Matrik IIP #5 : Belajar Bagaimana Caranya Belajar


Materi Matrikulasi IIPbatch #2 sesi #5

📝BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR📝

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar,

Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.

Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang  yang senang belajar dan ada yang tidak suka belajar.

Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit. Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa.

Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan

Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah. Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali. Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.

Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita ? Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal :

1⃣ Belajar hal berbeda

2⃣ Cara belajar yang berbeda

3⃣ Semangat Belajar yang berbeda

 

🍀 Belajar Hal Berbeda

Apa saja yang perlu di pelajari ? yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:

🍎Menguatkan Iman, ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya

🍎Menumbuhkan karakter yang baik.

🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)


🍀 Cara Belajar Berbeda

Jika dulu  kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.

Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak-anak kita untuk bertanya.

Misalnya :

👍Ibu jari : How

👆Jari telunjuk : Where

✋Jari tengah : What

✋Jari manis : When

✋Jari kelingking : Who

👐Kedua telapak tangan di buka : Why

👏Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which one.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya. Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dengan aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja. Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik

Apa itu berpikir skeptik ?

Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.

 

🍀 Semangat Belajar Yang berbeda

Semangat belajar  yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :

🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.

🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.
Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada di tempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).

Yang harus dipahami, Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita

Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya? Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan Strategi Meninggikan Gunung bukan meratakan lembah.

Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal-hal yang mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin. Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.

🚫 Sebaliknya jangan meratakan lembah yaitu dengan menutupi kekurangannya,

Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).

Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress. Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.

Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?

Caranya adalah :

1⃣ Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati

2⃣ Mengetahui tujuannya, cita-citanya

3⃣ Mengetahui passionnya

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.

Good is not enough anymore, we have to be different.

Baik saja itu tidak cukup,tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).

Peran kita sebagai orang tua :

👨‍👩‍👧‍👧Sebaga pemandu : usia 0-8 tahun.

👨‍👩‍👧‍👧Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun. Kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya

👨‍👩‍👧‍👧sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas.

 

Cara mengetahui passion anak adalah :

1⃣ Observation ( pengamatan)

2⃣ Engage (terlibat)

3⃣ Watch and listen ( lihat dan dengarkan suara anak)

Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain. Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu. Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.

 

Cara mengolah kemampuan berfikir Anak dengan :

1⃣Melatih anak untuk belajar bertanya, Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.

2⃣Belajar menuliskan hasil pengamatannya. Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya.

3⃣Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari.

4⃣Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.
Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita,

 

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

 

Sumber bacaan :

_Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014_

_Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009_

Tanya Jawab Matrik IIP #4


Sesi Tanya Jawab*

1⃣ Bunda Wiwit :

Untuk materi ke 4 ini Mendidik dengan Kekuatan Fitrah. Well noted utk KM 0, Tsunami informasi, tahapan ilmu serta yang paling intinya: Pahami Fitrah yg dibawa anak sejak lahir (Fitrah Ilahiyah,Fitrah Belajar,Fitrah Bakat,Fitrah perkembangan,Fitrah seksualitas dll).

Saya ingin sekali bisa memahami aspek-aspek fitrah yang ada pada anak kita, karena saya masih awam. Mohon berkenan untuk penjelasannya lebih detail mengenai fitrah-fitrah yang ada pada anak kita tersebut masing-masing: Fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah perkembangan, Fitrah seksualitas, dll. Jazakillah khairan katsiraa :)🙏🏼

1⃣bunda Wiwit

Fitrah Ilahiyah (keimanan)

meliputi spiritualitas, moralitas dan religiusitas. Setiap anak dilahirkan untuk mencintai Tuhannya yang selanjutnya akan membentuk karakternya (akhlakul karimah). Pada usia dibawah 7 tahun, fitrah ini sangat mudah dibangkitkan dengan imajinasi dan abstraksi tentang Allah, Rasul, kebaikan dan segala ciptaan-Nya.

