Aku lugu????


“Karena kamu lugu”

Itu sms dari seorang temanku. Dikatakannya bahwa aku lugu. Jawaban atas pertanyaanku “Kenapa si fulan suka sekali ngecengin aku”.

Sedikit terhenyak. Aku lugu?? Di otakku, “lugu” itu adalah cerminan dari pribadi yang alim, anak baik-baik, ngegemesin, dan hal-hal positif lainnya. Menurutku identik dengan “bocah/anak kecil”.

Dan aku dikatakan lugu??? Aih, jadi malu.

Tapi kemudian dilanjutkan,

“Tapi ada baiknya juga, biasanya orang lugu itu sederhana dan ngga macem-macem”

jadi jadi..lugu itu bermakna negatif yaa????

Penasaran, ku search di google, mencari pengertian LUGU (bukan Lutung Gunung yaaa).

Definisi ‘lugu’

Jw a

2. tidak banyak tingkah; bersahaja; sewajarnya; apa adanya:

http://www.artikata.com/arti-338990-lugu.html

Definisi ‘keluguan’

noun

1. kesahajaan; kewajaran:

http://www.artikata.com/arti-371076-keluguan.html

Hihihi.. kalau baca pengertiannya, jadi geli sendiri.

Apakah aku tidak banyak tingkah? Tidak. Aku petakilan.

Bersahaja? I’m not sure.

Sewajarnya??? Hmm.. i guess no.

Apa adanya? Masih mungkin.

Jadi apakah aku lugu? Entahlah. Aku masih tidak mengerti.

Apakah lugu sama artinya dengan kuper? Kalau ya, berarti aku memang lugu.

Atau lugu adalah bahasa halus dari bodoh a.k.a mudah dibodohi/dikibuli??? Kalau ya, berarti mungkin saja aku lugu.

Mengingat yang mengatakan aku lugu rata-rata adalah teman laki-laki, dan tidak pernah ada dari teman perempuan, aku rasa mereka mengatakan aku lugu karena gampang dibohongi yaaa.

Habiiisss..aku memang mudah percaya orang. tapi tak apa, mungkin karena lugu itulah aku jadi berasa disayaaang banget sama temen-temen cowokku, berasa punya kakak.

***

Tapi Jadi, sebenarnya lugu itu berkonotasi positif atau negatif???

Dari artikel yang kutemukan ini sih, aku menyimpulkan kalau lugu itu positif.

Tapi aku masih tidak mengerti, lugu itu seperti apa??? Benarkah aku lugu??? Bisakah itu menjadi salah satu kelebihan untuk menggaet belahan hatiku?? 😆

LTQ Ahlul Qur’an & Lisani


Di deket rumahku baru dibuka LTQ Ahlul Qur’an sama Lisani. LTQ adalah Lembaga Tahsin-tahfizh Qur’an sedangkan Lisani adalah pusat pembelajaran bahasa arab. Senangnya hatiku, akhirnya aku bisa mempelajari Al-qur’an dan bahasanya tanpa harus pergi jauh. Kesempatan yang tidak akan aku sia-siakan. Akhirnya aku dan “kembaran” aku mendaftar LTQ dan Lisani, sedangkan “Si kembar kecil” didaftarkan program tahfizhnya saja.

Untuk yang anak kecil, pembelajarannya setiap hari senin-kamis ba’da maghrib, untuk yang dewasa hari sabtu-minggu. Agak berat sebenarnya, karena aku harus mengorbankan kunjungan rutinku ke Al-Azhar tercinta,mungkin aku akan jarang kesana, padahal selama ini disitulah tempat aku men-charge energi positifku. Sedih sebenarnya. 😦

Kemarin, Sabtu tanggal 6 Oktober, ada tes penempatan untuk kelas tahfizh. Dan hari ini ada kuliah perdana, di pusat LTQ Ahlul Qur’an, di Markaz Ahlul Qur”an, Jl.KH.M. Usman Nn. 1 03 Kukusan, Beji, Depok. Rutenya, naik 04 (angkot biru arah beji) sampai perumahan muslim permata darussalam.

