Review NHW#1


Review NHW #1

📚ADAB SEBELUM ILMU📚

Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional
Apa kabar bunda dan calon bunda peserta Matrikulasi IIP Batch #2?

Tidak terasa sudah 1 pekan kita bersama dalam forum belajar ini. Terima kasih untuk seluruh peserta yang sudah “berjibaku” dengan berbagai cara agar dapat memenuhi “Nice Homework” kita. Mulai dari yang bingung mau ditulis dimana, belum tahu caranya posting sampai dengan hebohnya dikejar deadline:). Insya Allah kehebohan di tahap awal ini, akan membuat kita semua banyak belajar hal baru, dan terus semangat sampai akhir program.

Di NHW#1 ini, tidak ada jawaban yang benar dan salah, karena kita hanya diminta untuk fokus pada ilmu-ilmu yang memang akan kita tekuni di Universitas Kehidupan ini. Yang diperlukan hanya dua yaitu FOKUS dan PERCAYA DIRI. Jangan sampai saat kuliah dulu kita salah jurusan, bekerja salah profesi, sekarang mengulang cara yang sama saat menapaki kuliah di universitas kehidupan, tapi mengharapkan hasil yang berbeda. Kalau pak Einstein menamakan hal ini sebagai “INSANITY”

INSANITY : DOING THE SAME THINGS OVER AND OVER AGAIN, AND EXPECTING DIFFERENT RESULT – Albert Einstein

Setelah kami cermati, ada beberapa peserta yang langsung menemukan jawabannya karena memang sehari-hari sudah menggeluti hal tersebut. Ada juga yang masih mencari-cari, karena menganggap semua ilmu itu penting.

Banyak diantara kita menganggap semua ilmu itu penting tapi lupa menentukan prioritas. Hal inilah yang menyebabkan hidup kita tidak fokus, semua ilmu ingin dipelajari, dan berhenti pada sebuah “kegalauan” karena terkena “tsunami informasi”. Yang lebih parah lagi adalah munculnya penyakit “FOMO” (Fear of Missing Out), yaitu penyakit ketakutan ketinggalan informasi. Penyakit ini juga membuat penderitanya merasa ingin terus mengetahui apa yang dilakukan orang lain di media sosial. FOMO ini biasanya menimbulkan penyakit berikutnya yaitu ”NOMOFOBIA”, rasa takut berlebihan apabila kehilangan atau hidup tanpa telepon seluler pintar kita.

Matrikulasi IIP batch#2 ini akan mengajak para bunda untuk kembali sehat menanggapi sebuah informasi online. Karena sebenarnya sebagai peserta kita hanya perlu komitmen waktu 2-4 jam per minggu saja, yaitu saat diskusi materi dan pembahasan review,  setelah itu segera kerjakan NHW anda, posting dan selesai, cepatlah beralih ke kegiatan offline lagi tanpa ponsel atau kembali ke kegiatan online dimana kita fokus pada informasi seputar jurusan ilmu yang kita ambil. Hal tersebut harus diniatkan sebagai investasi waktu dan ilmu dalam rangka menambah jam terbang kita.

Katakan pada godaan ilmu/informasi yang lain yang tidak selaras dengan jurusan yang kita ambil, dengan kalimat sakti ini :

MENARIK, TAPI TIDAK TERTARIK

Apa pentingnya menentukan jurusan ilmu dalam universitas kehidupan ini?
JURUSAN ILMU YANG KITA TENTUKAN DENGAN SEBUAH KESADARAN TINGGI DI UNIVERSITAS KEHIDUPAN INI, AKAN MENDORONG KITA UNTUK MENEMUKAN PERAN HIDUP DI MUKA BUMI INI.

Sebuah alasan kuat yang sudah kita tuliskan kepada pilihan ilmu tersebut, jadikanlah sebagai bahan bakar semangat kita dalam menyelesaikan proses pembelajaran kita di kehidupan ini.

Sedangkan strategi yang sudah kita susun untuk mencapai ilmu tersebut adalah cara/kendaraan yang akan kita gunakan untuk mempermudah kita sampai pada tujuan pencapaian hidup dengan ilmu tersebut.
Sejatinya, SEMAKIN KITA GIAT MENUNTUT ILMU, SEMAKIN DEKAT KITA KEPADA SUMBER DARI SEGALA SUMBER ILMU, YAITU “DIA” YANG MAHA MEMILIKI ILMU. Indikator orang yang menuntut ilmu dengan benar adalah terjadi perubahan dalam dirinya menuju ke arah yang lebih baik.  

