Jodoh Dunia Akhirat


Assalamu’alaikum Ghea
Waktu dan cuaca berubah
Tapi, keyakinan dalam hatiku tidak
Dia, terus tumbuh setiap hari tersiram doa
Keyakinan ini menguatkanku untuk terus memantaskan diri
Demi terwujudnya sebuah impian
Mimpi yang dulu sempat aku lepaskan
Mimpi tentang seseorang yang akan menjadi penyempurna agamaku di masa depan
Doa-doaku setiap malam memohon pada Allah untuk menunjukkan
Dan aku, aku tetap melihatmu, ada di masa depanku
Kamu, tetap menjadi impianku
Ghea, apakah kamu bersedia menjadi penyempurna agamaku?


Jodoh Dunia Akhirat
oleh: Kang Abay

Kumerayu pada Allah yang tahu isi hatiku
dimalam hening aku selalu mengadu
Tunjukan padaku…

Kuaktifkan radarku mencari sosok yang dinanti
Kuikhlaskan pengharapanku dihati
Siapa dirimu…

Dalam kesabaran kumelangkah menjemputmu
Cinta dalam hati akan aku jaga hingga
Allah persatukan kita….

Reff :
Jodoh Dunia Akhirat
Namamu rahasia
Tapi kau ada dimasa depanku

Kusebut dalam doa
Kuikhlaskan rinduku
Kita bersama melangkah ke surga, abadi…

“Bukan cinta yang memilihmu, tapi Allah yang memilihmu…Untuk kucintai…”

Download Jodoh Dunia Akhirat

O-D-O-J awal keajaiban


Soal baca Al-qur’an, dari kecil aku sudah lancar. Bahkan sebelum TK pun sudah khatam. Daaan #pamer dikit aaahhhh…. pernah memenangkan lomba MTQ se kotif Depok lho. 😳 tapi waktu masih TK, hehe… #desigh

Tapi ternyata, antara bisa dan rajin itu ga selalu berbanding lurus. Kemampuanku tak lantas membuatku rajin membacanya. *helanafas*

Waktu kecil sih ia, bisa berkali-kali khatam. Tapi beranjak dewasa? Jangan tanyakan. *melengos*

Tapi rupanya, Allah berkenan menjadikanku pribadi yang lebih baik. Dia mengenalkanku dengan ODOJ lewat group YISCku.

Apa tuh ODOJ?
ODOJ, One Day One Juz. Sebuah komunitas yang mengharuskan membernya untuk membaca 1 juz Al-Qur’an dalam sehari. Dimana laporannya via whatsapp group saja. Well, tak perlu waktu lama untukku memutuskan bergabung. Begitu membaca broadcastnya, langsung saja aku mendaftar. Ini yang aku butuhkan. Sebuah dorongan, media untuk bisa melecut aku agar rajin tilawah.

Hari pertama aku tak mengalami kesulitan yang berarti. Hari kedua, ketiga, dan seterusnya pun begitu. Karena memang aku ngga tilawah bukan karena ngga lancar membacanya, bukan pula karena tak ada waktu, tapi karena malas. Penyakit satu itu memang demen banget nempel padaku. *tutupmuka*

Kalau ditanya, pernahkah bolong sehariiii aja??? Alhamdulillahnya engga *blush* tapi kalau diserang malas, ya sering *hihihi*. Kalau malesnya datang, aku bakal ngerasa 1 juz aka 10 lembar itu banyaakksss bingitsss.. *fiuh* #sambil bolak balik halaman yang tampak tak berkurang.

Tapi setelah itu, aku langsung liat jam, sambil merenung. Cuma butuh waktu +- 5 menit untuk bisa melahap 1 set lembar. Itu waktu yang tak lama, setara dengan waktu yang aku habiskan untuk mengkhayal *eh* :P. Dan setelah itu, setelah sadar bahwa 1 juz bisa diselesaikan ngga sampe 1 jam, godaan syaithon pun berhasil kutepis *ciyaaat* berhasillah aku selesaikan jatah juz ku hari itu *girang*.

Dan sekarang, udah sekitar setengah tahun aku gabung ODOJ. Aku tak lagi menghitung berapa kali aku khatam. Mengalir saja. Tapi buat aku, ODOJ ini sesuatu banget. Dari aku yang nyaris ngga pernah tilawah, jadi bisa khatam sekali sebulan teruuss terusaan… Semoga tetap istiqomah. *aamiin*

Tapi yaa, entah memang ciri khas Indonesia atau bagaimana, media kebaikan seperti ini pun masih saja bikin kontroversi. Tadinya aku ngga tahu, sampai suatu hari dapet broadcast tentang beberapa tokoh agama (baca:ustad) yang mempermasalahkan niat tilawah bagi para member ODOJ. Khawatir menjadi riya. Begitu kurang lebih intinya.

