana aku mendapat data-data tentang fakta diatas. Yang jelas, fakta itu membuatku meringis miris.

Bagaimana tidak miris kalau tahu negeri tempat kelahiranku berprestasi di dunia dalam hal konsumsi rokok? Ibarat seseorang yang memenangi perlombaan meminum baygon sebanyak-banyaknya. Apakah keluarganya bangga??? Tidak. Bahkan orang-orang mungkin justru akan menertawakan kebodohannya. Sama seperti Indonesia. Siapa yang tahu kalau nun jauh disana, si produsen rokok itu menertawakan kebodohan bangsa kita? Karena bangsa Yahudi yang merupakan produsen rokok pun melarang keras kaumnya untuk mengkonsumsi rokok, karena mereka yang cerdas mengerti benar bahwa rokok itu bisa membuat manusia bodoh. Well, kalau begitu jelaslah alasan kenapa kebanyakan masyarakat Indonesia ini “bodoh”.

Lalu, bagaimana aku tidak miris saat tahu kenyataan bahwa para konsumer rokok itu ternyata justru kebanyakan dari kaum marginal? Karyawan level menengah ke bawah, security, sopir, kondektur, pengamen, anak jalanan, pemulung, bahkan pengemis. Mereka yang notabene hidup dalam ekonomi yang cukup, pas-pasan, bahkan kekurangan, justru menyia-nyiakan uang hasil keringat mereka dengan membeli rokok. Lalu kapan mereka akan maju, bagaimana mereka bisa hidup layak kalau yang dilakukan hanya menghamburkan uang untuk membeli racun yang justru merusak organ mereka, otak mereka, kejiwaan mereka. Duh Gusti, aku hanya bisa mengelus dada, prihatin membayangkannya, rasanya nyesek sekali. Sedih. (sumpah, dadaku sakit, sesak, saat menulis paragraf ini).

Dan lalu, belum puas para perokok itu menyakiti dirinya sendiri, ia pun sadar atau tidak telah merugikan orang lain dengan asap rokoknya. Berapa banyak umpatan dan grenengan yang terlontar dari orang-orang yang merasa haknya terenggut? Berapa banyak racun yang mereka masukkan secara paksa pada orang-orang yang tidak bersalah? Berapa banyak bayi dan anak-anak yang dijejali racun sejak dini? Sadarkah bahwa mereka telah merusak generasi penerus bangsa?

Tak perlu lah ya aku jabarkan disini kandungan apa yang ada didalam rokok serta bahayanya. Sudah begitu banyak artikel yang lebih lengkap dan lebih ilmiah membahas tentang itu. Aku yakin seyakin-yakinnya, mereka sebenarnya tahu dan sadar bahaya dan efek buruk yang ditimbulkannya.

Tapi entahlah, Aku pun sudah tidak tahu lagi harus bicara apa dan bagaimana agar para perokok itu mau sadar.

Lalu, Bagaimana aku tidak sedih?

Bagaimana aku tidak prihatin?

Bagaimana aku tidak geregetan?

Bahkan saking sedihnya, saking prihatinnya, saking geregetannya, aku sering berpikir:

Aku rela dech mengorbankan nyawaku demi tak ada lagi Rokok SIA*AN yang tersisa di dunia ini.

Tak apa bila aku harus menderita penyakit akibat terpapar asap rokok kemudian “pergi” asalkan semua perokok itu bisa sadar dan bertaubat, meninggalkan racun yang justru jadi tren dan kebanggaan tersendiri bagi yang mengkonsumsinya.

Padahal apalah bangganya membuat orang-orang merana?

Apa bangganya membuat orang lain kesal dan terganggu dengan asap yang ditimbulkannya?

Apa bangganya merusak tubuh sendiri?

Apa bangganya perlahan membunuhi orang-orang yang terkasih?

Ah, bahkan buatku, rasa sayangnya perokok itu palsu. Kalau dia benar-benar sayang pada dirinya, pada keluarganya, maka dia akan rela mengorbankan apapun demi kebaikan orang-orang tersayangnya, termasuk dengan berhenti merokok, sekalipun itu membuatnya sakit dan merasa tidak nyaman di saat-saat awal. Dari situ akan terlihat sebesar apa rasa sayangnya pada orang-orang tersayangnya.

Itu pulalah alasan mengapa syarat utama bagiku dalam memilih pasangan hidup adalah TIDAK MEROKOK.

Aku tidak mau menyerahkan sisa hidupku pada orang yang ngakunya sayang tapi malah membunuh diam-diam.

Aku tidak mau menyerahkan tanggung jawab pada orang yang ngakunya bisa diandalkan tapi lebih memilih memenangkan egonya.