Tetapi di  Institut Ibu Profesional ini, kita bisa memulai perubahan justru sebelum proses menuntut ilmu. Kita yang dulu sekedar menuntut ilmu, bahkan menggunakan berbagai cara kurang tepat, maka sekarang berubah ke Adab menuntut ilmu yang baik dan benar, agar keberkahan ilmu tersebut mewarnai perjalanan hidup kita.

MENUNTUT ILMU ADALAH PROSES KITA UNTUK MENINGKATKAN KEMULIAAN HIDUP, MAKA CARILAH DENGAN CARA-CARA YANG MULIA

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber Bacaan :

Hasil Penelitian “the stress and wellbeing” secure Envoy, Kompas, Jakarta, 2015

Materi “ADAB MENUNTUT ILMU” program Matrikulasi IIP, batch #2, 2016

Hasil Nice Home Work #1, peserta program Matrikulasi IIP batch #2, 2016

#Putri Nur Fauziah A_NHW1


📚NICE HOMEWORK #1📚

ADAB MENUNTUT ILMU

Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional Batch #2, kini sampailah kita pada tahap menguatkan ilmu yang kita dapatkan kemarin, dalam bentuk tugas.

Tugas ini kita namakan NICE HOMEWORK dan disingkat menjadi NHW.

Dalam materi “ADAB MENUNTUT ILMU” kali ini, NHW nya adalah sbb:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

*Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia*

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/


#Putri Nur Fauziah A_NHW1

  1. Dulu, menjelang kelulusan SMA, saya begitu bingung menentukan jurusan apa yang akan diambil dalam pengisian lembar SPMB. Namun, seiring usia, setelah melihat realita kehidupan dan kebutuhan, saya baru menemukan begitu banyak hal yang ingin dipelajari, terutama yang berkaitan dengan cita-cita saya: “Ibu Rumah Tangga biasa yang Luar Biasa”. Ilmu rumah tangga, parenting, pendidikan anak, kesehatan, komunikasi wanita dan pria, kuliner, design, shiroh nabawiyah, bahasa arab, dll. Keinginan untuk mempelajari banyak hal tersebut mendorong saya untuk mengikuti aneka perkuliahan informal baik offline maupun online (workshop, seminar, kulwap, dll). Namun pada akhirnya justru membuat saya tidak fokus dan tidak bisa benar-benar menguasainya. Sekarang saya mencoba untuk lebih rasional dan mendahulukan mempelajari ilmu yang lebih bisa berguna untuk kondisi saya saat ini. Dan karena Allah belum berkehendak untuk mempertemukan saya dengan jodoh saya, maka saya pinggirkan dulu keinginan terkait cita-cita saya itu dan memilih untuk lebih memahami dan mengembangkan kemampuan dan kreativitas saya di bidang craft and sewing.
  2. Kenapa? Karena sebagai awal untuk mencapai cita-cita saya, maka saya diharuskan untuk punya kemampuan berkarya dan menghasilkan sesuatu dari dalam rumah. Saat sebelum menikah, ilmu tersebut bisa digunakan untuk menafkahi diri sendiri. Setelah menikah, ilmu tersebut juga bisa digunakan untuk keluarga sendiri. Dan saat diri sendiri maupun keluarga sudah tertata rapi, maka ilmu tersebut bisa saya tularkan kepada orang lain sebagai tujuan akhir dari cita-cita saya: bermanfaat bagi sesama.
  3. Saya mengikuti komunitas crafter sesuai domisili. Mengikuti workshop, membeli buku craft, mencari sumber kreatifitas dan ilmu dari dunia maya, serta berguru langsung dengan sesama wanita yang sudah lebih dahulu berkecimpung di dunia craft and sewing.
  4. Saya ingin memperbaiki kebiasaan saya yang menunda-nunda pengaplikasian ilmu tersebut. Selama ini seringkali saya mencari dan mengumpulkan materi tapi tidak langsung mempraktikannya. Saya juga akan berusaha untuk tidak pelit ilmu dan menghormati “guru” yang secara langsung maupun tidak langsung telah menginspirasi saya.

