Tanya Jawab Matrik IIP #6

—————————————————————————-
Tanya Jawab

1⃣ Mimil
Bun, sering kali ketika saya telah membuat schedule dan menjalankannya, kadang merasa seperti terjebak dalam rutinitas, ada rasa bosan, bagaimana cara mengubah kegiatan yang sudah rutin agar tidak hanya menggugurkan kewajiban dan kita tidak merasa monoton? Contoh, memasak, mengantar anak ke sekolah, padahal saya tau dan niatnya sudah bulat. Tapi kadang diri masih merasakan ada kebosanan. Bagaimana memelihara niat agar bekerja dengan hati? Bahwa semua ini bukan beban dan bukan rutinitas yang bikin bosan sehingga timbul keinginan menghindarinya. Terimakasih

➡1⃣ Jenuh dengan rutinitas itu hal yang sangat wajar mb mimil, saya pun kadang mengalaminya. Yang saya lakukan adalah tafkiyatun nafs, mengingat kembali peran hidup saya di dunia ini, lalu saya melihat lagi jadwal harian saya, apakah ada yang perlu diapdet supaya saya lebih nyaman terutama menyangkut tugas-tugas rutin harian, apakah saya bisa membuat rutinitas tersebut menjadi aktivitas yang menyenangkan, apakah saya sudah alokasikan waktu untuk refreshing sejenak dari rutinitas, dsb ✅
2⃣ Siti Muslihah
Bagaimana cara meningkatkan kompetensi diri pada periode galau (misalnya saat fisik drop, tanpa ART untuk delegasi, sementara suami juga sibuk kerja atau kerjanya LDR) kadang manusiawi merasa jenuh dengan rutinitas ranah domestik, bahkan kadang teringat juga ingin kembali bisa kerja di ranah publik (bidang yang juga membuat mata berbinar)?

➡2⃣ Lihat jawaban no.1 ya ☺

Jenuh itu sangat wajar, maka saat kita jenuh, kita coba berhenti sejenak (berpikir) untuk mengatur strategi yang lebih kreatif dan menyenangkan. Lalu bagaimana jika mengalami kelelahan? Maka silahkan bunda cek dan ricek, pasti ada ketidakseimbangan disana. Entah itu kita kurang istirahat, asupan kita kurang sementara energi banyak terbuang habis, pikiran kita butuh direfresh atau kita butuh me time. Coba diskusikan dengan suami dan anak-anak tentang hal ini.

 

3⃣ ulfa
Mengenai pendelegasian tugas. Yang ingin saya tanyakan adalah tentang pendelegasian tugas domestik kepada ART. Bertahun-tahun kemarin, saya bekerja hampir full day. Karena selain mengajar di full day school juga mengelola sebuah yayasan. Saya punya ART di rumah yang hanya membantu saya dalam tugas domestik. Sementara urusan anak, sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya dan suami. Sekarang saya resign dan merasa sangat tidak terampil dalam melaksanakan tugas domestik. Akhirnya saya memutuskan memberhentikan ART dengan hormat karena ingin belajar kembali menghandle pekerjaan rumah. Tapi suami saya berharap kami tetap punya ART karena beliau berharap saya lebih fokus dengan pengembangan diri saya (seperti yang saya tulis di NHW#1).

Mohon saran. Apakah saya harus mengikuti keinginan suami saya memilki ART (pulang pergi) atau saya tetap berusaha berlatih agar target saya tercapai (menjadi buncek)? Jazaakillaah khayran katsir..

➡3⃣ Teh ulfa, menjadi bunda cekatan bukan berarti semua harus ditangani sendiri ☺
Kalo sanggup (mampu dan mau) akan lebh baik, karena kita akan walk the talk. Tapi kalo tidak sanggup dan butuh bantuan, maka kita harus meningkatkan peran kita dengan mendelegasikan tugas kepada ART, tantangannya adalah bagaimana mendidik ART supaya bisa melaksanakan tugasnya sesuai dengan standar kita, itu juga salah satu target buncek. ✅

 

4⃣ Wiwit
Saya merasa tertampar dengan materi sesi ke-6 ini. Deeply Question! Apa motivasi ibu bekerja. Tetapi saya masih merasa kesulitan untuk cara yang ke-3 menangani kompleksitas tantangan menjadi ibu, yaitu Delegating. Terkadang saya ingin sesuai dengan standar saya saja (cenderung perfeksionis). Mohon pencerahan dari tim fasilitator? Jazakillah khairan katsiraa 😊🙏🏼

➡4⃣ Lakukan pendelegasian tersebut secara bertahap mb wiwit, sama seperti kita melatih anak kita.
Latih-percayakan-kerjakan-tingkatkan-latih lagi-percayakan lagi-tingkatkan lagi dst sampai mencapai standar yang kita mau ✅

 

5⃣ Maria susanti
Apakah tolak ukur kita BERUBAH atau KALAH itu mesti 10.000 jam terbang dulu ya? Kalau masih seperti itu juga aktifitas kita tiap hari berulang-ulang sampe bertahun berarti kita sudah dibilang KALAH ya mba. Bisa tolong dijelaskan mba?