Fitrah belajar

adalah keinginan untuk mempelajari sesuatu secara alami, tidak perlu diajarkan secara khusus. Kita hanya perlu menemani dan mengarahkan, hal apa yang disukai anak. Jika anak suka sains, fasilitasi dengan buku, bisa juga melihat dan mengamati tumbuhan atau makhluk hidup disekitarnya. Dalam bukunya Origins, Annie Murphy Paul membuktikan bahwa bayi selama 9 bulan dalam kandungan telah mampu menyerap apa yang terjadi diluar tubuh ibunya. Dalam sebuah penelitian tahun 1999 di kawasan kumuh di India, dilakukan eksperimen dengan meletakkan sebuah komputer di tempat umum yang memungkinkan di sentuh anak-anak. Walau tanpa diajarkan, ternyata anak-anak itu mampu mengoperasikan komputer. Bahkan jika komputer itu menggunakan bahasa asing.

Fitrah Bakat 

meliputi Talent, Passion & Strength. Setiap anak adalah unik dan memiliki sifat bawaan masing-masing yang kemudian akan berkembang menjadi karakternya. Dengan karakternya, akan berkembang bakat yang akan menjadi misi hidup yang spesifik untuk bisa berperan dalam peradaban.

Masa-masa keemasan untuk mengembangkan fitrah bakat ini adalah usia 10-14 

Biasanya di usia ini anak sudah mulai menentukan satu bidang yang dia sukai dengan lebih serius.

Fitrah Perkembangan

Segala yang ada di muka bumi memiliki sunnatullah tahapan pertumbuhannya masing-masing yang berkorelasi dengan dimensi waktu dan dimensi kehidupan.

Ada masa dimana benih atau biji ditanam dan disemai, ada masanya benih bertunas, ada masanya tumbuh cabang dan daun, ada masanya berbunga, ada masanya berbuah begitu seterusnya.

Untuk setiap masa itu ada cara dan tujuannya masing-masing. Dalam sunnatullah perkembangan atau pertumbuhan ini maka tidak berlaku kaidah “makin cepat makin baik”, juga jangan terlalu terlambat untuk tiap tahapannya. Segala sesuatunya akan indah bila tumbuh pada saatnya.

*Analogikan diri anda seperti petani organik*

Petani organik itu tidak pernah menggegas dengan menambahkan berbagai macam hal-hal yang tidak alamiah. Para petani ini ingin menemani tanaman itu tumbuh sesuai dgn kehendakNya. Tidak memaksakan proses sehingga hasilnya dipaksakan sesuai kehendak kita sang perawat.

Fitrah Seksualitas

Secara fitrah seksualitas, anak lelaki mulai lebih didekatkan kepada ayah agar tumbuh fitrah kelelakiannya secara alamiah, begitupula anak perempuan mulai lebih didekatkan pada ibu agar tumbuh fitrah keperempuanannya secara alamiah baik individu maupun sosial. Pada puncak tumbuhnya fitrah seksualitas ini, maka fitrah peran seksualitas ini akan menjadi adab pada orangtua, adab pada perannya sebagai lelaki, adab pada perannya sebagai perempuan dalam skala personal maupun komunal. ✅
2⃣ Bunda Laela

Mendidik anak sealamiah mungkin, saya belum begitu paham tentang itu, bisa dijelaskan lebih detail? Apakah yang dimaksud sealamiyah itu sesuai tahapannya jangan terlalu terburu buru mengajarkan ini itu atau bagaimana? Trimakasih sebelumnya

2⃣bunda Laela

Betul. Buatlah pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan buat anak. Jangan pernah memaksa anak untuk bisa semua hal. Tapi kuatkan di bidang yang anak kuasai. Maka itu akan lebih bermakna. 

Jangan paksakan anak burung untuk jago berenang, karena dia hanya jago terbang.

Dan jangan paksakan ikan untuk jago terbang, karena dia hanya jago berenang.

Jadi fokus pada kelebihan anak bukan pada kekurangannya.✅
3⃣ bunda Nira

pada point di mendidik anak dengan fitrah, mendidik anak dengan sunnatullah, realnya seperti apa?

 3⃣ bunda Nira

Pertanyaannya sama seperti bunda Laela. Saya tambahkan lagi ya. Tugas kita sebagai orangtua hanya menemani proses pembelajarannya, tumbuh kembangnya. Jika ingin melihat indikatornya, bandingkan dengan dirinya sendiri dimasa yang lalu. Jangan pernah membandingkan anak kita dengan anak yang lain.