Tanya Jawab Matrik IIP #1


Tanya Jawab
1⃣Poppy
saya masih belum terbayang di praktiknya.
Contoh, mengajarkan sesuatu/pelajaran sekolah (murid di sekolah atau anak sendiri di rumah), dari sisi pengajar alangkah menyenangkannya mengajarkan materi kepada anak yg duduk tenang diam senyum manis menyimak dgn seksama.
tapi kenyataannya tidak seperti itu… .
Di lain waktu, muncul teori gaya belajar anak yg memang tidak semua tahan utk duduk diam menyimak. Bagaimana menghubungkan hal tersebut?
1⃣memang saat kita mengajarkan sesuatu.. kita harus tahu dulu apa yang akan kita sampaikan.. dengan cara yang tentunya juga disesuaikan dengan objek yang mau kita ajarkan..
Tentunya saat mengajar tidak selalu mulus jalannya dan gaya belajar muridpun beda-beda.
Ada baiknya kita sampaikan yang secara umum dulu seperti biasa. Bila yang sebagian besar sudah menerima. Maka kemudian fokuskan kepada yang belum bisa menerima. Maka apa yang kita ajarkan pun bisa tersampaikan dengan baik..✅

2⃣Iya
Saya mau menanyakan adab pertama dalam menuntut ilmu itu adalah ikhlas ya..bagaimana cara kita untuk menumbuhkan rasa ikhlas itu dan apa saja trik-trik untuk bisa ikhlas dalam menuntut ilmu
2⃣Salah satu triknya bisa dengan melakukan tazkiyatun nafs (mensucikan diri), bagi sebagian orang merenung setelah melakukan ibadah adalah saat yang tepat untuk membersihkan hati, menguatkan niat termasuk niat dalam menuntut ilmu.
Dan juga menyadari bahwa kita ini adalah manusia yang diberi akal oleh Tuhan agar dipakai untuk berpikir dan belajar menjadi makhluk sosial yang memberi manfaat untuk orang lain ✅

3⃣Febi
Bagaimana melatih anak untuk dapat menahan diri agar tidak berbicara (dengan orang di sebelahnya) saat orang lain sedang bicara (adab mendengarkan orang yang sedang bicara)?
3⃣Memberikan teladan kepada anak, bukan sekedar memberi pengajaran melalui verbal bunda, karena..
“Anak bisa saja salah memahami yang kita ajarkan kepadanya, tapi anak takkan pernah salah meng-copy perilaku kita”
Misal, ketika sedang diberikan arahan oleh suami, kita hanya mendengar dengan malas-malasan atau menjawab seadanya tanpa rasa hormat dan perhatian yang besar..
Jangan berharap ketika di sekolah anak bisa punya adab yang baik kepada gurunya, walau setiap hari kita berkata ‘hormati gurumu’.
Mari belajar untuk jadi bunda pembelajar☺ ✅

4⃣ Wiwit
Saya menjadi paham juga bahwa prinsip tersebut juga sebaiknya diterapkan kepada anak kita.
Sebaiknya di umur berapa anak mulai diajarkan prinsip adab sebelum ilmu tersebut yang efektif dan anak paham
4⃣mulai dari usia o-7 tahun sudah bisa dicontohkan adab..
Di usia ini sudah dikenalkan siapa Tuhannya yang menciptakannya.. dan menanamkan keimanan lewat kegiatan bersama anak sehari-hari..✅

Lihat tabel ini..
Tabel Perkembangan Anak

5⃣Devina
Bagaimana caranya supaya guru ridho dengan kita? Dan bagaimana kita tahu kalau guru ridho dengan kita
5⃣Di antara bentuk penghormatan kepada guru adalah dengan berbicara sopan santun kepadanya, merendahkan diri kepadanya, mengucapkan salam, serta menjabat tangannya (mencium tangannya), mengerjakan apa yang dimintanya tanpa banyak mengeluh, tidak mendebatnya secara berlebihan, tidak mengganggunya jika ia tidak berkenan, tidak menggunjingnya dibelakangnya dan sebagainya. (Menurut Imam Al Ghazali)
Jika guru ridho dengan kita maka kita lebih mudah mendapatkan ilmu darinya dengan baik dan lancar.. ✅

6⃣Diyan
Pada bagian “adab terhadap sumber ilmu” poin b & c.
Hal ini terutama biasanya buku-buku lama terbitan dalam maupun luar negeri. Dulu semasa kuliah, di sekitar kampus biasanya ada yang memperjualbelikan handbook kopian yg sudah dijilid rapi, tentunya dengan harga yang lebih murah dibanding aslinya. Sekarang pun itu masih marak ternyata. Bagaimana cara menyikapinya? Di perpustakaan juga belum tentu ada handbook itu.
6⃣Plagiat atau pembajakan terhadap suatu hasil karya itu tidak diperbolehkan di Indonesia. Kalau masih bisa kita cari dan beli.. sebaiknya beli bukunya yang asli. Atau bisa pilih buku yang lain yang isinya sama walau tidak sama persis. Daripada kita melegalkan plagiat ✅

