keki di BEC Meet Up


Satu kata buat event yg satu ini: MALU

Bukan, bukan. Bukan event-nya yang memalukan. Tapi aku yang kelewatan malu. I guess I missed my mask at home.

Habis gimana!? Pertama kali melangkahkan kaki di ruangannya, suddenly I don’t know what I have to do. I lost my confidence. Rasanya pengen dissappear aja. 😀

berikut reportasenya

-otw-

katanya, perpus kemendikbud ini letaknya di samping fx. Tapi karena aku bukan anak mall yang tongkrongannya di mall, dan aku juga buta arah, aku bahkan ngga tau gimana cara ke fx ini. Setelah tanya-tanya, dapatlah rute dari Depok ke Perpus Kemendikbud.

Naik CL ke sudirman-metro 19 arah blokM-halte FX.

Di 19 sempet nanya mba yang duduk di sebelah, ini mobil lewat halte fx ngga. Katanya lewat dan dia juga mau turun di situ. Oke, barengan. Dan akhirnya dia turun di halte GBK dan langsung menghilang. But, where’s the fx? Aku bengong sesaat. Di dorong gerimis, akhirnya tanya security. Parahnya, security-nya juga ngga tahu dan hampir aja ngasih petunjuk arah yang salah. Untunglah datang security lainnya bak hero di gerimis siang. “Nyebrang trus lurus, nanti belok kanan”, katanya. Akhirnya ketemu juga tuh kemendikbud, tapi ternyata salah gedung, itu gedung D. Sempet terpikir untuk balik arah dan ke book fair aja :)) . Akhirnya dikasih petunjuk arah ke gedung A lewat belakang gedung D, dimana aku harus loncatin tambang segala. *deritaorangkuper*

-admins-

Begitu sampai sana, orang pertama yang aku kenali itu Mas Ryan. Pas nyapa, sambil bilang “ini utie Mas”, dalam hati ngelanjutin “yang kalau ditanya satu pertanyaan, tetiba langsung curcol kepanjangan” 😆

Terus aku celingak-celinguk cari admin-admin kece yang lain. Dan akhirnya kutemukanlah Mb Deva, Mas Dani, dan Kak Nita. Yang terlintas pertama waktu secara life ketemu Mb Dev adalah she is very easy going. Keliatan banget confident dan supelnya. Ya maklumlah, traveler gitu loh. Owh. How envy with her personality. 😐

Kalau Mas dani, Oh my, he is beneran gede tinggi yaa… Kenapa gitu dia masang foto bertahun-tahun lalu (lebay) sebagai PP whatsappnya (kayak sendirinya engga aja *cekikikan*). Aku kan jadi agak shock, PPnya imut-imut gitu. 😀

Kalau Kak Nita, ini kali kedua aku ketemu dia. And I’m still wondering on how she dress up. Kak Nit, itu gimana caranya sih pake pashminanya, bisa panjang dan rapi gitu. Bikin tutorialnya dums. *grins*

-narasumber-

sebelumnya pengen protes sih sebenernya sama admin. Katanya there’s no english speaking or else. Tapi ternyata aku terjebak. Ya wajar sih yaa, namanya juga english club. Tapi Mb Ollie tuh keren banget. Aku yang payah di english ini aja ternyata bisa menyimak apa yang dia katakan, padahal hampir seluruh perkataannya pake bahasa inggris. Yah, at least 90% paham lah. Dia tidak banyak menggunakan kosa kata yang berat, tempo dan pronounciationnya juga OK. Karena sudah pengalaman juga sih bicara dengan bahasa inggris di banyak audience. Ah pokoknya terpesona dech. Apalagi pas tau dia founder kutukutubuku.com. Beberapa kali aku beli buku online di situ. Dia juga founder nulisbuku.com which is aku pernah ikutan kompetisi novelnya. Dan pengalamannyaaaa… Wow. Makes everyone envy. Hampir seluruh benua sudah dia kunjungi. Free of charges. How come? Because she post in English. 😐 and how about me?

-materi-

(post terpisah)

-mba menur-

jadi, ada satu sesi di akhir sharing sama Mba Ollie dimana membernya harus duduk berpasangan dan bergantian cerita about their story themselves. Dan aku berpasangan sama Mba Menur. 5 menit pertama Mba Menur menceritakan story-nya, dan aku mendengarkan. Kemudian gantian. Dan 5 menit berikutnya, masing-masing menuliskan cerita dari temannya itu. Both speaking and writing, must be in English! Glek. Mba Menurnya sih lancar jaya speaking in English, tapi saat gilirannya aku, gelagapan. Lebih banyak “nnnnggg”, ah thanks to Mba Menur karena ngga geplak kepala aku gara-gara geregetan ngga bisa ngomong. 😆 btw, story-nya Mba Menur ini mimpi aku banget lhoo. Jadi Nyonya rumah yang hobi ngeblog. 🙂

