di awal Ramadhan


…Marhaban Ya Ramadhan…

Alhamdulillah aku sekeluarga masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan penuh kemuliaan dan keberkahan ini.

Menyambut bulan suci kali ini, aku harus kembali mempersiapkan ancang-ancang membuat “Seragam Keluarga Lebaran” lagi. Semangaaat!!!!

Tapi selain baju kembaran, ada ide lain yang tiba-tiba tercetus di kepalaku untuk membuat Ramadhan kali ini BEDA!! Terutama untuk adik-adikku tercintah.

Berawal dari ke-kalap-an aku beberapa minggu yang lalu saat tahu Mizan mengadakan discount besar-besaran di Miladnya yang ke-4 (btw, met milad ya Mizaan), aku kemudian membeli begiiiitu banyak buku via online disitu.

Tadinya sih hanya berniat looking-looking aja, kali aja ada buku yang selama ini aku impi-impikan tapi belum kesampaian. Tapiii… begitu melihat list buku discount-annya, mataku langsung “keluar”. WoW!!! Banyak sekali buku untuk anak-anak, terutama seri Princess dan Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Kebetulan aku memang ingin mengalihkan minat membaca adikku yang sedang keranjingan komik doraemon. Aku ingin memberikan alternatif buku lain yang lebih mendidik. Dan moment itu bener-bener pas! J

Akhirnya aku memutuskan untuk membeli beberapa *kg* buku yang akan kupersembahkan pada ibu dan juga keempat adikku. Tentunya agak sulit mencari buku apa yang pas di usia mereka yang berbeda-beda. Apalagi adikku yang kedua, cowo usia kelas 3 SMP yang tidak suka membaca textbook (buku isi tulisan ajah). Mencari referensi sana-sini, dapatlah komik segala usia yang berasaskan Islam. Judulnya 33 Pesan Nabi dan Islam Sehari-hari. Untuk adik kembaranku yang semata wayang, kubelikan Udah, Putusin Saja-nya Ust Felix, biar dia ngga melulu ngurusin cowo (kayak mbaknya engga aja :lol:). Untuk ibuku, buku Parenting of Love dan Creative Parenting Today. Dan untuk si duo krucil (pinjem istilah kak nita), aku belikan buku-buku cerita anak yang luar biasa banyak (ngga bisa kusebutkan satu-satu).

Lihat saja gimana kalapnya aku kemarin,

Nah, berhubung minggu lalu, ibu dan kedua adik krucilku ke Jawa, sampai hari ini aku belum memberikan buah tanganku ini (?). Untuk si krucil, tadinya mau kukasih sekaligus, tapi karena terlalu banyak, takutnya mereka malah “mabok” dan akhirnya ngga dibaca. Jadi, aku berubah pikiran.

Kutemukan ide brilian bertepatan masuknya bulan Ramadhan.

Apa idenya?

Jadi, hadiah buku itu akan kuberikan kepada mereka dengan syarat target. Maksudnya, aku membuat satu tabel harian yang akan diberi bintang bila mereka dapat mengerjakan jadwal harian mereka. Misalnya, bila mereka ikut sahur, dapet 1 bintang, bila sholat wajib ngga bolong-bolong, dapat 1 bintang per sholat, bila puasa mereka full satu hari, dapat 1 bintang, dst. Di penghujung hari, bila jumlah bintang yang didapat mencapai jumlah tertentu, mereka akan mendapatkan hadiah 1 buku itu. Begitu terus menerus sampai bukunya habis.

Kayak gini nih penampakan tabelnya,

Sebenernya sih bukunya ngga sampai ada 30 buah, tapi kan mereka belum tentu berhasil mendapatkan bintang banyak kan ya?? Secara anak kecil suka angot-angot-an. Hohoho.. *ups, ngga cuma anak kecil deng yang suka angot-angotan 😀 *

Yaaa walaupun mungkin cara ini sedikit membuat mereka melakukan sesuatu dengan pamrih, tapi semoga saja ini bisa jadi motivasi bagi mereka untuk berbuat baik dan lebih disiplin.

Tapi sebenarnya sih, dengan atau tanpa bintang, buku itu pun ujung-ujungnya akan jatuh ke tangan mereka pula (ya iyalah, ngapain aku koleksi buku bocah?). Karena memang dari awal, aku udah berniat memberikan kado spesial yang ngga asal ke semua anggota keluargaku. Berharap dengan begitu, hati mereka akan senang. (Kebayang gimana girang blingsatannya si krucil dikasih buku-buku itu, terutama Uci yang emang seperti aku, suka buku)

Rencananya, hari ini, di hari pertama shoum ini, akan kuberikan kado untuk Ibu dan adik-adikku itu. Sssttt… jangan ada yang bilang-bilang mereka yaa. Ini surprise.