LTQ Ahlul Qur’an-Perdana

Acara dimulai dengan sambutan dari pendiri LTQ, kemudian pembacaan juz 30 tanpa Qur’an oleh santri LTQ sebelumnya dan setelahnya di test oleh beberapa peserta. Peserta membacakan salah satu potongan ayat antara juz 30 n 29, dan kemudian santri tersebut melanjutkan. Ada juga yang meminta untuk membacakan potongan ayat yang sebelumnya. Semua pertanyaan berhasil dijawab dengan benar. Luar biasa adik-adik kecil itu. Acara dilanjutkan dengan tausiyah dengan tema “bersahabat dengan Al-Qur’an”. Selesai tausiyah, sholat dhuhur kemudian pulang. Aku harus mempersiapkan energiku untuk belajar perdana bhs arab nanti sore.

Kelas bahasa arab pertama. Tidak banyak yang datang. Pengajarnya bernama Ust. Zainal Arifin. Melihat sosoknya, aku jadi kangen sama Ust Helmi, pengajar bhs arab ku di AA setahun yang lalu. Tadinya aku beranggapan, tidak akan semenyenangkan seperti waktu dengan Ust. Helmi, namun entah karena memang semangat belajarku yang sedang menggebu-gebu, atau memang karena cara mengajarnya, aku menikmati moment-moment belajar ini. Dan tak terasa sudah satu setengah jam. Pembelajaran harus berakhir, padahal aku masih ingin berlanjut. 😦

Tapi tak apa, aku berharap, ini bisa menjadi awal yang baik untuk resolusiku. Dan untuk perubahanku menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Bukankah menuntut itu wajib hukumnya bagi muslim dari buaian hingga liang lahat? Jadi, Bismillah, Ya Alloh, ringankanlah langkahku menuntut ilmu, mudahkanlah jalanku. Aamiin.

Minggu, 7 Oktober 2012

“Kawasan Dilarang Merokok”


Aku sekeluarga berencana untuk menjemput nanda (ade ku) di bekasi, kali ini kita mencoba untuk naik kereta, dengan transit di manggarai. Sampai di manggarai, untunglah tidak terlalu banyak yang nunggu, jadi masih kebagian tempat duduk. Cukup lama kereta arah bekasi yang ditunggu datang. Untunglah ade-ade ku tidak merasa bosan, mereka asyik bercanda sambil melihat kereta yang datang dan pergi. Adikku yang paling kecil, Dika, pun asyik mengasah kemampuan membacanya. Tulisan apapun yang ada di stasiun dibacanya. Termasuk salah satu plang yang paling aku suka “kawasan dilarang merokok”. 😀

Tak berapa lama, datanglah bapak-bapak yang sepertinya juga menunggu kereta jurusan bekasi, duduk di bangku yang sama dengan ibuku dan dika. Bapak berkaos putih ini duduk dengan mencondongkan badannya ke depan, aku tidak terlalu memperhatikan si bapak, sampai aku mendengar suara lantang dika yang berdiri tidak jauh dari si bapak. Sambil memperhatikan tangan kanan si bapak dia berkata “dilarang merokok”. Ternyata bapak itu memegang rokok di tangan kanannya, tanpa dikomando, sontak aku, alin, dan ibuku tertawa mendengar penuturan polos dari dika.

Untungnya si bapak tidak tersinggung, dia menoleh dan ikut tertawa, mungkin merasa malu, hihihihi. Si bapak pun mencoba mengajak ngobrol dika, tapi yang diajak ngobrol malah cuek bebek dan kembali melihat-lihat sekitar. Tak berapa lama, dia pun mematikan rokoknya dan pergi. Ahahaha..

Wahai para perokok, tidak malukah kalian pada anak kecil yang bahkan saat baru belajar pun sudah mengerti makna tulisan yang dia baca? Bisakah kalian membaca tulisan di bungkus rokok dan mengerti maknanya? Atau perlukah adikku yang membacakannya untuk kalian???
Hmm… Entah kapan kalian akan sadar…

Sabtu, 23 Juni 12