-the gift-

dan acara terakhir ini yang paling bikin aku kikuk. Oleh admin, aku dinobatkan sebagai member paling semangat dalam belajar dan mendapatkan hadiah. Padahal aku ngga ngerasa semangat-semangat amat. Atau jangan-jangan “member paling semangat” itu has a same meaning with “member yang Englishnya paling dasar” :lol:. Tapi kalau boleh jujur, saat itu rasa maluku jauh lebih besar dr rasa senangku. 😐

ini nih penampakan hadiah yang kudapet:

a prize

  • snackskin sunglassess + case oriflame
  • pewarna rambut oriflame
  • conditioner brush oriflame
  • dvd spirit motivation

semuanya barang-barang yang rasanya ngga bakal aku beli (karena harganya yang selangit *for me*). :p

trus aku diberi kesempatan juga untuk sepatah dua patah bicara tentang BEC. Tapi aku tidak bisa tampil tanpa topeng alteregoku. Haha… Jadi, I just can say “No”. Oh dear, what a loser. *tutupmuka*.

Dan konyolnya, pas pulang naik CL, tetiba malah terpikir pidato yang harusnya kusampaikan tadi and wish if the time could back. Yah, sepertinya aku memang anti spontanitas. However, thanks to admins who is very kind to me. Maybe, they gave me a gift to keep my spirit on learning English. So I don’t want to make them dissappointed with learning unseriously.

-melipir-

ini nih yang bikin aku keki dan dilema berkepanjangan. Jadi ceritanya, aku kan pengen berusaha taat ajaran Islam. Dan salah satunya adalah no jabat tangan ke non mahrom. Tapi seperti pada umumnya, dalam setiap pertemuan pasti cara salamnya itu ya dengan jabat tangan, tak memandang gender. And that’s a problem for me. (InsyaAllah next aku bahas di post lain ya soal ini). Jadinya, aku malah menghindari ketemu sama men in this event. Bahkan salah satu admin, Mas Dani, belum ku sapa. Ah, semoga mas mas yang lain memaklumi keadaanku ini.

Overall, meet up ini emang keren banget. Dari makanan, tempat, fasilitas, semua gretong. Thanks to Allah, admins, and all sponsors. Kalau ada yang mau baca review lainnya yang bermacam versi, bisa liat disini.

Dan maaf, karena aku ngga suka narsis, dan HP-ku yang ngga mumpuni, aku ngga punya dokumentasi satu pun untuk acara ini.

ini aku nyolong aja fotonya yaak.. 😛

BEC Meet-Up

Reuni Mhesat angkatan 2006


Sabtu, 2 Maret 2013, aku reuni dengan teman-teman SD. Ini kali pertama aku berkumpul dengan mereka setelah lulus SD. Acaranya diadakan di Gubuk Bambu Depok, dari jam 5 sore.

Karena harus kursus brevet dulu, akhirnya aku sampai disana jam 17.15. Daaann..ternyata belum ada yang datang. Baru temenku yang jadi PJ. Dia datang dari jam setengah lima dengan membawa anak keduanya yang berumur 6 bulan. Ya ampun, kasian banget sih, udah momong bocah, mengurus detail acara, pake harus ditambah nungguin teman-teman singlenya yang pada ngaret. Maaf ya Lusy. 😦

Jam 6, udah hampir semuanya datang. Beberapa ada yang batal datang. Seorang lagi, yang dari Bali, datang paling telat dengan penampilan “heboh”. 😆

Kurang lebih 10 tahun berlalu, banyak yang penampilannya berubah, namun ada juga yang begitu-begitu aja. Sebagian besar wajahnya sudah bisa kutebak karena pernah melihat foto profilnya di Facebook.

Acaranya sih gitu-gitu aja, makan, ngobrol, foto-foto. Aku rada ngga PD pas foto. Seharian di UI bikin mukaku demek berminyak dan kucel. Apalagi aku bebas dari nuansa kosmetik, jadi keliatan makin dekil. Sementara temenku yang lain pada dandan dan berpenampilan rapi. Niat banget mau difoto. 😆

Selama makan, kami mengobrol dan mengenang masa-masa di SD dulu. Tentang kejailan dan bully temen sendiri, tentang betapa bodohnya menangkap pelajaran matematika, tentang guru killer, dan lain sebagainya. But, U know? Aku sama sekali ngga bisa mengingat masa-masa SDku di kelas. Hadeeehhh.. Kok yang lain bisa ingat begitu jelas ya??!!

Jam setengah sembilan kami pindah lapak ke rumah salah satu temenku yang dekat dari situ. Beberapa ada yang langsung pulang. Waktu setengah jam dirumah temenku itu malah jadi ajang gosip untuk para ladies. Membicarakan salah satu teman yang “berkasus”. Memang ngga bagus sih ngomongin jeleknya orang, tapi aku baru tau kalau salah satu temanku ada yang “begitu”. Ngga perlu dipublishlah, “begitu”nya itu gimana. Tapi itu cukup jadi pelajaran buat aku.

Jam 9 malam, akhirnya aku dan Nova pulang duluan. Sebenarnya sih aku ngga masalah pulang malam, tapi Nova yang aku jadikan “tumbal” untuk nganterin aku pulang udah ditanyain sama orang rumah. Jadi yaa daripada pulang sendiri mendingan aku ngikut pulang.

