Karang


Aku ingin setegar karang
Tak ingin ku bagi rintihku pada yang lain
Hanya pada-Mu
Hanya pada-Mu

Aku ingin setegar karang
Tersenyum seakan tak ada beban
Tersimpan rapat dalam dadaku
Hanya Kau Yang Tahu
Hanya Kau Yang Tahu

Aku ingin setegar karang
Tanpa menambah masalah orang
Tanpa mengemis kasihan orang
Berharap Kau tetap disampingku
Karena aku membutuhkan-Mu
Karena aku membutuhkan-Mu
Selalu…

Pembantaian


Aku memandang adikku yang tergeletak di depanku. Di atas kasur busa tanpa dipan. Membolak balikkan badan seakan tidak tenang. Tubuhnya yang kurus, mukanya yang tirus, seakan menampakkan bahwa dia sudah melalui hari-hari yang menyedihkan. Adikku memang tidak mengakuinya. Dia menjalani kehidupannya seperti biasa, layaknya anak kecil lainnya. Ke sekolah, bermain, mengaji. Walau sesekali aku memergokinya sedang resah, tapi dia tetap tidak mengeluh. Entahlah, apakah aku harus bangga atau iba melihatnya. Tapi satu hal yang pasti, aku harus membantunya untuk lepas dari kesusahannya selama ini. Kesusahan yang disebabkan oleh mereka.

Hari ini aku berniat untuk melawan mereka. Kubawa serta semua peralatan yang kira-kira akan aku butuhkan. Berdiri di belakang adikku, menjadi benteng pertahanan. Aku ajak adikku untuk memusnahkan mereka. Menghampiri tempat persembunyian mereka dan membunuhnya satu persatu. Rasanya aku ingin membantai mereka sampai habis.

Ah, itu dia. Aku menemukan satu dari mereka. Kubunuh ia sampai tak bergerak lagi. Tak jauh dari situ, bisa ku lihat yang lain mengintip dan mencoba untuk lari. Tapi tak ku biarkan ia hilang dari pandanganku. Aku semakin beringas, membunuh semua yang kutemui tanpa ampun. Aku hanya ingin membalaskan dendam adikku.

Tanganku bergerak lincah tanpa henti mencoba melawan mereka. Tapi semakin lama energiku semakin berkurang. Oh tidak. Jumlah mereka semakin banyak, seakan tidak ada habisnya. Aku tidak yakin bisa mengalahkan mereka semua. Mereka mengerahkan seluruh pasukannya, dari yang berbadan besar sampai yang kecil. Tapi yang kecil justru menyakitkan dengan gigitannya. Aku rasa aku butuh bantuan. Tapi aku tidak bisa mundur, aq tidak bisa menahan keinginanku untuk menumpas mereka dan menyelamatkan adikku. Tanganku bahkan tidak ingin berhenti bergerak.

Tapi, satu suara kecil dan lembut adikku akhirnya benar-benar menghentikan gerakan tanganku. “Mba, udah dong nyariin kutunya. Aku mau main nih.” Dan kemudian adikku itu pun pergi. Aku pasrah. Menyerah kalah. Membiarkan dia pergi bersama pasukan kutunya.

Aku bukan yang dulu


Aku bukan yang dulu,
untuk kau tau.
Memang, kini pagarku terbuka,
kau bebas berkeliaran di pekarangannya.
Tapi tlah kubangun dinding tinggi mengelilingi hati.
Aku rasa kau sadari.
Jangan tanya mengapa,
karena bila ada yang harus menjelaskan,
maka itu kamu.
Aku hanya akibat, dari kamu yang sebab.
Jadi berhenti kemari.
Lihat dan pandangi saja,
kalau perlu sesali.
Karena sebelumnya, pintu ini nyaris kau langkahi.
Ah, semoga kau tak tahu,
bahwa dinding tinggi ini tak sekokoh tampaknya berdiri,
ada lubang, kecil dan menyebar.
Tapi dingin yang melapisinya semoga bisa membantu,
membuatmu beku,
sebelum jauh melangkah maju.