Tanya Jawab Matrik IIP #7

1⃣ Wiwit :
Alhamdulillah senangnya dapat materi ini menambah tingkatan pengetahuan ke bunda produktif. Dari materi sesi ke-7 ini yang paling saya garis bawahi yaitu Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR”. Yang masih mengganjal di hati & pikiran saya, ketika kita telah menemukan aktifitas yang membuat kita berbinar-binar & berniat ingin menjadikan diri kita bermanfaat bagi orang banyak, tapi justru terkadang masih merasa belum mantap karena masih ada rasa takut mengorbankan & lalai terhadap amanahNya. Misal: saya senang sekali saat menjadi dosen, ketika berbagi ilmu, pengalaman dan tidak sekedar mengajar tetapi memotivasi mahasiswa dan melihat respon positif mereka membuat saya bersemangat & berbinar-binar, tetapi terkadang saya masih ragu apakah sebaiknya waktu yang saya gunakan lebih baik digunakan bersama anak & keluarga. Mohon pencerahan dari pengalaman tim fasil tercinta 😘 Jazakillah khairan katsiraa 😊🙏🏼

➡ Bunda Wiwit, keraguan dan ketakutan hanya akan menjadi mental block. Jika bisa mencapai keduanya yakni; mengajar dan membersamai anak maka lakukanlah keduanya. Tentunya dengan jadwal yang sudah kita atur sedemikian rupa sehingga tidak akan melalaikan salah satunya. Rasa takut akan kelalaian itu harus dihadapi dan dikelola. Catat apa poin Amanah Allah yang kita harus jalankan bersamaan dengan misi produktif kita. Terapkan kuadran kegiatan. Evaluasi hasil apakah keduanya berjalan seirama. Sematkan do’a padaNya dalam setiap langkah kita keluar agar bermanfa’at juga untuk keluarga yang kita tinggal sementara, karena itu adalah salah satu parameternya. ✅

 

2⃣ Siti muslihah
Bagaimana tanggapan Bu Septi & fasilitator tentang pendapat pikiran kalau uang hasil kerja sendiri (ibu bekerja di ranah publik) bisa bebas peruntukannya dan terkadang kalau ibu rumah tangga (ibu tidak bekerja) kesannya banyak merepotkan suami dalam hal finansial karena seperti hanya mengandalkan uang dari pemberian suami…

➡ Bunda Siti Muslihah, sesuai dengan materi kali ini yang kita garis bawahi adalah bukan perkara rupiahnya maupun asal penghasil sumbernya, namun produktivitas Ibu professional adalah nilai manfa’atnya. Seberapa besar diri kita memiliki nilai kegunaan bagi pemberdayaan diri dan orang lain/keluarga kita. Karena Rizki tidak selalu terletak pada uang yang kita hasilkan, maka pikiran yang disampaikan mbak Siti menjadi tidak relevan juga. Bebas peruntukan maupun merepotkan suami hanyalah frame pikiran yang membatasi. Yang jauh lebih penting adalah akan dipergunakan bagaimana harta yang dihasilkan, karena yang halal akan dihisab yang haram akan diazab. ✅

 

3⃣ Tantia
Apa ciri-ciri bunda sayang dan bunda cekatan sudah berhasil dan bisa melangkah ke jenjang bunda produktif?

➡ Bunda Tantia, yuk kita inget lagi materi #2 tentang Ibu Profesional;

BUNDA SAYANG

a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?

b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?

c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?

d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?
BUNDA CEKATAN

a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?

b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.

c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?

d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

Jika seluruh pertanyaan di atas telah dapat kita jawab secara positif mantap, dan seluruh indikator profesional yang sudah kita buat di NHW#2 terkait bunda sayang dan bunda cekatan maka kita sudah siap melangkah ke bunda produktif

Lalu persiapan berikutnya

BUNDA PRODUKTIF

a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?

b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?

c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?

d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?✅

 