Yang lainnya sempat mau karokean, tapi sepertinya ngga jadi dan malah foto-foto sebelum pulang. Huh, kan jadi ngga ada akunya.

Alhamdulillah reuni berlangsung lancar dan seru. Semoga aku dan yang lain masih akan diberi kesempatan olehNya untuk dipertemukan kembali.

IBF, Islamic Book Fair


Untuk pertama kalinya, akhirnya aku berhasil ke IBF alias Islamic Book Fair yang diselenggarakan di Istora Senayan, tempat yang sama waktu aku wisuda dulu.

Walaupun pecinta buku, aku memang belum pernah datang ke bookfair. Dulu ibu dan bapak pernah kesana berdua aja dan membelikan aku buku yang aku idam-idamkan. 😳 Sekarang kalau inget itu rasanya pengen nangis. Mereka sayang banget sama akuu, sedangkan aku belum bisa berbuat banyak, terutama untuk Bapak semasa hidupnya..

Balik lagi ke IBF. Kenapa aku belum pernah kesana? Karena waktunya yang ngga pernah klop. Sehari-hari kerja, sabtu minggu kadang ada acara. Selain itu, aku juga ngga ada temennya. Mau dateng sendiri? Bisa-bisa ngga bisa pulang. Aku kan buta arah. Di mall aja ngeri, gimana ini, di senayan.

Dan kemaren, akhirnya aku berkonspirasi (???) sama Mira untuk ke IBF bareng. Janjian ketemu di BlokM dan selanjutnya nebeng Mira yang bikers.

Kita sampai disana jam 6an sore. Masuk dari pintu ‘entahlah’ dan langsung dihadapkan ke beberapa stand penerbit ternama, diantaranya stand Mizan. Cukup lama aku di Mizan, memilah-milah buku apa yang sebaiknya aku beli. Ada koleksi buku Dee, bukunya Okky Setiana Dewi, dan banyak novel dengan diskon 30% *kalau ngga salah* yang bikin aku galau. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk ngga beli apa-apa disana.

Akhirnya karena bingung dan ngga mau keterusan bingung, sebelum ngubek-ngubek IBF lebih dalam, aq menyelipkan sebuah doa di sholat maghribku, meminta agar Alloh menunjukkan jalan, buku apa yang sekiranya bermanfaat untukku. *terinspirasi dari ceramah yang kudengar*. Hehe… Dan setelah itu, aku benar-benar dimudahkan dalam pencarian. ^-^

Jam 9 kurang, kita berencana untuk pulang, karena memang sudah malam dan uangku sudah ludes. Rasanya pengen pake kacamata kuda biar ngga lirik kanan kiri lagi. 😛

Tapi tiba-tiba ketemu temen YISC yang lagi jaga stand. Aduh malunyaaa. Penampilanku kan acak kadut begini, bak preman terminal :mrgreen: Tapi ya sudahlah. Apa adanya saja. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, kita (aku, mira dan temannya mira) malah ditawarin untuk masuk ke ruang Anggrek karena ada kajian bagus. Begitu masuk, ternyata aku pun bertemu dengan anak YISC (lagi). Dan aku makin merasa seperti *maaf* telanjang, secara rata-rata yang ikut acara itu “akhwat beneran” semua (selain ikhwan). Aiiihh.. #tutup muka

Kajian berakhir jam 21.15 dengan ditutup oleh penampilan dari anak-anak Master. Iya, anak-anak Masjid Terminal Depok yang baru saja diulas meta. Kaget juga dengernya. Ngga nyangka, baru juga baca infonya di blog meta langsung dipertemukan sama anak-anaknya. Hebat ih, mereka bisa sampai kesini.


Aku tak lama menikmati pertunjukan mereka karena pikiran udah ngga fokus, takut keabisan angkutan umum. Akhirnya rencana sholat dan makan dulu pun batal. Kita langsung pulang, namun tertahan di parkiran. Apa pasal? Mira ngga bawa STNK. Dompetnya ketinggalan di kost-an coba!!! Disuruh sama abang parkir untuk nunggu sampai motornya abis. Trus aku gimana pulangnya???!!!

Tapi untungnya Mira ini anak gahol yang punya banyak temen. Di parkiran itu juga ada beberapa temannya yang ingin pulang, akhirnya merekalah yang jadi saksi kalau tuh motor emang bener punya Mira. Dan accident itu tidak berlanjut ke hal yang buruk. Alhamdulillah. ^^

Kemudian aku diantar Mira sampai pasar minggu. Ah Mira, terima kasih banyak. Semoga Alloh membalas segala kebaikanmu dengan berlipat.

Alhamdulillah, jam 11 malam aku sampai di rumah. Namun, masih ada rasa belum puas karena belum sempat menjelajah pelosok IBF dengan seksama. Mungkin untuk tahun depan, aku list dulu penerbit-penerbit yang berpotensi punya buku bagus. Biar ngga ngeblank kayak kemaren. Mudah-mudahan masih diberi umur untuk bisa hunting buku lagi di IBF tahun depan.