7⃣Suci
Bagaimana cara yang baik dalam memberi tahu seseorang terutama yang lebih tua (misal: orang tua, kakek, nenek) jika informasi yang disebarkan ternyata tidak benar/hoax. Niat memang baik berbagi ilmu atau info tapi lebih banyak langsung copas tanpa ngecek kebenarannya. Karena saya pernah mencoba memberi tahu secara japri hanya saja pendapatnya kurang didengar
7⃣Ada orangtua yang memang biasanya agak sulit dikoreksi atau dikritik, (kadang jika melihat diri sendiri kita pun tidak suka dikoreksi dengan anak-anak, karena merasa sudah banyak pengalaman hidup)..
Maka kita harus tahu cara yang baik dalam menyampaikannya.. dengan bahasa yang lemah lembut, dengan contoh sebab akibat yang sudah pernah terjadi dari kesalahan itu, atau meminta kepada orang yang sebaya yang hampir seusia orangtua kita misal dengan bantuan saudara dari orangtua kita, bibi atau paman kita. Atau perlihatkan sumber-sumber berita yang bisa menjadikan referensi dalam menyebar berita melalui gambar-gambar yang mudah dipahami oleh orangtua kita ✅

8⃣Rina
Ketika ilmu sudah didapatkan dan kemauan untuk berubah lebih baik sudah dimiliki, seringkali tidak langsung bisa menerapkan. Bagaimana caranya agar harmonis, sinergis untuk memulai menerapkan pada diri?
8⃣ Mendapatkan ilmu – lakukan – lakukan dan lakukan.. maka Tuhan yang akan menilai usaha kita..
seperti kata bu Septi ini..
“Lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita” ✅

9⃣Tantia
Mohon dijelaskan maksud karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan…
9⃣Adab itu adalah sesuatu yang kita lihat dari orang-orang disekitar kita. Maka, Adab kita saat ini tidak beda jauh dengan apa yang sudah dicontohkan oleh orangtua kita, guru kita, bahkan keluarga besar kita.
Dan Adab tidak bisa diajarkan dalam waktu singkat.. tapi secara terus-menerus dalam kehidupan kita sampai kita mati. Tinggal nanti kita sendiri yang menentukan adab kita, mau jalani contoh yang mana.. ✅

1⃣0⃣ Rieni
^ Bagaimana adabnya datang ke kajian membawa balita jika berada di ruang publik, seperti masjid terbuka misalnya, karena ada perasaan khawatir mengganggu kondisi belajar yang lain
^ Baiknya utamakan mana jika dihadapkan pada 2 pilihan, menghadiri kajian rutin pekanan meninggalkan anak di titip suami/art di rumah atau tetap bersama anak baik di ajak datang ke kajian atau tidak datang ke kajian
1⃣0⃣ Tergantung sikon, jika dalam majelis tersebut diperkenankan membawa anak, silakan bawa..
Tapi kalau ada aturan dilarang membawa anak, maka ajak ngobrol suami dulu, sebaiknya bagaimana, jika suami tidak keberatan menjaga anak alhamdulillah, karena saat anak kita titipkan kepada suami maka anak pun sedang belajar adab dari ayahnya.
Atau jika ada ART yang bisa diberikan amanah menjaga buah hati alhamdulillah,
Tapi jika tidak dapat dua-duanya bisa jadi belum waktunya bunda hadir di majelis ilmu tersebut,
sementara bisa diganti dengan mengikuti kajian di radio, tv streaming internet atau kuliah online semacam Matrikulasi ini 😁✅

1⃣1⃣ Tria
Waktu masih kuliah dulu, saya tidak mampu membeli buku yang mahal-mahal. Akhirnya, saya mengikuti teman-teman untuk memfotokopi buku-buku tersebut. Dan memang tersedia dengan mudah di fotokopian dekat kampus.
Yang ingin saya tanyakan. Bagaimana hukumnya kita memfotokopi buku tersebut karena keterbatasan finansial kita yang tak bisa membeli yang asli?
Apa yang sebaiknya saya lakukan pada buku-buku fotokopian tersebut sekarang?
1⃣1⃣Kalau memang tidak bisa membeli buku-buku kuliah sebenarnya bisa mencari pinjaman buku kepada kakak kelas yang sejurusan, usaha dulu sampai semaksimal kita mencari pinjaman buku tersebut, tapi kalau memang sudah terpaksa.. ya mau bagaimana lagi.. Tuhan tahu apa yang sudah kita usahakan.
yang penting sekarang tidak mengulanginya lagi. Dan sebaiknya tidak sebarluaskan kembali hasil dari foto copyan itu. ✅