Yah, kalau aku sih, ngga mau ambil pusing yaa. Soal riya atau engga, itu soal hati. Soal hubungan manusia dengan Robb-nya. Menurutku ngga tepat bila batal melakukan kebaikan karena takut riya. Karena tau ngga? Menjaga ikhlas itu syulit. Ikhlas diawal belum tentu bisa ikhlas sampai akhir. Nah, daripada sampai ajal menjemput, aku ngga pernah tilawah hanya karena takut riya, mendingan ikut ODOJ yang bikin aku bisa tilawah tiap hari sekalipun dituding riya *nyengir*. Karena niatku, semoga dengan ikut ODOJ jadi bisa terbiasa membaca Al-quran. Bisa mendapat berbagai manfaat dari Al-Qur’an.

Memangnya apa sih manfaat membaca Al-Qur’an??
Waaah… Banyak sudah artikel yang menjabarkan panjang lebar tentang itu. Kalau buat aku, cukup 2 hadits ini yang bisa jadi motivasi diri:

1. Abu Umamah al-Bahili ra berkata, Aku mendengar Rosululloh saw bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena ia akan memberikan syafaat kepada para “sahabatnya”.” HR Muslim No. 1337.
Dihari dimana tiada naungan selain naungan-Nya, dihari dimana seorang ayah tak bisa menolong anaknya, begitupun sebaliknya, disitulah aku perlu syafaat yang bisa menolongku. Dan semoga bacaan Al-Quran ku yang standar banget itu bisa jadi penolong di akhirat nanti. *senyum*

2. Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rosululloh saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur’an), maka ia akan mendapatkan 1 kebaikan, dan 1 kebaikan akan dibalas dengan 10 x lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu 1 huruf, tetapi alif 1 huruf, lam 1 huruf, dan mim 1 huruf.” HR At Tirmidzi No. 2910.
Bayangkan, kalau hanya dengan membaca bismillahirrohmanirrohim saja, aku sudah membaca 19 huruf, yang berarti melakukan 19 kebaikan, yang mudah-mudahan mendapat minimal 190 kebaikan sebagai balasan! Hmmm.. Apalah lagi 1 juz. Jutaan huruf. Jutaan kebaikan. *hope*. Well, kebaikan itu kan ngga harus materi secara tersurat ya. Di awal hari, bangun dalam keadaan segar bugar, kebaikan. Makan tidak tersedak, kebaikan. Nyebrang jalan dengan selamat, kebaikan. Nunggu debbie ngga pake kelamaan dan dapet duduk, kebaikan. Ngga diomelin pak bos, kebaikan. Pun dosa-dosa diampuni, kebaikan. Aduh, kl ditulis lebih detail, bisa keriting tangan >.< .

Yang jelas, dua hadits itu udah lebih dari cukup bagiku sebagai alasan kenapa harus baca Al-Qur'an. Hadits pertama untuk kebaikanku di akhirat, hadits kedua untuk kebaikanku di dunia. It's enough.

Balik ke ODOJ,
Ustad yang ngisi pengajian di kantor aku pernah bilang gini,
“Baca Al-Qur’an itu sesempatnya, saat ada waktu banyak, baru dibaca. Ga usah target banyak-banyak dalam sehari. Tapi usahakan dalam satu tahun itu bisa khatam minimal 3x. Itu diluar bulan ramadhan ya. Kl bulan ramadhan ya sekali.”

Wah, Ustad, tanpa mengurangi rasa hormat, aku keberatan dengan pernyataan ustad. Kalau nunggu waktu banyak, mau kapan? Waktu ngga akan bertambah. 24 jam setiap harinya. Pun kalau nunggu waktu luang. Lah, Allah aja ngasih rezeki kita ngga nunggu waktu luang kok, dengerin doa-doa kita ngga nunggu sempat, masa hamba-Nya yang malah sok sibuk? Siapa kita?? *geleng-geleng*

Terlepas dari perbedaan pendapat beberapa kalangan, aku tetap pada pendirianku. Dan udah kubuktikan khasiatnya. Gabung ODOJ itu selain bikin aku teratur baca Al-Qur’an, juga jadi nambah teman, nambah ilmu, dan berbagai kebaikan lainnya. Terbukti, setelah beberapa bulan aku rutin tilawah, beberapa impianku menjadi nyata. Misal, aku dipertemukan dengan seseorang yang semoga menjadi sahabat dunia akhiratku, lalu untuk pertama kalinya aku nyemplung ke kolam berenang, punya printer yang bisa scan copy, bla..bla..bla.. sampai hal-hal kecil yang kalau diingat-ingat, itu adalah keinginanku dari dulu. Perlahan, semua pintu seakan mulai menampakkan isinya. Semua jalan tampak mulai terbentang. Ah, pokoknya rasakan sendirilah bagaimana keajaiban Al-Qur’an.