Contoh: sekarang anak kita senang membaca buku. Padahal setahun yang lalu dia belum bisa membaca.

Sekarang anak kita sudah bisa merapihkan sepatunya sendiri. Padahal setahun yang lalu masih melepas sepatu sembarangan.

Bersyukur dan beri pujian atas pencapaiannya.

Buat hal-hal yang ingin dicapai lebih baik lagi oleh anak kita tapi dimulai dari yang sederhana dulu dalam kegiatan sehari-hari sesuai usianya. Jangan terlalu memaksakan.✅
4⃣bunda Ika

Di poin: Rancang program yang khas bersama anak. Ini seperti apa ya? apakah setiap hari kita membuat aktivitas khusus untuk masing-masing anak? atau bagaimana ya? Terima kasih..

 4⃣bunda Ika

Iya. Buatlah rencana kegiatan. Misal minggu ini kita mau main apa ya? Mau kemana dan nanti disana ada nilai pembelajarannya.

Karena sampai usia 12 tahun selama anak belum aqil baligh maka pasti anak akan senang bermain atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

Dan setelah aqil baligh, biasanya anak tidak lagi selalu ingin berada disamping kita. Lanjutkan dengan menjadikan anak sebagai *sahabat* ✅
 5⃣ Ibu insiyah 

Mba, saya ibu 3 anak, yang pertama 12 thn alhamdulillah masuk pesantren, yang kedua umur 3 thn 10 bln, yang ketiga 4 bln. Yang ingin saya tanyakan apakah salah jika yang menentukan pilihan sekolah itu orang tua, anak saya yang kedua itu aktif banget makanya saya memasukkan sekolah TK dari umur 3 thn, apa itu terlalu dini?

5⃣bunda Insiyah

Sebaiknya dalam menentukan sekolah, kita berikan beberapa pilihan kepada anak kita, mau masuk kemana? Ajarkan anak berdiskusi dan belajar menentukan pilihan.

Diberikan anak yang aktif itu anugerah sebenarnya. Dan sebagai orangtua kita harus berlatih sabar dalam menghadapinya.

Kalau menurut bunda sendiri, anak kedua bunda nyaman kah disekolahkan sejak dini? Pernah kah dia mengeluh capek atau bilang kalau dia maunya di rumah aja sama bunda dan adiknya?

Coba ditanyakan bun.

Kalau si anak tengah merasa senang dan nyaman, menurut saya sih tidak masalah.

Tapi kalau ternyata dia merasa dijauhkan dari adik dan bundanya sebaiknya jangan disekolahkan dulu. Berarti dia belum mau. ✅
6⃣bunda Azay

Bagaimana cara membersamai/ menemani di waktu bersama anak yang ideal bagi seorang ibu yang aktif di ranah publik (tidak bisa 24 jam bersama anak) agar tetap bisa mendidik anak sesuai fitrahnya?

6⃣bunda Azay

Kalau saya pribadi selalu meluangkan waktu di hari minggu khusus untuk anak-anak. Karena ketiga anak saya mondok di pesantren. Dihari minggu itulah kami orangtua berusaha membersamaianya diberi waktu dari pukul 9 pagi sampai 5 sore.

Terserah anaknya mau dibawa kemana untuk lepas kangen kangenan 😅

Biasanya saya selalu ajak *ngobrol*. 

Membawakan makanan atau buah kesukaan mereka. Sambil makan atau sambil jalan-jalan. Sekedar menanyakan perasaannya, bercanda, bermain, baca buku, dan melepas lelah dan kejenuhan mereka selama 6 hari dengan aktifitas yang padat. 

Saya selalu merancang waktu untuk 3 hal:

*me time* waktu saya untuk sendiri

*we time* waktu saya hanya berduaan dengan suami, dan

*family time* waktu bersama keluarga.

Semua waktu itu berusaha kami penuhi sekali dalam satu minggu.

Bagaimana dengan bunda? Bunda pasti punya waktu kosong. Misal dimalam hari sebelum tidur, saat makan malam bersama. Silahkan gunakan untuk ngobrol bareng keluarga.

Jangan sampai kita berguna bagi orang lain tapi anggota keluarga sendiri merasa kehilangan. 