1⃣2⃣ Arum
Bagaimana mencari sumber kebenaran saat kita bersikap skeptics ketika menerima suatu berita
1⃣2⃣ Bersikap skeptis (sceptical thinking) adalah sikap tidak mudah percaya terhadap suatu berita..
Dalam kulwapp Institut Ibu Profesional sebelumnya, pernah dibahas mengenai literasi media ini.. bagaimana saat kita menerima suatu berita.
Jika berita itu benar dan jelas sumbernya silahkan diteruskan jika menurut kita itu bermanfaat.
Jika benar tapi tidak jelas sumbernya dari mana maka sebaiknya tidak di teruskan.
Apalagi kalau kita meragukan kebenarannya.. sebaiknya langsung delete dan jangan di copas ke mana-mana..
Karena efek suatu berita sangat besar.. ✅

1⃣3⃣ Yekti
Bagaimanakah menjaga kesungguhan dan keihlasan hati ibu ketika harus belajar menjaga adab, sementara ketika sang anak sepertinya belum mau mengikuti bahwa ini baik dan itu tidak baik. anak 5 th putri
1⃣3⃣Seperti pertanyaan no 4..
Adab itu dilatih sejak lahir.. maka kita sebagai ibu (guru utama bagi anak kita) harus banyak mencontohkan.. dan mengajak anak berinteraksi dengan teman mainnya, tetangga, teman ibunya.. maka saat anak diajak berinteraksi.. anak akan melihat adab yang diajarkan ibunya secara tidak langsung akan menirunya..
Sambil pelan-pelan kita ajarkan aturan yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan ✅

1⃣4⃣ Nia
Kaitannya duduk menuntut ilmu (mendengar guru) dengan gaya belajar anak. Apakah akan jadi disebut tidak ber’adab’ ketika anak kinestetik menyerap ilmu yang disampaikan guru dengan kehebohan geraknya? Atau semua harus disamaratakan duduk diam dengar guru?
1⃣4⃣Tentunya sebelum anak kita masuk dalam sebuah kelas atau sekolah.. kita harus tahu dulu gaya belajar anak kita..
Kalau sekiranya tempat belajarnya sesuai dengan gaya belajar anak kita.. maka silahkan teruskan.. pasti gurunya memahami bahwa anak kinestetik akan sulit belajar sambil duduk manis.
Tapi jika tempat belajarnya tidak sesuai maka kita sudah memaksakan sesuatu yang membuat anak kita tidak nyaman. Dan akhirnya proses belajarnya pun mengalami hambatan.
Imho ✅


Pertanyaan tambahan
Tria
Terkait anak kinestetik bu, bagaimana kita menyikapi guru yang mungkin tidak menerapkannya? Menyamaratakan semua anak mesti duduk diam saat belajar? Tks
> Kalau saya.. ajak bicara gurunya terlebih dahulu.. kalau guru itu bisa menanganinya dan memahami cara penanganan terhadap anak kines dengan baik. Silahkan dilanjutkan. Tapi kalau dari guru tidak ada perubahan.. maka saya lebih memilih menarik anak dan memindahkannya ke sekolah yang terdapat guru yang berpengalaman dalam menangani anak-anak spesial

Syifa
Terkadang ada beda pendapat antara guru dengan kita sebagai murid, sehingga menjurus ke perdebatan.
Sebetulnya bagaimana sih batasan berdebat dengan guru?
> Jika perdebatan tidak ada ujungnya maka sebaiknya dihentikan

Ulfa
Adakah instrumen yang mudah digunakan untuk mengetahui gaya belajar anak kita sejak dini? Sehingga memudahkan kita untuk memilih sekolah yang tepat, yang sesuai dengan gaya belajarnya dan kebutuhannya?
Contoh kasus :
sebagian dari kita (mungkin saya) cenderung memilih sekolah yang sesuai dengan harapan orang tua, bukan sesuai kebutuhan anak.
Contoh dengan menyekolahkan anak kinestetik di sekolah yang kegiatan regulernya cenderung statis.
Sedangkan bagi anak kinestetik, mungkin akan lebih berkembang jika disekolahkan di sekolah alam yang kegiatannya lebih fariatif.
Mohon sarannya.
> Ada.. dari bu Septi juga.. tapi nanti saya cari dulu ya.. insya Allah saya japri