Balada Ied Adha


Namanya anak, pasti penasaran, antusias, gemes, ketika melihat hewan-hewan Qurban bertebaran di penjuru mata angin.

Menyodorkan daun, menirukan suaranya, berteriak-teriak ketika hewan-hewan itu bergerak mendekat.

Tapi aku pun yang melihatnya gemeeess, ketika melihat keresahan hewan-hewan yang terlihat tidak nyaman itu.

Sebagai orang intuiting yang me time-nya adalah ketenangan, aku merasa simpati pada hewan-hewan itu. Menjelang ajalnya, seharusnya dirinya dibuat tenang, nyaman. Kalau perlu diperdengarkan lantunan AlQuran.

Aku geregetaan dan bertanya-tanya, mengapa orang tuanya tidak peduli dan tidak merasa yang dilakukan anak-anaknya itu kurang tepat?

Rapihkan shaff


Entah di negara lain, tapi di negeri khatulistiwa ini, terkhusus di kota tercintaku, ada kebiasaan yang sudah membudaya mengusikku. Sesuatu yang membuatku kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa.

BARISAN

Indonesia memang negara kesatuan, tapi sepertinya aku mengerti sekarang kenapa masyarakatnya mudah terpecah pelah.

Mungkin masalahnya ada di barisan.

Berapa banyak ditemui lubang-lubang di setiap barisan? Entah itu barisan upacara, barisan sholat, maupun barisan seminar.

Ya, dalam beberapa seminar atau yang sejenisnya, hampir selalu dapat ku pastikan tidak ada yang mau duduk di depan. Sebaliknya, barisan belakang akan penuh duluan. Padahal, bukankah penyerapan materi yang diberikan berbanding lurus dengan posisi duduk?

Aku selalu bertanya-tanya, mengapa tidak banyak yang mau memenuhi kursi terdepan? Bila yang datang awal menempati kursi terdepan, begitu seterusnya, tidak akan ada

Matematika


Terkadang, ada hukum sebab akibat, saat orang terdekatmu tak mensyukuri kehadiranmu, tak mensyukuri keadaanmu, tak mensyukuri kelebihanmu apalagi kekuranganmu.

Mungkin kelak, kau akan menjadi seseorang yang sulit merasa bersyukur. Terhadap dirimu, orang di sekelilingmu, dan takdir hidupmu.

Namun, di sebuah sekolah, ketika seorang guru mengajarkan cara yang salah, haruskah muridnya mengikuti jalan itu walau tau jawabannya keliru?