Lebih baik aku nikah sama cowo cakep bertanggung jawab yang kaya dan sholeh daripada sama perokok 😛

***

Berdasarkan pengamatan dan wawancara dalam rangka tugasku dulu, dapat disimpulkan kalau kebiasaan merokok itu lekat sekali pengaruhnya dengan lingkungan.

Lingkunganlah faktor terbesar yang mempengaruhi pola pikir si perokok.

Dan rasa gengsi.

Sebagian para perokok itu bahkan merasa “keren” dengan merokok. Oh God, keren dilihat dari sebelah manaanyaaaa???!!!! Cowok terkeren di dunia pun kalau merokok, maka dia terlihat bodoh di mataku.

“Cowok yang ngga ngerokok itu bukan cowok, tapi banci!!”

Entah siapa yang pertama kali menggaungkan kalimat itu. Menurutku itu pernyataan bodoh yang sangat bodoh.

Rasanya aku ingin mengguyur orang yang berkata demikian dengan air es sambil berteriak,

“Heh, situ yang banci! Cowok perokok yang takut dibilang banci gara-gara ngga ngerokok, dialah yang sebenarnya banci. Cowo gentle ngga akan gentar walaupun dicap banci gara-gara ngga ngerokok. Cowo gentle akan berani tampil beda, ngga akan ikut-ikutan dalam hal bukan kebaikan. Akan teguh pendirian dan ngga mudah terpengaruh. Cowo gentle itu adalah cowo cerdas yang tahu dan bisa membedakan mana yang baik dan yang tidak untuk kehidupannya!”

Atau ada lagi pembelaan lain dari para perokok demi membenarkan sikap mereka.

“Kalau ngga ada yang ngerokok, kasian pabrik rokok nanti pada tutup, banyak orang kehilangan penghasilan, devisa Negara juga bisa menurun”

“Halah, jangan sok sosialis lah. Ngapain mikir sampai sejauh itu. Yang deket aja dicuekin. Liat noh samping kiri kananmu, peduli ngga sama kesehatan mereka? Peduli ngga sama nasib “apes” mereka yang terpaksa terpapar asap sial darimu?! Lagipula memangnya rezeki ngga bisa dicari dengan jalan lain? Banyak jalan menuju Roma Bung! Alloh itu ada. Dia tidak akan menelantarkan hamba-Nya yang mau berusaha menjadi lebih baik. Dan lagi, apakah pendapatan yang menurutmu besar itu bisa mengimbangi kerugian yang terjadi akibat rokok itu sendiri? Pikirkan seberapa mahal biaya berobat orang-orang yang sakit karena rokok! Dan sakitnya bukan cuma di fisik, tapi di hati orang-orang terdekatnya.”

Ah, mau dilihat dari manapun, menurutku rokok itu tak ada bagus-bagusnya.

“Ngga ada cowok yang ngga ngerokok”

Siapa bilang???!!! Temen Yisc-ku ngga ngerokok, temen kampusku ada yang ngga ngerokok, temen kantorku juga ada. Hellowww… Masih banyak cowo-cowo gentle yang punya kesadaran dan tahan godaan. Dan di mataku, mereka justru jaaauuuhh lebih keren dan lebih sehat dari “si perokok penyakitan”.

***

(Tarik nafas panjang, menenangkan jantung yang berpacu kencang)

Okeh, seperti yang kubilang di awal, aku tidak ingin hanya menghakimi. Aku ingin berbagi solusi. Dan beberapa pilihan ini semoga bisa menjadi solusi,

…………..continue…………..

Mencari alasan


Kayak judul lagunya exist ya??!! Eh, aku suka lho sama lagu lawas itu. :mrgreen:

Ngomong-ngomong, ada yang merhatiin ngga sih perubahan widget di sidebar blogku?? (kayaknya sih ngga ada yaa.. :mrgreen:). Sejak bulan lalu, aku udah ngga majang kalender lagi disana. Kenapa? Karena memang aku sudah sangat amat jarang meninggalkan jejak at ‘my home sweet home’ ini. Kehadiran kalender pun mulai kurasa tak ada guna. Justru malah semakin memperjelas kekosongan menulisku. Tapi sebenarnya membuang kalender juga tak mengubah apapun, karena widget archive yang menampilkan jumlah tulisan setiap bulan masih berdiri angkuh disitu. 😛

Bobroknya produktivitas menulisku dalam beberapa bulan ini membuatku merasa sangat berdosa. Tidak, aku tidak berlebihan. Memang itu yang kurasa. At least, aku merasa bersalah pada diriku sendiri. Kemana perginya seorang aku yang dulunya begitu “mendewakan” kegiatan blogging, kemana perginya seorang aku yang ngakunya tak pernah kehabisan ide, kemana larinya seorang aku yang katanya begitu gemar menulis, kemana larinya seorang aku yang bercita-cita jadi penulis. Ah, seorang aku itu ternyata hanya seorang yang pandai bicara, pandai membual, tanpa tindak yang nyata.

