D 1st time — Special Ramadhan


Ramadhan telah berakhir, berganti syawal yang pun akan segera berakhir. Kalender masehi pun sama. Agustus yang tinggal beberapa jam saja merekam jejak postingku di bulan ini yang hanya 1!!! Oh ya ampuunn… Betapa tidak produktifnya aku. Betapa malasnya.

Aku menghilang dari peredaran? Iyes, itu benar. Tanpa posting, tanpa meninggalkan jejak blogwalking, hanya setia menjadi silent reader. Ah, tak kupeduli lagi stat blog-ku ini. Aku sedang nyaman menjadi blogger ansos (anti-sosial) :mrgreen:

Tapi sebelum agustus dan syawal benar-benar berakhir, kupaksakan diri untuk merekap aneka moment istimewaku di Ramadhan tahun ini. Ramadhan yang benar-benar beda. Ramadhan yang kali ini special.

Memang benarlah bila bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan.

Dan di Ramadhan 1434 H ini, untuk pertama kalinya:

  1. Aku tahu kalau aku ternyata punya sepupu ganteng 😛
  2. Aku dan adik-adikku ikut lomba tahfizh
  3. Dapat surprise dari ikutan GiveAway
  4. Produksi nastar sendiri
  5. Memenangkan voucher belanja
  6. Bukber Hamaasah
  7. I’tikaf

Dan tentunya, experiment baju kembar wajib lebaran, hehehe…

Detail cerita at that moment menyusul as soon as possible :mrgreen:

Yang jelas, I feel so great, happy, and amazing this Ramadhon. :-*

Thanks God fooorrr….. everything 🙂

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman)

Mencari alasan


Kayak judul lagunya exist ya??!! Eh, aku suka lho sama lagu lawas itu. :mrgreen:

Ngomong-ngomong, ada yang merhatiin ngga sih perubahan widget di sidebar blogku?? (kayaknya sih ngga ada yaa.. :mrgreen:). Sejak bulan lalu, aku udah ngga majang kalender lagi disana. Kenapa? Karena memang aku sudah sangat amat jarang meninggalkan jejak at ‘my home sweet home’ ini. Kehadiran kalender pun mulai kurasa tak ada guna. Justru malah semakin memperjelas kekosongan menulisku. Tapi sebenarnya membuang kalender juga tak mengubah apapun, karena widget archive yang menampilkan jumlah tulisan setiap bulan masih berdiri angkuh disitu. 😛

Bobroknya produktivitas menulisku dalam beberapa bulan ini membuatku merasa sangat berdosa. Tidak, aku tidak berlebihan. Memang itu yang kurasa. At least, aku merasa bersalah pada diriku sendiri. Kemana perginya seorang aku yang dulunya begitu “mendewakan” kegiatan blogging, kemana perginya seorang aku yang ngakunya tak pernah kehabisan ide, kemana larinya seorang aku yang katanya begitu gemar menulis, kemana larinya seorang aku yang bercita-cita jadi penulis. Ah, seorang aku itu ternyata hanya seorang yang pandai bicara, pandai membual, tanpa tindak yang nyata.

Memang sih, memosting tulisan itu ngga harus tiap hari. Apalagi kalau bisa memproduksi tulisan bermutu setiap kali post walaupun jarang-jarang. Tapi bagiku, menulis itu terapi tersendiri bagi kondisi kejiwaanku. Maka wajar saja bila akhir-akhir ini aku hampir selalu didera dengan yang namanya bad days. Tak lagi kurasakan kebahagiaan yang berlipat seperti saat aku sering posting dulu. Ada yang hilang saat aku melepas hobiku satu itu, ada yang menggumpal dalam kepalaku membentuk sejumput stress dalam hari-hariku. Dan memang sudah seharusnya antara masukan dan keluaran itu harus seimbang kan??!!!

Tapi aku mengabaikan salah satu faktor pemicu kebahagiaanku itu dengan berlindung dibalik sebuah tembok alasan.

Sibuk. Padahal semua orang yang dalam hidupnya punya tujuan, tentu sibuk.

No connection internet. Padahal hanya sebentar saja koneksi yang dibutuhkan untuk publish sebuah posting.

Nyatanya alasan-alasan itu hanya dibuat-buat, hanya rekaan. Alasan sebenarnya adalah MALAS. Dan aku mencari alasan untuk membenarkan rasa malasku. Itulah yang ingin aku bahas disini. Mencari alasan.

Disadari atau tidak, sebenarnya kita (khususnya aku) sering sekali mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakan kita. Kita sibuk mencari pembenaran. Padahal menurut mommy ku tercinta, “Alasan Memperjelas Kesalahan”. Ya, saat salah, kebanyakan orang (termasuk aku) justru mencari alasan untuk pembelaan diri. Salah ya salah. Kenapa tidak akui saja kesalahannya? Dalam kasusku pun begitu. Malas ya malas saja. Seharusnya aku tidak perlu mengkambing hitamkan koneksi internet maupun kegiatanku yang lain.

Dengan mencari alasan, sebenarnya tak ada yang dirugikan selain dirinya sendiri. Mencari alasan berarti membiarkan diri sendiri kalah pada keadaan. Padahal alasan itu tidak akan mengubah keadaan, kita sendirilah yang seharusnya beradaptasi dengan keadaan.