4⃣Maria susanti
Menjadi ibu produktif itu awalnya saya berpikiran seorang ibu yang bisa menambah pendapatan keluarga (materi) ternyata di IIP matrikulasi berbeda. Jadi mba seandainya saya sudah:
1. menambah syukur
2. menegakan taat
3. membagi mamfaat
Berarti saya termasuk seorang bunda produktif ya? Tolong minta di ulas lagi mba tentang 3 hal di atas berkaitan dengan bunda produktif. Terimakasih

➡ Bund Maria, persis!, seperti itulah maksudnya, InsyaAllah Rizki mengikuti. Jadi begini. Produktif di sini lebih kepada: jalankan misi utamanya, baik di dalam rumah maupun publik bergairahlah dalam melakukannya, efek sampingnya rizki datang dan mengalir menghampiri sendiri. Kalaulah bisa sambil membersamai anak, lalu membuat project yang menghasilkan rupiah maka Alhamdulillah, jika tidak maka jaga gairah manfa’at dan bertawakallah, barangkali Rizki dikirim melalui moda “kendaraan” lain.✅

 

5⃣ Febi
Manakala kita bekerja di ranah publik, misalnya pelayanan ke masyarakat, ada amanah yang kita emban. Di sisi lain, amanah keluarga juga jangan sampai diabaikan. Apakah bijak jika kita meminta keluarga untuk mengerti bahwa kita memiliki tanggung jawab dalam mengemban amanah pekerjaan di ranah publik sehingga tidak bisa selalu hadir secara fisik? Pantaskah kita beralasan bahwa bekerja di ranah publik adalah sebagai bentuk mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab?

➡ Bunda Febi, lihat kembali. Apakah dengan bekerja di ranah publik menambah kemuliaan keluarga kita atau malah sebaliknya. Jika ranah publik yang kita emban memang bernilai misi hidup maka komunikasikan kepada keluarga, pada saat seperti apa kita harus full diluar. Beri alasan paling mulia pada peran kita di publik. Karena jika menggunakan alasan mandiri dan tanggung jawab, maka sesungguhnya hal tersebut masih bisa ditularkan dan diteladani juga dari rumah.✅

 

6⃣ Hilma
Saya resign dari pekerjaan saya setahun lalu, karena ingin fokus mengasuh anak. Saya sadar akan resiko nett income kami menjadi berkurang untuk memenuhi kebutuhan kami. Akhirnya saya memutuskan untuk jualan online. Namun, setiap kali saya nge-gadget untuk promosi atau melayani customer, anak saya (2,5 thn) jadi rewel karena dia jadi ingin ikut main gadget dan akan menjadi rewel jika berhenti. Karena tidak ingin dia menjadi gadget addict, akhirnya saya off sementara jualannya. Saya tidak tertarik untuk ngantor lagi, usaha online sepertinya lebih cocok untuk saya. Saya ingin mulai berjualan online lagi karena untuk menutupi kekurangan pemasukan keluarga kami. Mohon saran bagaimana agar saya bisa tenang berjualan tanpa membuat anak saya rewel untuk tertarik ngegadget. Terimakasih.

➡ Bunda Hilma, menarik sekali. Bunda bisa menerapkan kandang waktu yang sudah dipelajari di NHW sebelumnya.

✔Terapkan waktu khusus yang bunda butuhkan untuk melakukan aktivitas pemasaran online. Atur strategi marketing Bunda yang tidak mengganggu jadwal kegiatan fitrah anak-anak. Misalnya: Kerjakan upload foto dan rekap pesanan saat anak sudah tidur/sebelum bangun

✔Terapkan rules marketing yang sesuai dengan kondisi. Misal: tidak harus selalu menjawab setiap pertanyaan yang masuk setiap saat di gadget. Bisa saja kita komunikasikan ke blog/IG jualan bahwa pertanyaan akan dijawab pada jam XX

✔Atau bikin list FAQ, sehingga pertanyaan dasar sudah terjawab.

✔Rekrut admin khusus

Dan masih banyak cara lainnya.

