Rumput di Taman

Saat mengatakan indahnya kehidupan seseorang, sebuah pesan tersirat dalam kalimat itu, menandakan yang berbicara tidak merasa kehidupannya lebih baik dari seseorang itu.

Tapi, benarkah seseorang itu merasa kehidupannya sangat indah? Merasa beruntung dengan jalan hidupnya yang dipandang cerah oleh sebagian orang?

Benarkah kehidupan orang yang mengatakan kalimat itu tidak lebih baik dari seseorang itu? Tampak suram di mata orang yang melihat?

Karena bisa jadi yang dikomentari tak merasa lebih baik dari yang mengomentari. Bisa jadi, ada siklus tak berujung dalam pandangan mata kehidupan seseorang.

Tak ada yang tahu, kecuali Yang Maha Tahu.

Hanya saja, saat kalimat itu didengar oleh yang bertanggung jawab atau yang seharusnya bertanggung jawab, yang diandalkan atau yang seharusnya bisa diandalkan, rasa itu menelusup ke sudut hati, membawa jeruji melukai setiap yang terlewati.

Ia seperti bayi, tergores kecil pun bisa membuat sang pemilik merasa terkucil. Karenanya, kalimat itu tak seharusnya ada, tak perlu ada. Hanya memandang tanpa kata, tersenyum saja agar tak menambah beban luka.

Just say, Alhamdulillah, tanpa harus menyiratkan kesah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s