Coba aku punya “ini” … .

Kalau pakai “ini” sih enak … .

Ntar aja lah kalau udah ada “itu” … .

Jelas aja dia bisa, dia kan punya “itu” … .

Kata-kata itu hanya membuat pribadi menjadi lemah dan tidak berkembang. Dan itu adalah salah satu faktor menjauhnya kesuksesan, ciri mental seorang pecundang.

Ia ngga sih? Menurutku sih iya.

Ibaratnya, ngga perlu punya mobil dulu untuk bisa nyetir, yang punya aja belum tentu bisa kan?

Dan begitulah seharusnya aku. Kalau ingin sukses, seharusnya aku memanfaatkan setiap kesempatan yang datang dan bukan mencari alasan demi memanjakan kemalasan, bukan begitu?

Dan kali ini, kesempatan itu kembali datang. Empat orang terdekatku (dua tetangga, satu teman kantor, satu teman kursus) sempat berharap aku bisa membuatkan baju untuk mereka. Bahan pun sudah ada di depan mata.

Kenyataan bahwa mereka percaya padaku itu seharusnya membuatku bangga kan? Tapi alih-alih mensyukurinya dengan merespon permintaan itu dengan baik, aku justru memandang rendah pada diriku. Aku merasa tak mampu dan takut membuat mereka kecewa. Apalagi peralatan yang kumiliki, kunilai tak cukup baik untuk menghasilkan output yang baik. Dan rasa malas membuatku berlindung dibalik sebuah alasan,

“nanti saja kalau aku sudah punya benda paling kuidam-idamkan ini, baru aku terima order, biar lebih mudah dan hasilnya lebih bagus”

Padahal entah kapan messina itu jadi milikku, dan entah kapan kesempatan serupa akan datang kembali padaku. Sementara waktu tetap berjalan. Mimpi tak boleh padam. Lalu kapan aku bisa menjadi “pemenang” bila terus menerus mencari alasan??!!

 

 

*post ini didedikasikan untukku, berharap bisa serupa sebuah ciuman pangeran yang membangunkan si putri tidur ini dari pengaruh apel biusnya*

Someone’s watching over me


Ketika semua tampak berjalan tak seperti biasa

Ketika semua tampak bergerak menentang

Ketika semua tampak tak seperti yang diharapkan

Ketika semua tampak menjadi semakin buruk

Tidak seharusnya aku lari

Tidak seharusnya aku sembunyi

Karena aku tahu Dia Maha Menyaksikan

Karena aku tahu Dia Maha Adil

Karena aku tahu Dia Maha Bijaksana

Karena aku hidup bukan untuk dia, bukan pula untuk mereka

Tapi untuk-Nya,

Maka aku tidak mau menyerah

Aku akan tetap mencoba tegar

Sampai cahaya itu akhirnya kudapatkan

***——-***

Kemarilah, datanglah beserta segala penderitaan yang bisa kau ciptakan

Kemarilah, datanglah bersama seluruh kesedihan yang bisa kau berikan

Aku punya Dia, lalu kau mau apa?

Kemarilah, maka aku akan siap dengan kebahagiaan yang berlipat

Aku masih ingin bahagia, tetap bahagia, dan akan selalu bahagia

Tak kan kubiarkan siapapun, apapun, menghancurkan kebahagianku

Tidak pula kau

Dan aku akan tetap tidak peduli

Berapa kali pun kau menyerangku, berapa kalipun kau menikamku

Aku akan siap

Karena aku percaya,

Dia selalu ada.

“Jika kamu jatuh dalam kesulitan, maka ingatlah, berapa banyak kesulitan yang pernah kamu alami dan Alloh telah menyelamatkan kamu darinya. Maka ketika itu kamu akan mengetahui bahwa Alloh yang telah menyelamatkan kamu pada kesulitan-kesulitan sebelumnya pasti akan menyelamatkan kamu pada kesulitan berikutnya.”

Someone’s Watching Over Me
oleh: Hilary Duff

Found myself today
Oh, I found myself and ran away
Something pulled me back
The voice of reason I forgot I had

All I know is you’re not here to say
What you always used to say
But it’s written in the sky tonight

Reff:
So I won’t give up, no I won’t break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong even if it all goes wrong
When I’m standing in the dark I’ll still believe
Someone’s watching over me

Seen that ray of light
And it’s shining on my destiny
Shining all the time, and I won’t be afraid
To follow everywhere it’s taking me

All I know is yesterday is gone
And right now I belong
To this moment, to my dreams

It doesn’t matter what people say
And it doesn’t matter how long it takes
Believe in yourself and you’ll fly high
And it only matters how true you are
Be true to yourself and follow your heart

Download Someone’s watching over me

Ps:
Post ini udah aku draft sejak setengah bulan yang lalu, untukku sendiri, saat aku benar-benar mengalami yang namanya “bad days”.
Tapi kali ini, ku persembahkan post ini untuk seseorang yang belakangan ini menjadi inspirasiku, yang mungkin akan menjalani “bad days” miliknya.
Pesanku, percayalah, Alloh selalu ada. ^-^ keep cheers…
~Tetaplah tersenyum, tapi kalau kau tidak mau, maka aku yang akan tetap tersenyum untukmu~

:mrgreen: