Matematika Drama Korea

Drakorutie

Hari gini, siapa sih abegeh yang ngga kenal sama drama korea? Nggak cuma abegeh, tak terhitung pula emak emak muda yang menggandrungi “sinetron” negeri gingseng itu.

Aku bahkan cukup kaget ketika adik perempuanku yang dimasukkan ke pesantren demi peningkatan ilmu agama dan “membatasi” waktu bermainnya itu justru kenal “korea” di sana.

Flashback ke 10 tahun lalu, aku pertama kali mengenal drakor karena teman-teman asramaku ribut-ribut soal full house dan chun hyang. Well, aku memang tipikal siswi kuper yang ngga peduli lingkungan. 😅

Di saat mereka asyik membicarakan han ji uen, lee young jae, hogwart, hermione, aku hanya bisa diam mendengarkan tanpa bisa mencerna. Sepertinya aku bahkan tidak pernah bisa benar-benar mendengarkan.

Dan aku juga tidak punya cukup waktu dan dana untuk mencari tahu apa itu karena setelahnya, aku mulai memasuki masa kelam dalam hidupku selama berbulan-bulan.

Dua tahun kemudian aku baru mengerti asal usul hogwart dan hermione. Dan yeah, aku pun akhirnya mengikuti dan menyukainya, terlambat dari zamannya.

Lima tahun kemudian, adikku yang sekolah di Bekasi merekomendasikan sebuah drama korea yang menurutnya bagus sekali. Mengharukan. Menyentuh. (padahal dia cowok lhoo) 😆

Pinochio. Itulah drama korea pertama yang benar-benar bisa aku simak. Sebelumnya, memang aku pernah menonton full house karena dampak teman-teman asramaku itu. Tapi sepertinya tidak cukup membekas untuk membuatku terkesan dan kecanduan. Atau mungkin aku yang belum terlalu mengerti.

Pinochio sukses membuatku mengacungkan jempol. Ternyata adikku tidak membual. Entahlah, apakah ada hubungannya dengan kisah kami yang juga telah ditinggalkan bapak, sehingga semakin menambah melankolis perasaan kami. Yang jelas, bagiku saat itu, drakor sangat berbeda dari sinetron indonesia. Jauh berbeda.

Dari pinochio, aku yang menyukai aktris utamanya, mulai mencari drakor dan film lain yang dibintanginya. Penasaran bagaimana dia berakting menjadi tokoh lainnya. Dari drakor itu, aku pun mulai menyukai aktor lain dan mencari tau tentangnya. Begitu seterusnya sampai kemudian aku kecanduan stadium 1 dengan drakor. Dan jumlah drama yang telah ku tonton berhasil membuat minusku bertambah drastis. 😣😥

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, aku bukannya kecanduan. Hanya saja tidak bisa memendam rasa penasaran. Dulu saat sekolah, ketika masih gemar membaca novel, sulit sekali melepas novel itu dari tanganku. Rasanya ingin cepat dilahap habis. Tak memandang waktu, bahkan perut lapar sekalipun masih bisa ditahan. Yeah, aku terlalu tergila-gila dengan cerita hingga tak ingin menghentikan sensasi kenikmatannya. Rasanya seperti terhisap ke dalamnya. Begitu pun saat menonton drakor marathon, I guess.

Begitulah perkenalanku dengan ‘sinetron jaman now’ itu. Saat ini pun aku masih menyukainya, walaupun sudah mulai mengalami titik jenuh.

Tak seperti kebanyakan pecinta drakor, aku menyukainya bukan karena wajah mulus tanpa cela oppa unnie-nya. Well, memangnya film apa yang tidak merekrut pemain dengan pesona di atas rata-rata? 🙄 cantik tampan di dunia entertain itu mutlak, jadi bagiku, itu terlalu biasa.

Yang membuatku tertarik dengannya, salah satunya adalah bahasa. Entah bagaimana dan sejak kapan aku mulai menyukai bahasa asing. Sejak SMP, saat aku begitu benci bahasa inggris, tak pernah terlintas sedikit pun bahwa aku suka bahasa. It’s a big big no. Aku lebih suka IPA dan matematika. Tak pernah bahasa.

Namun kemudian, setiap ada orang yang berbicara bahasa sunda, bahasa jawa, bahkan bahasa batak, aku seakan terpesona. Diam menyimak dan menikmatinya. Saat aku menonton Detective Conan Movie, aku pun mulai suka dengan bahasa Jepang. Saat sempat menonton Complices al Rescate dalam bahasa aslinya, aku pun tertarik. Bahkan bahasanya Meteor garden.

Dan tentu saja, aku pun menyukai bahasa kitab suciku, bahasa Arab. Tak melewatinya setiap ada kesempatan untuk belajar bahasa tersebut.

Back to topic. In my opinion, in my case, only just for me (🤣), inilah plus minus alias matematika drama korea:

+ Aku jadi mengenal berbagai profesi dan dunia di dalamnya, seperti wartawan, jaksa, pengacara, polisi, detektif, guru, dokter, dll. Mereka benar-benar membuka wawasanku.

+ Hampir semua drama dan film yang kutonton, ada nilai bermanfaat yang disampaikan baik tersirat ataupun tersurat. Kata-kata bijak, nasehat, inspirasi yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

+ Cermin yang merefleksikan hubungan antar manusia. Hubungan antara suami dan istri, ibu dan anak, ayah dan anak, antar saudara kandung, guru dan murid, atasan dan bawahan, senior dan junior, dll. Beberapa adegan membuatku tersadar, aah begitu rupanya. Jadi itulah alasan dibalik sikap seperti itu, jadi begitu seharusnya sikapku bila di posisi itu, bla.. bla.. bla..

+ Guru ekspresi. Salut melihat bagaimana beberapa tokoh mengekspresikan perasaannya, mengungkapkan apa yang dipikirannya dengan baik. Bagiku yang mengalami kesulitan mengungkapkan perasaan face to face, itu jelas jadi pelajaran berharga.

+ Budaya hormat kepada yang lebih tua sangat kuacungi jempol. Sulit mendeskripsikannya, tapi bahasa formal dan sikap hormatnya seringkali membuatku berkaca.

– Tak bisa dipungkiri, budaya non muslim bisa sangat bertentangan dengan budaya muslim. Seperti budaya mabuk-mabukan yang pasti ada dalam setiap dramanya. Juga konsep reinkarnasi atau janji-janji konyol dan kepercayaan tak berasaskan Tuhan yang seringkali diangkat.

– Lagi, tak jua bisa dihindari, romantisme dalam drama hampir selalu pasti ada. Kissing terkesan wajar bak berjabat tangan di Indonesia.

– Sayangnya, dunia profesi yang memberiku wawasan itu ada di negeri nun jauh di sana. Bisa jadi tak sama dengan di Indonesia. Mungkin juga malah jauh berbeda. Akan menyenangkan bila produksi film disini mengangkat tema-tema seperti itu.

– It’s always happy ending story. Bagiku ini bukan plus, karena bagaimana pun, realita tak pernah seindah cerita. Ini bisa berpotensi khayalan tinggi akan kesempurnaan atau sikap tak bisa menerima keadaan.

– Wasting time and hurting my self. Waktu berlalu saat menonton marathon tanpa ada produktivitas yang nyata. Kesehatan mata pun memburuk. Benar benar kerugian yang real.

So, setelah tahu plus minusnya, apakah aku merekomendasikan drama korea?

TIDAK

Why? Karena aku tipikal yang tidak bisa mengendalikan diri ketika sudah memulai dengan episode 1. Dan detik demi menit pun melalui jam.

Seorang teman crafter pernah berkata “aku ngga mau kehilangan waktu menjahit”. Yup. Beliau sangat benar. Waktu untuk menonton 20 episode mungkin setara dengan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan 10 tote bag yang siap dijual. Sungguh rugi, bukan?

Selain itu, terus menatap layar membuat leherku sakit dan migrainku kambuh. Pun minus mata semakin bertambah. Benar-benar rugi.

Lalu, apakah aku akan berhenti menyukai dan menontonnya?

TIDAK. Tidak dalam waktu dekat. Aku masih tetap menyukainya, dengan segala keistimewaanya. Namun, aku sedang mengurangi durasinya. Mengurangi sampai tahap mengakhiri, seperti halnya hubunganku dengan musik. Syukurlah aku termasuk yang cepat bosan. Cerita klise kemungkinan tidak akan membuatku tertarik. Belum lagi aktor-aktor baru yang tidak ku kenal. Ancaman justru bisa datang dari drama lama dengan aktor yang sudah ku kenal. Tapi selagi tak ada faktor pencetus, aku tak mudah untuk tergoda. 😁

Seperti seseorang yang ingin berhenti merokok, aku percaya kecanduan drama korea itu bisa dihentikan. Hanya butuh dorongan kuat dari dalam dan luar dirinya.

Karena sebagus apapun drama korea, harus kuakui, tak ada yang lebih bermanfaat selain menatap Al-Quran dan membacanya. 😊

4 respons untuk ‘Matematika Drama Korea

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s