Yakinlah bahwa jika kita kreatif dan sungguh-sungguh rejeki yang menghampiri. Online selling hanyalah salah satu dari sekian cara dan media memperoleh Rizki 😊

 

7⃣ Marie
Untuk meningkat menjadi bunda produktif, kita harus menguatkan diri di sisi bunda sayang dan bunda cekatan, karena sejatinya kita harus menjaga amanah utama yaitu anak2. Idealnya, apakah sebaiknya kita tidak masuk ke ranah produktif dulu sebelum tahap bunda sayang dan bunda cekatan beres? Trus bagaimana jika hal yang membuat mata kita berbinar-binar itu ada di ranah publik? Apakah harus ditunda dulu? Mohon pencerahan. Terima kasih.

➡ Bunda Marie, idealnya iya. Beresnya dengan parameter seperti pertanyaan nomor 3 diatas. Bagi ibu bekerja di rumah tunda hingga kita bisa memenuhinya. Bagi ibu bekerja di ranah publik, kejar bunda sayang dan bunda cekatannya. Dengan begitu produktivitas kita optimal.✅

 

8⃣ Azay
“Menjadi produktif adalah bagian dari ibadah, sedangkan rezeki adalah urusanNya”. Berkaitan dengan kalimat tersebut, saya masih tetap saja bertanya-tanya pada diri saya sendiri. Saya bekerja di ranah publik, sampai saat ini saya masih berusaha untuk memperkuat pilar bunsay & buncek, tapi kok ya tetap aja rasa bersalah karena tidak bisa selalu hadir 24 jam untuk anak😭. Bertemu anak hanya 12 jam, dr jm 18.00-06.00 (sebagian besar waktu adalah waktu istirahatnya anak). Anak saya saat ini masih berumur 4 thn. Apakah yang harus saya lakukan? Mohon masukannya.

➡ Bunda Azay, rasa bersalah itu harus diidentifikasi, ukuran “salah” berdasarkan apa. Apakah karena Bunda tidak memenuhi indikator professional yang telah dibuat? Apakah porsi delegasi belum optimal atau apa. Satu hal penting juga yang harus dipahami, bekerja di ranah publik apakah urgent? Dalam hal ini jika memang harus bekerja karena ada Amanah lebih besar di Keluarga, maka siapkan semuanya. Bersama dengan anak juga bukan sekedar bersama. Maka hadirkan seluruh hati jiwa raga dan seluruh perhatian kita saat 12 jam itu dengan efektif dan hangat.✅

 

9⃣ Fitri Purbasari
Saat keinginan menjadi bunpro mendesak namun terganjal karena belum mapan di bunsay dan buncek gimana ya? 😞

➡ Bunda Fitri Purbasari, Sabar saja dan syukur. Tingkatkan implementasi bunsay buncek. Menjadi bunda produktif berarti menambah tantangan. Untuk itu kita harus yakin bahwa kita firm dengan tahapan awal ✅

 

🔟 Febi
Kalau suami sedang tidak bekerja di ranah publik (lebih banyak di ranah domestik), apakah peran manajer keluarga tetap tersemat pada ibu? Atau bagi-bagi peran manajerial, misal ibu manajer gizi, ayah manajer keuangan, dst?

➡ Bunda Febi, peran manager Keluarga tetap di Ibu, jika beberapa tugas bisa didelegasikan maka Ibu merupakan GMnya (General Manager) keluarga 😁 nanti tinggal didelegasikan saja misal perihal keuangan dihandle oleh suami sebagai day to day manager keuangannya. Tapi suami tetap report ke Bunda. Supaya bunda dalam mengambil keputusan dapat komprehensif. Manager itu harus membekali diri dengan strategic planning keluarga, sehingga pendelegasian tugasnya pun harus selaras.✅

Narsum
Jika belum ada yang bertanya, saya mau sharing lagi. Saya juga dulu ketika menerima materi ini bertanya-tanya dalam hati. Kemuliaan itu yang bagaimana ya, lalu kemudian mencoba pelan menggeser paradigma, dari bekerja untuk mendapat penghasilan menjadi bekerja untuk menuju misi mulia. Susah? Bangetttt! Tapi teruuuus aja merenung, apa yang akan kukerjakan demi mendapat nilai atas peranku. Kalo kata bu Septi kita harus menjadi bukti, saya mau sampaikan saya adalah salah satu bukti.

 

==========////===========

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s