Princess’s Letter


love-letter

Hari ini, Rabu, tanggal 2 November 2016, aku mendapat tugas membuat surat cinta untukmu. Saat aku menuliskan ini, aku memang belum mengenalmu, tapi bayanganmu selalu menghantuiku. Aku membayangkan pria yang setampan Kim Tan, secerdas Shinichi Kudo, sekeren Yoo Si Jin, selembut Abu Bakar, setegas Umar bin Khattab, dan sekaya Ustman bin Affan. Aku tak bisa membayangkan seorang pria sesempurna Nabi Muhammad karena aku pun tak semulia Khadijah, juga tak bisa membayangkan ketampanan pria selevel Nabi Yusuf, karena aku pasti cemburu melihat para wanita enggan memalingkan mukanya darimu. Karena aku adalah wanita biasa, maka aku membayangkan kamu hanya pria biasa. Tapi aku percaya, ketika kita bersama, maka dunia menjadi luar biasa.

Sejak aku tahu bagaimana Islam mengatur hubungan antara lawan jenis, sejak itu pula lah aku paham arti cinta. Beberapa kali aku memang menyukai seseorang, tapi aku tau itu bukan cinta. Itu hanyalah sebuah rasa fitrah yang tak perlu diumbar tidak pada tempatnya. Aku berusaha menjaga cinta ini tetap utuh untukmu. Tapi, kau tau? Di masa penantian ini, godaan begitu gencar merayu. Sempat aku melirik yang lain. Mereka yang membuatku nyaman dan merasa diratukan. Mereka yang tanpa sadar membawa sepasukan syaitan untuk mendorongku ke jurang. Yah, seringkali aku salah jalan, tapi doa keluargaku, kebaikan yang mungkin pernah kulakukan, serta alunan harapan di malam-malam panjangmu membuat Robb-ku berkenan mengembalikanku ke jalan yang benar.

Hingga akhirnya, aku masih bertahan sampai saat ini. Di saat mereka memilih jalan berkelok untuk lebih cepat sampai, di saat mereka seakan tersenyum melambai mempengaruhiku agar berjalan bersama mereka, aku masih setia menunggumu. Walau aku kesal, karena kau tak kunjung datang. Ada kalanya aku marah, ingin melangkah ke jalan yang salah. Tapi sebersit iman menahanku melangkah. Ada kalanya aku menyerah, pasrah. Berpikir mungkin kita memang tak ditakdirkan untuk bertemu di dunia. Tapi tetap tak bisa kupungkiri bahwa aku masih merindukanmu. Aku tetap menanti kehadiranmu.

Mereka bilang, aku terlalu pemilih. Aku terlalu banyak menolak. Tanpa mereka sadari bagaimana pernyataan itu melukai hatiku. Salahkah bila yang ku inginkan hanyalah kamu? Bermacam pria keluar masuk dalam hidupku, tapi yang aku inginkan tetaplah kamu seorang. Seorang pria yang mungkin tak bisa mempesonaku di pertemuan pertama tapi mampu membuatku tak bisa berhenti mencintainya di pertemuan halal berikutnya. Seorang pria yang dengannya mimpiku mewujud sempurna. Seorang pria yang dengan sentuhannya, lahirlah bintang-bintang bersinar yang punya peran membawa Islam berjaya. Seorang pria yang dengan kearifannya mampu membawaku membangun peradaban syurga.

Garam di laut dan asam di gunung, aku tidak tau di kuali mana mereka akan bertemu. Di rumah kecil yang hangat ataukah rumah besar yang ramai. Tapi aku yakin, jika aku menyebar gula, maka semutlah yang akan datang. Rindu ini, ku coba untuk simpan erat. Tergesa ini, ku coba untuk tutup rapat. Walau mungkin mereka mencibir, aku bergeming. Aku tetap akan memilihmu. Aku tidak mungkin memilih pria yang tidak tepat untuk menjadi ayah dari anak-anakku kelak.

Aku tidak tahu apakah kamu menyukai hal-hal semacam ini. Aku pun tidak tahu apakah kamu bisa tersentuh dengan ini. Tapi ini perasaanku, yang mungkin nanti tak bisa kulisankan kepadamu. Aku berharap, surat ini akan sampai kepadamu tanpa harus aku yang memberi tahu. Dan ketika kamu membacanya, itu berarti Allah telah mempertemukan kita. Bisa jadi sesaat setelah akad kita, atau mungkin berbulan bahkan bertahun setelah kita hidup bersama. Saat itu, aku ingin kamu menghampiriku, menghapus rindu yang tertimbun bertahun lalu, membantuku melupakan resah yang menghantui penantianku. Aku ingin kamu mengingatkanku, alasan kenapa aku memilihmu. Karena kelak, euforia itu akan meredup, debar itu akan memudar, kesalahan-kesalahan mungkin akan dilakukan. Maka, bantu aku kembali ke jalan juang ini. Genggam erat jemariku agar tak tersentuh pedihnya api neraka. Karena dengan taat padamu, pintu syurga terbuka nyata untukku.