Coba berusaha buat manajemen waktu yang baik.

Hal ini bisa juga ditanyakan ke mba nia yang punya pengalaman dalam membersamai anaknya saat sepulang kerja dimalam hari. Karena beliau juga bekerja diranah publik.✅

Nia ➡ Menambahkan penjelasan dari mbak Zy, setelah bunda memahami apa saja jenis fitrah maka kita terapkan diri kita sebagai “Manajer Keluarga”. Manajer berarti kita yang mengatur dan mengelola apa saja yang keluarga kita butuhkan termasuk soal menjaga fitrah anak dan pendidikannya.

Nah sebagai ibu bekerja di ranah publik, ibu sebagai seorang manajer keluarga dapat mendelegasikan tugas tersebut. Sehingga tugas kita untuk menyampaikan atau mengedukasi pihak yang kita berikan tanggung jawab dalam menjaga anak kita selama kita bekerja. Diskusikan dan obrolkan bersama. 

Bu Septi juga bercerita, dulu ketika anak-anak bu Septi kecil ada asisten untuk mengurus anak, bu Septi ajarkan berbagai cara yang telah dipikirkan Bu Septi. Contoh: cara berkomunikasi dengan anak, cara mendampingi membaca buku. Bu Septi mengajak asistennya ikut seminar parenting, dsb. Dan pada akhirnya asistennya tersebut saat ini sudah memiliki sekolah tk sendiri. 🙂 

Dan jika saya pribadi saya juga punya waktu komitmen diantaranya:

1. Pada saat jam istirahat saya selalu sempatkan telfon anak saya untuk mengobrol. 

2. Saat sampai rumah, setelah siap sudah mandi makan sholat menghela nafas, saya serahkan sepenuh jiwa raga saya untuk anak. Kegiatan apapun yang ia inginkan. Mengejar ketertinggalan saya di ranah Bunda Sayang dan Bunda Cekatan

3. Weekend full untuk anak menjalankan family project or family trip. Main bersama. Jika ada kelas IIP 2 jam, maka akan dikondisikan kembali.

Kelihatan berat? Pada awalnya iya. Saya pun demikian tapi ini konsekuensi saya memilih ranah publik. Saya gak mau anak ketinggalan karena excuse saya bekerja.

InsyaAllah bagi saya ini investasi, mumpung masih ada umur dan rizki tenaga.

Kadang beberapa hari dalam sebulan apabila saya pulang lebih larut atau saya lelah amat sangat saya minta maaf pada anak karena tidak optimal. Itu saja. Agar anak ridho.
7⃣Bunda Nurul

Assalamualaikum. Apakah ada tips yang mudah kita terapkan manakala ada perasaan apa yang kita lakukan dalam mendidik anak kita tidak sebaik keluarga yang lain. Niat awal untuk menjadi gambaran atau contoh, namun seringkali malah jadi merasa terintimidasi. Merasa banyak kurang, merasa jauh tertinggal. Terima kasih

7⃣ bunda Nurul

Rumput tetangga memang terlihat lebih hijau ya 😅 Sebaiknya kita segera merenung. 

Model pendidikan keluarga kita sebaiknya berdasarkan gaya belajar anak-anak kita sendiri. Kita tidak bisa terus menerus meniru gaya belajar orang lain. Karena sudah pasti kebutuhannya berbeda beda.

Mengambil sisi positif dari orang lain itu boleh boleh saja. 

Bahkan di Ibu Profesional kita mengenalnya dengan istilah ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi)

Jadi.. bunda bisa saja melihat model pendidikan dari keluarga lain.. asalkan di modifikasi dengan kebutuhan masing-masing anak kita. ✅
8⃣ Bunda Diyan

Menilik tahapan-tahapan dalam mendidik anak dengan kekuatan fitrah menurut saya sesuai modelnya bila dilakukan dengan sistem homeschooling. Saya berminat sekali dengan sistem ini tapi anak saya cenderung ingin masuk sekolah formal. Tahun ini belum saya daftarkan karena saya baru saja resign dan ingin PDKT lagi sama anak. Bagaimana saya harus bersikap? Tetap sounding tentang HS atau menuruti dulu keinginannya sambil tetap sounding? (Duuh maksa banget saya ya)

8⃣bunda Diyan

Bu Septi pernah menawarkan kepada anak-anaknya. Beliau memberikan 3 pilihan sekolah terbaik yang cocok dengan value keluarganya atau belajar di rumah bersama ibu dan bapaknya.