Hmm… ngga sabar dech pengen cepet-cepet pulang. Ngga sabar pengen cepet-cepet merasa bahagia. Karena bahagia itu sederhana. Sesederhana melihat senyum mereka.

 

Ayo ikutan First Giveaway: Momen Ramadhan!

Mereka adikku =^^=


Kalau banggain diri sendiri kayaknya udah sering ya kupost disini. Naah, kali ini mau berbangga atas prestasi adikku nih.

Minggu, 7 April 2013 (ketauan dech draft post udah lama :P)

Di Masjid tempat aku belajar tahsin-tahfizh, LTQ namanya, diadakan Majlis Qur’an. Daaaan, adikku (yang memang sudah hampir hafal seluruh juz 30) diberi kepercayaan untuk tampil membawakan salah satu surat dalam Juz 30 tanpa membaca Al-qur’an. Uci (7) kebagian surat ‘Abasa, Dika (5) kebagian surat An-Naziat.

Tadinya aku yang deg deg an gitu. Secara mereka kan jarang banget tampil di depan. Khawatir mereka lupa atau jadi speechless saking gugupnya (soalnya mba’nya begitu :P). Tapi kecemasanku lenyap seketika saat melihat mereka tampil dengan tenangnya.

Andhika, duduk bersila dengan gaya cool khas cowo :mrgreen: dan membacakan surat tanpa beban. Tanpa kesalahan!! Sempat heran, karena kalau dilihat ekspresinya, dia seperti ngga mikir, bengong aja gitu ngeliatin orang-orang di depan. Bibirnya kayak bergerak otomatis. Dengan penuh percaya diri, dia menegakkan pandangan ke depan, memegang mix yang kok kayaknya gedean mix-nya daripada adekku :lol:, dan melantunkan surat dengan lantang dan mengalir. Terkejut campur bangga aku melihatnya. Lebih dari apa yang aku harap dia tampilkan. (Sayang saat itu aku tidak terpikir untuk mem-video-kannya).

Sedangkan Uci, dengan suara yang juga tanpa getar, membaca dengan terus memandang pembimbingnya. Lucu melihatnya. Seakan-akan di wajah pembimbingnya itu ada Al-Qur’annya.

Tapi Alhamdulillah, keduanya berhasil melewati tantangan itu dengan baik dan lancar. Salutku pada mereka. Tak nampak ketakutan dan kegugupan di wajah dan sikap mereka.

Apa itu karena mereka masih kecil??

Karena dulu, waktu TK (atau SD?), aku pun pernah ikut lomba MTQ tingkat kotif Depok dan menjadi juara 1. Aku tidak ingat kalau saat itu aku merasa nervous, ketakutan, ngga berani tampil, dan sebagainya. Yang kutahu, aku tampil ya tampil aja. Al-Qur’an yang terpampang di depanku, yang seharusnya kubaca, malah kuabaikan. Mataku jelalatan kemana-mana karena memang surat yang dibaca sudah kuhafal di luar kepala. Mungkin karena waktu itu masih polos dan ngga ngerti apa-apa kali yaa, jadi merasa PD aja, mungkin begitu juga dengan adik-adikku sekarang.

Berarti memang betul kata pepatah (?), semakin besar, semakin tahu, semakin banyak perhitungan, semakin banyak pertimbangan, semakin payah. Karena diriku pun semakin besar malah semakin ngga berani tampil. Suruh aku memberi sambutan di depan 20 orang saja, hampir pasti aku akan kabur dan ngga muncul-muncul lagi. Hahaha… 😆

Hmm.. Menjadi PR bagiku untuk mendidik adikku tidak menjadi penakut sepertiku. Mereka harus dibiasakan sering tampil agar terus berani sampai besar nanti. Bagaimana caranya ya? Ada yang tahu??

Overall, mereka telah membuatku bangga. Sangat bangga. Dan semoga kelak mereka akan terus membuat keluargaku bangga.

Jadi anak sholeh-sholehah ya sayang. Semoga Alloh selalu menjaga kalian. Semoga hafalan Qur’an kalian terus terjaga, meningkat, dan bisa menjadi naungan di akhirat kelak. Aamiin.