➡5⃣ Kalo menunggu 10rb jam terbang baru tersadar kalo KALAH kok ya sayang banget ya mba 😅 Bisa kita cek dari milestones yang sudah kita buat, jika tidak ada peningkatan segera evaluasi ✅

 

6⃣ Nana
Saya tertarik dengan penjelasan ibu septi di bagian pengembangan peran. Apakah ada tipsnya, bagaimana agar kita bisa memulai, menemukan dan memperbanyak peran-peran yang bisa kita perkaya bagi seorang ibu?

➡6⃣ Peran seorang ibu itu sangaat banyak, mengurus finansial, guru, koki, perawat dsb. Pilih salah satu dari peran tsb, lalu tingkatkan levelnya secara bertahap mulai dari sekarang ✅

 

7⃣ Diyan
Saat masih bekerja saya lebih saklek dengan kerapihan rumah, jadi sering ngomel kalau saat pulang rumah berantakan, terutama saat suami di rumah bersama anak. Saat sudah resign, saya berusaha untuk menurunkan target kerapihan rumah, lebih santai dan tidak pakai ngomel-ngomel lagi. Tapi dalam hati saya ngedumel sendiri, saya jadi merasa ini tidak sehat, tapi ga mau pake ngomel juga. Saya cenderung cepat naik darah, kalo kata orang. Jadi bagaimana saya sebaiknya bersikap ya mbak?

➡7⃣ Pilih kondisi yg paling nyaman buat mb Diyan 😘✅

 

8⃣ Tantia
Bagaimana menyikapi/apa yang harus kita lalukan jika ada tamu yang tidak diundang, misal tetangga tanpa janjian datang, dan ngobrol panjang lebar sementara agenda kita belum selesai? Di sisi lain tetangga tersebut juga butuh bantuan dari kita

➡8⃣ Kalo ini terjadi pada saya, saya akan luangkan sejenak waktu untuk tetangga tersebut, katakan 15-30 menit. Setelah itu saya akan katakan kalo ada urusan yang harus saya selesaikan, ngobrolnya disambung lain waktu ✅

 

9⃣ Nia
Apakah bunda sebagai manajer keluarga harus bisa melakukan semua hal dengan tangannya sendiri? Di saat anak-anak masih balita dan kondisi yang ga memungkinkan untuk ada asiten rumah tangga atau sarana bantuan lainnya dalam rangka pendelegasian tugas, bagaimana mengatur semua tugas ibu? Skala prioritasnya bagaimana?

➡ 9⃣ Prioritaskan yang paling PENTING dan MENDESAK dulu mb Nia, bertahap sampai yang paling TIDAK PENTING dan TIDAK MENDESAK
🔟 Laela
“Pendidikan anak sebagai aktivitas utama seorang ibu, jika harus mendelegasikan ke orang lain adalah pilihan terakhir”. Apakah disini bisa diartikan sebagai Home schooling adalah pilihan yang terbaik? Atau tergantung pada anak, dan bagaimana melihat anak lebih cocok HS atau sekolah untuk anak usia preschool (4-6 th).

➡🔟 Menurut saya bukan soal HS atau sekolah formal, pada dasarnya amanah yang kita emban sebagai orang tua adalah “Mendidik Anak” dengan ilmu dan akhlak yang baik. Jika kita merasa ilmu kita kurang, maka tugas kita untuk selalu upgrade kemampuan tersebut ✅

diskusi tambahan
🔉 Tria
Jadi sebenarnya, apakah kita yang menentukan kita sanggup untuk HS atau anak yang menentukan dia mau sekolah formal atau HS dengan kita di rumah?
➡Saya juga sempat galau menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak, di saat pilihan untuk HS menggiurkan. Tapi memang benar schooling atau unscholling, mendidik adalah kewajiban ortu, home education adalah keharusan bagi kita
➡Saya pribadi menyerahkan pilihan tsb kepada anak. Jika dia senang dengan sekolah formalnya maka saya akan berkolaborasi dengan guru-gurunya, saling melengkapi, itu yang saya lakuian sekarang
➡Ibu madrasah utama dan pertama, sekolah hanya ikhtiar untuk mengisi waktu anak saat saya tinggal bekerja di ranah publik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s