Dan setahu saya si sulung mba Enes pernah sekolah di sekolah swasta pilihannya sebelum akhirnya homeschooling juga.

Jadi memang sebaiknya berikan pilihan dengan segala konsekuensinya dan dengarkan pilihan anak. 

Jika di tengah jalan akhirnya dia memutuskan ingin HS jangan pernah menyalahkan pilihannya. Karena semua itu terjadi karena kehendakNya. Dan pasti ada pelajaran yang bisa diambil.

Pengalaman saya, anak pertama dan kedua pindah sekolah sampai 2x dan baru memilih mondok di pesantren dengan keinginannya sendiri. Dan saya sebagai orang tua tidak pernah menyesali perjalanan itu. Karena banyak hikmah yang bisa kami jadikan pelajaran dalam hidup ini. ✅
9⃣bunda Marie

Pertanyaan : Bagaimana cara memahami fitrah anak sejak lahir? Dan bagaimana meyakinkan diri kita sebagai ortu dan anak kita bahwa itu adalah fitrahnya.

9⃣bunda Marie

Fitrah berasal dari akar kata fa-ta-ro dalam bahasa Arab yang berarti membuka atau menguak. 

Fitrah sendiri mempunyai makna asal kejadian, keadaan yang suci dan kembali ke asal. Dalam Islam terdapat konsep bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah. *Sumber: wikipedia*

Jadi sebagai orangtua, kita hanya mengarahkan agar si anak tetap menjadi makhluk ciptaanNya yang harus taat dengan melewati tahapan dalam hidupnya hingga kembali padaNya. ✅
*Diskusi tambahan*

❓❓Gimana membuat anak eksplorasi dengan alam tapi di lingkungan rumah susah dapat kebun atau kolam apalagi sawah hehee. Ada kebun orang lain.

⏩Ijin aja ke kebun orang jika dibolehkan asal jangan merusak hehe
❓❓Mba Zy, mengembangkan fitrah Ilahiyah itu bagaimana caranya ya? Fitrah ini cenderung terlewati, padahal merupakan dasar. apakah fitrah-fitrah ini bentuknya bertingkat ya? maksud saya, fase-fasenya seperti piramida.

⏩Tetap sesuai usia mba.

0-7 tahun perbanyak main dengan alam terbuka untuk menanamkan nilai ketuhanan.

7-14 tahun mulai mendisiplinkan ibadah dengan konsisten

14-21 pendalaman keimanan untuk mempersiapkan anak menjadi makhluk sosial yang bermanfaat untuk sesama dan mempersiapkan anak memasuki tahap menjadi manusia dewasa #imho
❓❓Mba.. Cara utk menguatkan rasa ingin tau anak gimana ya? Anak saya yang pertama di usia balitanya saya rasa banyak sekali ingin tau, dilihat dengan banyak tanya. Sekarang di usia yang mau tujuh tahun, porsi bertanyanya agak melemah. Memang begitu fitrahnya atau ada pola yang salah ya?

⏩Rasa ingin tahu yang besar dan banyak bertanya adalah ciri-ciri anak yang cerdas. Jadi sediakan waktu untuk menjawab pertanyaan anak.

Ada kemungkinan anak merasa diacuhkan atau dibentak saat bertanya itu juga bisa menyebabkan anak jadi enggan bertanya lagi..

⏩Husnudzon saya, dia kadang sudah menemukan jawabannya sendiri sebelum akhirnya banyak tanya 😂 Tapi ya saya kangen sama dia yg cerewet tanya ini itu.. Memang kompleks sih pertanyaannya jadi kadang mungkin anak kurang terpuaskan dengan jawaban ibunya. Semoga Allah selalu bimbing kami.. Terima kasih mba Zy 😇 

⏩Aamiin.. sebagai orangtua.. kita memang harus pintar menjawab pertanyaan anak. Jika memang tidak tahu, ajak anak mencari jawabannya dengan bertanya kepada orang lain yang lebih tahu atau cari di google 😂
❓❓Hampir mirip pertanyaan say… bedanya kemandirian… usia dini kemandiriannya sudah terlihat, usia bertambah malah semakin menurun dan selalu minta dilayani… 😰

⏩Menurut saya bundanya kurang “tega” dalam mendisiplinkan anak.

