Tentang Rasa


Ada yang bilang
“rasa itu tidak untuk dianalisa, tapi untuk dirasakan”.

 

Tidak salah.

Rasa ya rasa. Rasakan saja apa yang dirasa. Tak perlu dipikirkan. Tak perlu dicari alasan.

Saat sedih, maka menangislah. Saat senang, maka tertawalah. Suka, bahagia, kesal, marah, katakan saja, tak perlu ditutupi. Karena memendamnya hanya akan membebani hati.

 

 

Tapi, entah, menurutku pun tak sepenuhnya benar.

Karena ada hal-hal yang membuat sebuah rasa tak cukup pantas untuk ditujukan kepada orang tertentu. Ada hal-hal yang membuat sebuah rasa tak elok diungkapkan di waktu tertentu. Ada hal-hal yang membuat sebuah rasa tak bisa diungkapkan dengan cara tertentu. Ada hal-hal yang membuat sebuah rasa dipandang berbeda oleh beragam kepala.

 

Analisa membuat kita tahu,

apakah rasa ini benar seperti yang kita sangka, apakah rasa ini memang seharusnya kita rasa, apakah rasa ini sudah ditujukan ke orang yang tepat, atau apakah rasa ini pantas diungkapkan dengan kalimat.

 

Analisa ada agar kita tahu rasa apa yang dirasa dan bagaimana menyikapinya.

Analisa ada supaya kita tak terjebak.

 

Jadi kurasa, analisa itu perlu, walau memang adanya rasa adalah untuk dirasa. Dan terkadang, rasa itu lah yang kemudian mengalahkan logika analisa.

 

Jadi???!!! Entahlah. Aku pun saat ini sedang meraba rasa, apakah perlu dianalisa atau tidak. :mrgreen:

Mencari alasan


Kayak judul lagunya exist ya??!! Eh, aku suka lho sama lagu lawas itu. :mrgreen:

Ngomong-ngomong, ada yang merhatiin ngga sih perubahan widget di sidebar blogku?? (kayaknya sih ngga ada yaa.. :mrgreen:). Sejak bulan lalu, aku udah ngga majang kalender lagi disana. Kenapa? Karena memang aku sudah sangat amat jarang meninggalkan jejak at ‘my home sweet home’ ini. Kehadiran kalender pun mulai kurasa tak ada guna. Justru malah semakin memperjelas kekosongan menulisku. Tapi sebenarnya membuang kalender juga tak mengubah apapun, karena widget archive yang menampilkan jumlah tulisan setiap bulan masih berdiri angkuh disitu. 😛

Bobroknya produktivitas menulisku dalam beberapa bulan ini membuatku merasa sangat berdosa. Tidak, aku tidak berlebihan. Memang itu yang kurasa. At least, aku merasa bersalah pada diriku sendiri. Kemana perginya seorang aku yang dulunya begitu “mendewakan” kegiatan blogging, kemana perginya seorang aku yang ngakunya tak pernah kehabisan ide, kemana larinya seorang aku yang katanya begitu gemar menulis, kemana larinya seorang aku yang bercita-cita jadi penulis. Ah, seorang aku itu ternyata hanya seorang yang pandai bicara, pandai membual, tanpa tindak yang nyata.

Memang sih, memosting tulisan itu ngga harus tiap hari. Apalagi kalau bisa memproduksi tulisan bermutu setiap kali post walaupun jarang-jarang. Tapi bagiku, menulis itu terapi tersendiri bagi kondisi kejiwaanku. Maka wajar saja bila akhir-akhir ini aku hampir selalu didera dengan yang namanya bad days. Tak lagi kurasakan kebahagiaan yang berlipat seperti saat aku sering posting dulu. Ada yang hilang saat aku melepas hobiku satu itu, ada yang menggumpal dalam kepalaku membentuk sejumput stress dalam hari-hariku. Dan memang sudah seharusnya antara masukan dan keluaran itu harus seimbang kan??!!!

Tapi aku mengabaikan salah satu faktor pemicu kebahagiaanku itu dengan berlindung dibalik sebuah tembok alasan.

Sibuk. Padahal semua orang yang dalam hidupnya punya tujuan, tentu sibuk.

No connection internet. Padahal hanya sebentar saja koneksi yang dibutuhkan untuk publish sebuah posting.

Nyatanya alasan-alasan itu hanya dibuat-buat, hanya rekaan. Alasan sebenarnya adalah MALAS. Dan aku mencari alasan untuk membenarkan rasa malasku. Itulah yang ingin aku bahas disini. Mencari alasan.

Disadari atau tidak, sebenarnya kita (khususnya aku) sering sekali mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakan kita. Kita sibuk mencari pembenaran. Padahal menurut mommy ku tercinta, “Alasan Memperjelas Kesalahan”. Ya, saat salah, kebanyakan orang (termasuk aku) justru mencari alasan untuk pembelaan diri. Salah ya salah. Kenapa tidak akui saja kesalahannya? Dalam kasusku pun begitu. Malas ya malas saja. Seharusnya aku tidak perlu mengkambing hitamkan koneksi internet maupun kegiatanku yang lain.