Buat yang belum tahu ODOJ tapi tertarik, datang aja ke Grand Launchingnya tanggal 4 Mei 2014 nanti di Istiqlal. Nih, flyer-nya. Jangan khawatir, tidak dipungut biaya kok. Semua sudah aku bayarin. Hohoho 😎 maksudnya dana murni dari member ODOJ. 😀

Baiklah. Semangat menuju kebaikan!!!
Salam cinta Qur’an. :*

image

Mereka adikku =^^=


Kalau banggain diri sendiri kayaknya udah sering ya kupost disini. Naah, kali ini mau berbangga atas prestasi adikku nih.

Minggu, 7 April 2013 (ketauan dech draft post udah lama :P)

Di Masjid tempat aku belajar tahsin-tahfizh, LTQ namanya, diadakan Majlis Qur’an. Daaaan, adikku (yang memang sudah hampir hafal seluruh juz 30) diberi kepercayaan untuk tampil membawakan salah satu surat dalam Juz 30 tanpa membaca Al-qur’an. Uci (7) kebagian surat ‘Abasa, Dika (5) kebagian surat An-Naziat.

Tadinya aku yang deg deg an gitu. Secara mereka kan jarang banget tampil di depan. Khawatir mereka lupa atau jadi speechless saking gugupnya (soalnya mba’nya begitu :P). Tapi kecemasanku lenyap seketika saat melihat mereka tampil dengan tenangnya.

Andhika, duduk bersila dengan gaya cool khas cowo :mrgreen: dan membacakan surat tanpa beban. Tanpa kesalahan!! Sempat heran, karena kalau dilihat ekspresinya, dia seperti ngga mikir, bengong aja gitu ngeliatin orang-orang di depan. Bibirnya kayak bergerak otomatis. Dengan penuh percaya diri, dia menegakkan pandangan ke depan, memegang mix yang kok kayaknya gedean mix-nya daripada adekku :lol:, dan melantunkan surat dengan lantang dan mengalir. Terkejut campur bangga aku melihatnya. Lebih dari apa yang aku harap dia tampilkan. (Sayang saat itu aku tidak terpikir untuk mem-video-kannya).

Sedangkan Uci, dengan suara yang juga tanpa getar, membaca dengan terus memandang pembimbingnya. Lucu melihatnya. Seakan-akan di wajah pembimbingnya itu ada Al-Qur’annya.

Tapi Alhamdulillah, keduanya berhasil melewati tantangan itu dengan baik dan lancar. Salutku pada mereka. Tak nampak ketakutan dan kegugupan di wajah dan sikap mereka.

Apa itu karena mereka masih kecil??

Karena dulu, waktu TK (atau SD?), aku pun pernah ikut lomba MTQ tingkat kotif Depok dan menjadi juara 1. Aku tidak ingat kalau saat itu aku merasa nervous, ketakutan, ngga berani tampil, dan sebagainya. Yang kutahu, aku tampil ya tampil aja. Al-Qur’an yang terpampang di depanku, yang seharusnya kubaca, malah kuabaikan. Mataku jelalatan kemana-mana karena memang surat yang dibaca sudah kuhafal di luar kepala. Mungkin karena waktu itu masih polos dan ngga ngerti apa-apa kali yaa, jadi merasa PD aja, mungkin begitu juga dengan adik-adikku sekarang.

Berarti memang betul kata pepatah (?), semakin besar, semakin tahu, semakin banyak perhitungan, semakin banyak pertimbangan, semakin payah. Karena diriku pun semakin besar malah semakin ngga berani tampil. Suruh aku memberi sambutan di depan 20 orang saja, hampir pasti aku akan kabur dan ngga muncul-muncul lagi. Hahaha… 😆

Hmm.. Menjadi PR bagiku untuk mendidik adikku tidak menjadi penakut sepertiku. Mereka harus dibiasakan sering tampil agar terus berani sampai besar nanti. Bagaimana caranya ya? Ada yang tahu??

Overall, mereka telah membuatku bangga. Sangat bangga. Dan semoga kelak mereka akan terus membuat keluargaku bangga.

Jadi anak sholeh-sholehah ya sayang. Semoga Alloh selalu menjaga kalian. Semoga hafalan Qur’an kalian terus terjaga, meningkat, dan bisa menjadi naungan di akhirat kelak. Aamiin.