Mbah Kakung


Sepertinya pernyataan bahwa orang tua zaman dulu sangat getol kerja itu benar. Badannya akan sakit bila hanya leha-leha dan ngga digerakkan untuk bekerja. Pernyataan itu juga berlaku untuk mbahku, mbah kakungku dari Ibu. Beliau sudah tua. Sangat renta. Tubuh kurusnya mengkeriput kering, sebagian besar giginya sudah tanggal, rambutnya pun nyaris tak lagi tampak. Tapi selalu, setiap hari, beliau bekerja sebagai tukang kebun di sebuah rumah kompleks. Padahal perjalanan dari rumah -yang menurutku sudah seperti gubuk- ke tempat kerjanya cukup jauh, hanya ditempuh menggunakan sepeda dengan dikayuh sendiri oleh kaki lemahnya.

Pernah suatu ketika aku diberi kabar. Mbah ditabrak, pingsan. Kaget, panik, khawatir. Tapi Alhamdulillah, Alloh masih berbaik hati memberi kesempatan pada mbah untuk kembali menjalankan tugasnya sebagai manusia. Aku sekeluarga memang tak sempat kesana karena di hari kerja, namun buleku menelpon memberi kabar dan menceritakan kronologisnya.

Kurang lebih ceritanya begini:

Saat itu, seperti biasa mbah bersepeda menuju tempat kerjanya. Jalurnya memang melalui jalan raya dimana kendaraan-kendaraan besar lain saling beradu cepat. Dan tiba-tiba ada mobil atau motor *lupa* nyerempet mbah, membuat mbah jatuh dan pingsan di tempat. Sampai kemudian mbahku itu terbangun dengan sendirinya dan melanjutkan perjalanan ke tempat kerjanya.

Bisa dibayangkan saudara-saudara?? Seorang kakek renta tergeletak di pinggir jalan tanpa seorang pun memperdulikan!! Duhai, betapa egoisnya orang Jakarta. Kenapa aku sebut ‘orang Jakarta’? Salahkah Jakarta? Entahlah. Tapi memang pada kenyataannya sekarang ini zamannya serba nafsi-nafsi (sendiri-sendiri). 😦

Mbahku ini, walaupun getol bekerja, tapi hasilnya juga bukan untuk dirinya. Setiap rupiah yang dia hasilkan diberikan lagi pada cucu-cucunya. Terutama cucunya dari ibuku. Entah atas dasar apa, tapi bisa dibilang anak-anak dari ibuku lah yang paling diperhatikan oleh mbah, baik mbah kakung maupun mbah putri. Bisa jadi karena *konon* ibukulah yang paling kurang difasilitasi dibanding saudaranya yang lain saat kecil dulu. Atau mungkin karena suami dari ibuku yang memang lain dari pada *menantu* yang lain (mbah kung paling segan sama Bapak). Bisa jadi karena hanya akulah cucu yang berhasil tamat kuliah (mbah sangat ingin cucu-cucunya sekolah setinggi-tingginya). Atau bisa juga karena iba melihat ibuku sudah harus menanggung semua kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil sejak bapak meninggal. Entahlah. Aku tak pernah tau.

Mbahku ini juga sangat rajin beribadah. Tiap hari sholat tahajud ngga ketinggalan (aku malu). Sholat wajib selalu berjamaah di masjid. Sering baca qur’an. Wes pokok’e uapik tenan deh.

Dan sekarang, mbahku lagi sakit (Itulah alasan aku bolong posting bulan ini. Sabtu setelah belajar pajak, langsung ngacir ke rumah mbah. Nginep sampe minggu dan sampe rumah jam 10-11 malem).

Tapi biarpun sakit, ngga kuat bangun, tetep aja masih tahajud. Sholat wajib sudah tentu jalan terus. Tapi sejak 2 minggu terakhir, mbah udah ngga kuat jalan, ngapa-ngapain di kasur, termasuk sholat. Dan dari cerita bule, kemaren mbah sempet nangis gara-gara ngga kuat jalan ke Masjid untuk sholat jum’at. “Sholat jum’at kan wajib” gitu katanya. Salut salut…

Well, Doakan ya teman, semoga mbahku diberi kesabaran dalam menjalani ujian-Nya. Dan semoga anak cucunya juga diberi kesabaran dan keikhlasan untuk merawat mbahnya.