Dengan mencari alasan, sebenarnya tak ada yang dirugikan selain dirinya sendiri. Mencari alasan berarti membiarkan diri sendiri kalah pada keadaan. Padahal alasan itu tidak akan mengubah keadaan, kita sendirilah yang seharusnya beradaptasi dengan keadaan.

Coba aku punya “ini” … .

Kalau pakai “ini” sih enak … .

Ntar aja lah kalau udah ada “itu” … .

Jelas aja dia bisa, dia kan punya “itu” … .

Kata-kata itu hanya membuat pribadi menjadi lemah dan tidak berkembang. Dan itu adalah salah satu faktor menjauhnya kesuksesan, ciri mental seorang pecundang.

Ia ngga sih? Menurutku sih iya.

Ibaratnya, ngga perlu punya mobil dulu untuk bisa nyetir, yang punya aja belum tentu bisa kan?

Dan begitulah seharusnya aku. Kalau ingin sukses, seharusnya aku memanfaatkan setiap kesempatan yang datang dan bukan mencari alasan demi memanjakan kemalasan, bukan begitu?

Dan kali ini, kesempatan itu kembali datang. Empat orang terdekatku (dua tetangga, satu teman kantor, satu teman kursus) sempat berharap aku bisa membuatkan baju untuk mereka. Bahan pun sudah ada di depan mata.

Kenyataan bahwa mereka percaya padaku itu seharusnya membuatku bangga kan? Tapi alih-alih mensyukurinya dengan merespon permintaan itu dengan baik, aku justru memandang rendah pada diriku. Aku merasa tak mampu dan takut membuat mereka kecewa. Apalagi peralatan yang kumiliki, kunilai tak cukup baik untuk menghasilkan output yang baik. Dan rasa malas membuatku berlindung dibalik sebuah alasan,

“nanti saja kalau aku sudah punya benda paling kuidam-idamkan ini, baru aku terima order, biar lebih mudah dan hasilnya lebih bagus”

Padahal entah kapan messina itu jadi milikku, dan entah kapan kesempatan serupa akan datang kembali padaku. Sementara waktu tetap berjalan. Mimpi tak boleh padam. Lalu kapan aku bisa menjadi “pemenang” bila terus menerus mencari alasan??!!

 

 

*post ini didedikasikan untukku, berharap bisa serupa sebuah ciuman pangeran yang membangunkan si putri tidur ini dari pengaruh apel biusnya*

Alasan terkonyol


***

Alkisah, ada sepasang kekasih muda yang sedang sholat berjamaah. (indah bukan?)

Lalu terbentuklah sebuah kondisi dimana sang hawa bisa dengan mudah mengakses dompet kekasihnya. Dan entah kebetulan atau memang disengaja, saat itu, tak ada selembar uang pun dalam dompet itu. Beberapa hari kemudian, sang hawa mengakhiri hubungan mereka. (dan keindahan pun sirna)

***

Bisa menangkap inti dari cerita di atas?

Ya. Si cewe memutuskan hubungan hanya karena tak ada uang dalam dompet pacarnya. Sumpah, rasanya ngga pengen berhenti ngakak denger cerita itu.

Tak pernah terlintas sedikitpun di benakku akan melakukan hal seperti itu. Yang benar saja, putus hanya karena dompet?? Bhuahahaha… Itu alasan terkonyol yang pernah aku dengar dalam suatu cerita cinta yang kandas.

Dan menurutku, si gadis memang sangat konyol dan terlalu terburu-buru (ckckck). I mean, kenapa dia tidak berfikir panjang terlebih dahulu. Seharusnya dia meneliti dan mengamati lebih lanjut. Bisa saja kan dompet aslinya ketinggalan di rumah. Atau dia abis kena palak preman, atau walaupun sedang tidak ada cash, tapi kartu ATMnya bejubel, dan ternyata ada jutaan rupiah di dalamnya. Wkwkwkwk… 😆

Dasar wanita!! #eh. 😛

***

Eits, ini kisah nyata lho sodara-sodara. Diceritakan langsung oleh sang adam padaku. Hihihi.. Kalau mengingatnya, aku bahkan masih suka geli sendiri.

Yeah, what a pity he is, but so lucky too. Setidaknya dia tidak perlu berlama-lama menjalin hubungan dengan hawa yang seperti itu. 😛

C’mon boys, tak perlu disedihi lah kisah yang seperti itu. Tak semua tipe hawa seperti itu. Tipe hawa yang cerdas adalah yang matrenya ngga keliatan. #oops

Hahaha…

*jangan diseriusi lho pernyataan ini* 😉