Aku tak bisa berharap banyak padamu karena aku pun tidak bisa menjanjikan banyak padamu. Hanya saja, di hamparan jalan penuh liku dan batu ini, tetaplah di sini, di sisiku, melangkah bersamaku.

Handmade = Barang Langka


Setelah bertahan selama 13 minggu di BEC (Blog English Club), pada akhirnya karena beberapa alasan, aku memilih ‘tumbang’.

Tapi kemudian aku merasa ‘hidup’ kembali setelah dipertemukan dengan CFC. Craftalova Fabric Club. Group FB yang dipelopori oleh Mba Ayu Ovira dari Aceh ini beranggotakan wanita-wanita kece penggiat produk handmade. Gabung di group ini membuatku merasa seakan menemukan tempat asalku kembali. 😀

Namun kali ini aku bukan ingin menceritakan soal CFC karena aku pun baru beberapa bulan bergabung. Aku hanya ingin sharing opiniku tentang produk handmade.

Handmade secara bahasa berarti buatan tangan. Apakah berarti semua benda yang diproduksi dengan tangan manusia adalah handmade? Entahlah. Namun yang terlintas di pikiranku ketika mendengar kata handmade adalah bros, dompet, dan tas dengan model unik yang dibuat langsung dengan tangan/produksi rumahan. Intinya bukan olahan pabrik.

Pertama kali melihat isi group CFC, aku terpana, terkesima, terpesona, dan yang semacamnya. Bagaimana tidak? Setiap harinya ada saja anggota yang share hasil karya amazingnya. Seperti wanita, produk-produk handmade itu mempunyai kecantikannya sendiri yang tidak bosan untuk dipandangi. Mereka begitu berharga (lebay) daaan… mahal. Ya, rata-rata produk handmade dihargai lebih mahal dari produk pasaran. Memang harganya sih tergantung bahan, model, dan tingkat kesulitan. Rata-rata pouch dan dompet bisa dihargai 50.000-150.000 . Untuk tas, bisa sampai 200.000 ke atas.

Sayangnya, beberapa orang belum mampu menghargai tetesan peluh dan cinta yang terangkai dalam setiap produk handmade. Harganya yang mahal membuatnya dibanding-bandingkan dengan produk pabrikan yang memang produksi masal. Ah, mereka hanya tidak merasakan bagaimana perjuangan membentuk helaian-helaian kain menjadi sebuah kreasi cantik dan unik.

Aku tidak bicara mengenai kualitas antara produk handmade dan pabrikan. Banyak juga kok produk pabrikan yang berkualitas dan harganya tidak terlalu mahal. Lalu, apa yang membuat handmade bisa lebih mahal?

Sesuai judul postingan ini, menurutku, handmade itu seperti barang langka. Unik dan terbatas. Contohnya tas handmade. Jarang sekali ada pelaku handmade yang membuat tas dengan model dan motif yang sama. Setiap produk yang dihasilkan akan mempunyai karakteristik dan keindahan yang berbeda. NGGA PASARAN. Tidak seperti tas buatan pabrik yang produksi masal dan siapapun bisa punya. Bayangkan kalau kamu punya satu benda yang cuma ada satu-satunya di dunia dan cuma kamu yang memilikinya. Bagaimana rasanya? Prestigious bukan? Itulah handmade.

Selain itu, produk handmade biasanya dibuat dengan mesin jahit rumahan oleh perorangan. Dijahit dengan sentuhan penuh cinta oleh si pembuatnya. Biasanya lagi modelnya ataupun motifnya dibuat seunik dan semanis mungkin. Tergantung kreativitas si pembuatnya. Dan itu juga faktor lain yang bikin harganya sedikit lebih mahal. KREATIVITAS. Kreativitas itu mahal saudara-saudara. Catat! Yah, walaupun sekarang pelaku handmade semakin menjamur dan tutorial bertebaran dimana-mana, namun tetap, kreativitas jadi modal utama penggiat bisnis handmade.

Jadi, buat yang masih menyepelekan produk-produk buatan tangan, coba yuk, sekali saja ikutan WS (Workshop). Mencoba membuat produk sendiri. Gunting sendiri, jahit sendiri, dedel sendiri, kemudian rasakan sensasinya. Antusiasnya, senangnya, bangganya, dan lelahnya. 😀

Iya. Lelah. Jadi, paling tidak hargailah keringat lelah penggiat handmade. Tidak perlu sesumbar “Mahal amaat. Masa’ murahan di mall?”, kalau memang dirasa lebih baik beli di mall, ya monggo, tapi jangan sampai menyakiti hati pelaku handmade ya. Sudahlah capek-capek bikinnya, ngga dihargai pula. Sakitnya tuh disini (nunjukin sepuluh jari tangan).