Memang sih, memosting tulisan itu ngga harus tiap hari. Apalagi kalau bisa memproduksi tulisan bermutu setiap kali post walaupun jarang-jarang. Tapi bagiku, menulis itu terapi tersendiri bagi kondisi kejiwaanku. Maka wajar saja bila akhir-akhir ini aku hampir selalu didera dengan yang namanya bad days. Tak lagi kurasakan kebahagiaan yang berlipat seperti saat aku sering posting dulu. Ada yang hilang saat aku melepas hobiku satu itu, ada yang menggumpal dalam kepalaku membentuk sejumput stress dalam hari-hariku. Dan memang sudah seharusnya antara masukan dan keluaran itu harus seimbang kan??!!!

Tapi aku mengabaikan salah satu faktor pemicu kebahagiaanku itu dengan berlindung dibalik sebuah tembok alasan.

Sibuk. Padahal semua orang yang dalam hidupnya punya tujuan, tentu sibuk.

No connection internet. Padahal hanya sebentar saja koneksi yang dibutuhkan untuk publish sebuah posting.

Nyatanya alasan-alasan itu hanya dibuat-buat, hanya rekaan. Alasan sebenarnya adalah MALAS. Dan aku mencari alasan untuk membenarkan rasa malasku. Itulah yang ingin aku bahas disini. Mencari alasan.

Disadari atau tidak, sebenarnya kita (khususnya aku) sering sekali mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakan kita. Kita sibuk mencari pembenaran. Padahal menurut mommy ku tercinta, “Alasan Memperjelas Kesalahan”. Ya, saat salah, kebanyakan orang (termasuk aku) justru mencari alasan untuk pembelaan diri. Salah ya salah. Kenapa tidak akui saja kesalahannya? Dalam kasusku pun begitu. Malas ya malas saja. Seharusnya aku tidak perlu mengkambing hitamkan koneksi internet maupun kegiatanku yang lain.

Dengan mencari alasan, sebenarnya tak ada yang dirugikan selain dirinya sendiri. Mencari alasan berarti membiarkan diri sendiri kalah pada keadaan. Padahal alasan itu tidak akan mengubah keadaan, kita sendirilah yang seharusnya beradaptasi dengan keadaan.

Coba aku punya “ini” … .

Kalau pakai “ini” sih enak … .

Ntar aja lah kalau udah ada “itu” … .

Jelas aja dia bisa, dia kan punya “itu” … .

Kata-kata itu hanya membuat pribadi menjadi lemah dan tidak berkembang. Dan itu adalah salah satu faktor menjauhnya kesuksesan, ciri mental seorang pecundang.

Ia ngga sih? Menurutku sih iya.

Ibaratnya, ngga perlu punya mobil dulu untuk bisa nyetir, yang punya aja belum tentu bisa kan?

Dan begitulah seharusnya aku. Kalau ingin sukses, seharusnya aku memanfaatkan setiap kesempatan yang datang dan bukan mencari alasan demi memanjakan kemalasan, bukan begitu?

Dan kali ini, kesempatan itu kembali datang. Empat orang terdekatku (dua tetangga, satu teman kantor, satu teman kursus) sempat berharap aku bisa membuatkan baju untuk mereka. Bahan pun sudah ada di depan mata.

Kenyataan bahwa mereka percaya padaku itu seharusnya membuatku bangga kan? Tapi alih-alih mensyukurinya dengan merespon permintaan itu dengan baik, aku justru memandang rendah pada diriku. Aku merasa tak mampu dan takut membuat mereka kecewa. Apalagi peralatan yang kumiliki, kunilai tak cukup baik untuk menghasilkan output yang baik. Dan rasa malas membuatku berlindung dibalik sebuah alasan,

“nanti saja kalau aku sudah punya benda paling kuidam-idamkan ini, baru aku terima order, biar lebih mudah dan hasilnya lebih bagus”

Padahal entah kapan messina itu jadi milikku, dan entah kapan kesempatan serupa akan datang kembali padaku. Sementara waktu tetap berjalan. Mimpi tak boleh padam. Lalu kapan aku bisa menjadi “pemenang” bila terus menerus mencari alasan??!!

 

 

*post ini didedikasikan untukku, berharap bisa serupa sebuah ciuman pangeran yang membangunkan si putri tidur ini dari pengaruh apel biusnya*