Karena untuk melatih kemandirian anak butuh ketegasan. Jika bunda atau ayahnya pernah melanggarnya. Maka anak akan kendor kedisiplinannya
❓❓Mba zy, jika anak usia pra sekolah yang belum bisa menentukan apa-apa yang menyenangkannya (menurut saya sih ini 😬), kira-kira butuh berapa kalai atau berapa lama kita coba di satu hal, sampai kita tau dia suka atau tidak. Misal kita sedang mencoba mengenalkan renang, diperjalanan dia bilang gak suka. Apa kita langsung turuti beralih ke yang lain atau lihat perkembangan sampai berapa lama?

⏩Menurut ippho santosa 90 hari waktu yang cukup untuk menentukan apakah kita memang masih menyukai kegiatan tersebut atau tidak. Jika ia dalam waktu tersebut sudah bosan bisa diganti dengan kegiatan lain. Jika tetap menyukainya. Teruskan..bisa jadi itu passionnya
❓❓Saya mau tanya..Saya suka khawatir karena curriosity anak saya seperti tidak ada habisnya. (usianya 7 tahun). Kemarin pulang sekolah dia minta diajarin perkalian. 🙈 (Alhamdulillaah penjumlahan dan pengurangan sudah mampu dikuasai). Tapi saya agak khawatir, kalo perkembangan secara kognisinya terlalu cepat. Seperti hal nya dulu, di usianya menjelang 5 tahun, saya belum mau mengajarinya membaca tapi dia sudah banyak bertanya dan minta diajari membaca. (mungkin karena hampir setiap hari dia melihat saya membaca buku saya sendiri atau membacakannya cerita).  Padahal saya hampir tidak pernah membahas pelajaran sekolah saat di rumah. Jikapun bertanya hanya melakukan review sesekali tentang pengalaman belajarnya, apa yang baru dia tahu, dll. Tapi lebih sering dia duluan yang cerita. 🙈Ummi.. Tadi aku belajar ini, tapi aku masih bingung. Padahal udah dijelasin. Ummi ajarin aku ya? Saya lebih banyak bertanya tentang dengan siapa dia bermain? Apa yang seru di sekolah hari ini? Dll.. Karena orientasi saya saat ini, yang penting anak saya senang belajar, dan senang berteman. Apa yang sebaiknya saya lakukan..?
⏩Curriosity anak yang besar sangat bagus. Jadi tidak perlu dikhawatirkan. Yang tidak boleh, kita memaksakan kehendak kita agar anak bisa ini bisa itu. Tapi kalau anak yang meminta mengapa tidak diajarkan bun? Barangkali memang itu kebutuhannya. Cepat dalam belajar sehingga bisa terjadi sebaliknya jika dia sudah banyak tahu tapi tidak ditambah pengetahuannya nanti dia akan bosan..#imho

Penutup

Ingat..

Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”. 

:):):):):)

Matrik IIP #4 : Mendidik dengan Kekuatan Fitrah


​MATERI MATRIKULASI IBU PROFESIONAL SESI #4

_Selasa, 8 November 2016, Pukul 20.00-21.00_

_Matrikulasi IIP Depok Batch 2_

➖➖➖➖➖➖➖

MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan DIRI ANDA SENDIRI

Apakah mudah? TIDAK. Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.
Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa “misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati di Nice Homework #3. Bagi yang sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, Misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak. 

Just DO It

lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada Apa yang harus dipelajari anak-anak kita,  bukan pada Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya. 

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu 

PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:

  1. Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.
  2. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidak akan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.
  3. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll. 
  4. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.
  5. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses. Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.
  6. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.
  7. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition”. Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi, dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri. Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca. Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya. 

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
 
Sumber bacaan :
_Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Jogjakarta, 2013_
_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_
_Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014_
_Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016_