Nah, kalau menurut kamu, apa sih yang bikin produk handmade itu “mahal”?


Sebagai penutup, tadinya pengen share produk handmade amazing dari salah satu anggota group CFC, tapi males minta izin. Jadi aku share salah satu tas jebolan si flyie-ku aja ya. Tas ini menurutku biasa aja. Tapi ternyata jadi favorite orang-orang. Wah, memang dech, soal “bagus atau tidak” itu relatif ya. *sumringah*
Let see, menurut kamu-kamu, berapa sih pantasnya harga tas yang satu ini?

Berapa hayoo harga tas ini???

Berapa hayoo harga tas ini???

mau liat produk handmade lainnya? cek IG: utie.collections

Don’t kemaruk


.2015.

Butuh waktu 2 jam untuk membuat resolusi di tahun yang baru mulai ini. Dan sampai detik ini, belum satu step pun dari plan yang kubuat, terlaksana. 😐

Entah, aku masih belum bisa me-manage waktu dengan baik. Pulang kerja, ber-ga jelas ria- kemudian tidur. Bangun, ber-ga jelas ria- lagi, kemudian berangkat. *hela nafas*

Aku tidak mengerti, apakah targetku yang terlalu banyak, atau memang aku yang pemalas?

Bicara soal target, sebenarnya aku hanya menginginkan ilmuku bertambah di tahun ini. Dan karena itulah, aku join banyak group whatsapp. Terlalu banyak group, i guess.

Ada group bisnis, aq ikut.
Ditawari group khusus wanita yang bicara soal keluarga, resep-resep, dll, aku tertarik.
Group bimbingan Islam, ikutan lagi.
Group homeschooling, ikut juga.

Belum lagi group macem-macem yang sudah lama kuikuti.

Niatnya memang untuk dapat ilmu baru, teman baru. Walhasil, tiap hari, ratusan pesan terpampang di layar hp ku. Ilmunya memang banyak, membernya juga. Tapi nyatanya, aku tak punya cukup waktu untuk membacanya. Rasanya dunia berputar begitu cepat saat mencoba mengikuti percakapan tiap group satu demi satu. Usaha terakhir yang kubisa adalah sent email history chat, dan kemudian, entah kapan aku membacanya. 😥

Dan sekarang, dengan nekatnya aku nambah group lagi. Group BEC. Blog English Club. Didirikan teman sesama wp-ers untuk memfasilitasi kita-kita yang ingin belajar dan memperlancar bahasa inggrisnya.

Dan baru lesson pertama, aku sudah keteteran, kelabakan. Lagi-lagi, sent email. Huft. I am going desperate.

Syukurlah, member-member lain di BEC memberiku semangat dan support sehingga aku bisa mengikuti english friday, walaupun telat.

Dan bersyukurnya lagi, aku tetap masih bisa bertahan dalam target ODOJ dan THTA-ku. Bagaimanapun, hidupku tidak boleh lepas dari Al-qur’an, bukan?

Dan malam ini, saat dimana aku bisa menikmati kesunyian hp-ku, aku berfikir. Tak ada gunanya aku ikut banyak group kalau tidak bisa mengikuti dan mengimbanginya. Ilmu itu akan tersimpan dalam history dan tidak akan berpindah ke memory-otak ku jika aku bahkan tak punya waktu untuk membacanya.

Bahkan, dari trilogi negeri 5 menara, aku mendapati sebuah kalimat, bahwa butuh waktu minimal 5 tahun mengerjakan satu hal agar menjadi pakar. Dan apa yang kulakukan secara terus menerus selama 5 tahun?

Aaah… sepertinya aku harus fokus pada satu tujuan dulu. Mungkin aku harus merelakan beberapa group untuk aku tinggalkan. Tapi yang  mana? Rasanya sayang sekali melepaskannya.

Ini seperti aku menginginkan menjadi pakar pelajaran matematika, bahasa, ipa, ips, agama, sekaligus. Tapi, ayolah, bahkan anak SD mempelajari kelima pelajaran itu sekaligus bukan? Dan seorang yang juara umum, pandai dalam semua pelajaran. Jadi, tak bisa kah aku menyerap semua ilmu dalam waktu bersamaan?

Tapi anak SD punya waktu seharian untuk mempelajarinya. Hal yang aku tidak punya.

Yeah, kurasa satu-satunya hal yang aku butuhkan adalah keterampilan mengelola waktuku. Karena nyatanya, dalam waktu yang sama, 24 jam, ada orang yang bisa mengurusi hajat hidup orang banyak, namun ada pula yang bahkan mengurus dirinya sendiri pun tak mampu.

Aku rasa, bukan soal banyaknya target yang aku punya. Bukan soal sedikitnya waktu yang ada, tapi bagaimana aku bisa memahami kemampuanku dan mensiasati situasi yang ada.

*hela nafas*

dan pada akhirnya, aku tidak boleh menyerah kan?