Tanya Jawab Matrik IIP #4

Sesi Tanya Jawab*

1⃣ Bunda Wiwit :

Untuk materi ke 4 ini Mendidik dengan Kekuatan Fitrah. Well noted utk KM 0, Tsunami informasi, tahapan ilmu serta yang paling intinya: Pahami Fitrah yg dibawa anak sejak lahir (Fitrah Ilahiyah,Fitrah Belajar,Fitrah Bakat,Fitrah perkembangan,Fitrah seksualitas dll).

Saya ingin sekali bisa memahami aspek-aspek fitrah yang ada pada anak kita, karena saya masih awam. Mohon berkenan untuk penjelasannya lebih detail mengenai fitrah-fitrah yang ada pada anak kita tersebut masing-masing: Fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah perkembangan, Fitrah seksualitas, dll. Jazakillah khairan katsiraa :)🙏🏼

1⃣bunda Wiwit

Fitrah Ilahiyah (keimanan)

meliputi spiritualitas, moralitas dan religiusitas. Setiap anak dilahirkan untuk mencintai Tuhannya yang selanjutnya akan membentuk karakternya (akhlakul karimah). Pada usia dibawah 7 tahun, fitrah ini sangat mudah dibangkitkan dengan imajinasi dan abstraksi tentang Allah, Rasul, kebaikan dan segala ciptaan-Nya.

Fitrah belajar

adalah keinginan untuk mempelajari sesuatu secara alami, tidak perlu diajarkan secara khusus. Kita hanya perlu menemani dan mengarahkan, hal apa yang disukai anak. Jika anak suka sains, fasilitasi dengan buku, bisa juga melihat dan mengamati tumbuhan atau makhluk hidup disekitarnya. Dalam bukunya Origins, Annie Murphy Paul membuktikan bahwa bayi selama 9 bulan dalam kandungan telah mampu menyerap apa yang terjadi diluar tubuh ibunya. Dalam sebuah penelitian tahun 1999 di kawasan kumuh di India, dilakukan eksperimen dengan meletakkan sebuah komputer di tempat umum yang memungkinkan di sentuh anak-anak. Walau tanpa diajarkan, ternyata anak-anak itu mampu mengoperasikan komputer. Bahkan jika komputer itu menggunakan bahasa asing.

Fitrah Bakat 

meliputi Talent, Passion & Strength. Setiap anak adalah unik dan memiliki sifat bawaan masing-masing yang kemudian akan berkembang menjadi karakternya. Dengan karakternya, akan berkembang bakat yang akan menjadi misi hidup yang spesifik untuk bisa berperan dalam peradaban.

Masa-masa keemasan untuk mengembangkan fitrah bakat ini adalah usia 10-14 

Biasanya di usia ini anak sudah mulai menentukan satu bidang yang dia sukai dengan lebih serius.

Fitrah Perkembangan

Segala yang ada di muka bumi memiliki sunnatullah tahapan pertumbuhannya masing-masing yang berkorelasi dengan dimensi waktu dan dimensi kehidupan.

Ada masa dimana benih atau biji ditanam dan disemai, ada masanya benih bertunas, ada masanya tumbuh cabang dan daun, ada masanya berbunga, ada masanya berbuah begitu seterusnya.

Untuk setiap masa itu ada cara dan tujuannya masing-masing. Dalam sunnatullah perkembangan atau pertumbuhan ini maka tidak berlaku kaidah “makin cepat makin baik”, juga jangan terlalu terlambat untuk tiap tahapannya. Segala sesuatunya akan indah bila tumbuh pada saatnya.

*Analogikan diri anda seperti petani organik*

Petani organik itu tidak pernah menggegas dengan menambahkan berbagai macam hal-hal yang tidak alamiah. Para petani ini ingin menemani tanaman itu tumbuh sesuai dgn kehendakNya. Tidak memaksakan proses sehingga hasilnya dipaksakan sesuai kehendak kita sang perawat.

Fitrah Seksualitas

Secara fitrah seksualitas, anak lelaki mulai lebih didekatkan kepada ayah agar tumbuh fitrah kelelakiannya secara alamiah, begitupula anak perempuan mulai lebih didekatkan pada ibu agar tumbuh fitrah keperempuanannya secara alamiah baik individu maupun sosial. Pada puncak tumbuhnya fitrah seksualitas ini, maka fitrah peran seksualitas ini akan menjadi adab pada orangtua, adab pada perannya sebagai lelaki, adab pada perannya sebagai perempuan dalam skala personal maupun komunal. ✅
2⃣ Bunda Laela

Mendidik anak sealamiah mungkin, saya belum begitu paham tentang itu, bisa dijelaskan lebih detail? Apakah yang dimaksud sealamiyah itu sesuai tahapannya jangan terlalu terburu buru mengajarkan ini itu atau bagaimana? Trimakasih sebelumnya

2⃣bunda Laela

Betul. Buatlah pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan buat anak. Jangan pernah memaksa anak untuk bisa semua hal. Tapi kuatkan di bidang yang anak kuasai. Maka itu akan lebih bermakna. 

Jangan paksakan anak burung untuk jago berenang, karena dia hanya jago terbang.

Dan jangan paksakan ikan untuk jago terbang, karena dia hanya jago berenang.

Jadi fokus pada kelebihan anak bukan pada kekurangannya.✅
3⃣ bunda Nira

pada point di mendidik anak dengan fitrah, mendidik anak dengan sunnatullah, realnya seperti apa?

 3⃣ bunda Nira

Pertanyaannya sama seperti bunda Laela. Saya tambahkan lagi ya. Tugas kita sebagai orangtua hanya menemani proses pembelajarannya, tumbuh kembangnya. Jika ingin melihat indikatornya, bandingkan dengan dirinya sendiri dimasa yang lalu. Jangan pernah membandingkan anak kita dengan anak yang lain.

Contoh: sekarang anak kita senang membaca buku. Padahal setahun yang lalu dia belum bisa membaca.

Sekarang anak kita sudah bisa merapihkan sepatunya sendiri. Padahal setahun yang lalu masih melepas sepatu sembarangan.

Bersyukur dan beri pujian atas pencapaiannya.

Buat hal-hal yang ingin dicapai lebih baik lagi oleh anak kita tapi dimulai dari yang sederhana dulu dalam kegiatan sehari-hari sesuai usianya. Jangan terlalu memaksakan.✅
4⃣bunda Ika

Di poin: Rancang program yang khas bersama anak. Ini seperti apa ya? apakah setiap hari kita membuat aktivitas khusus untuk masing-masing anak? atau bagaimana ya? Terima kasih..

 4⃣bunda Ika

Iya. Buatlah rencana kegiatan. Misal minggu ini kita mau main apa ya? Mau kemana dan nanti disana ada nilai pembelajarannya.

Karena sampai usia 12 tahun selama anak belum aqil baligh maka pasti anak akan senang bermain atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

Dan setelah aqil baligh, biasanya anak tidak lagi selalu ingin berada disamping kita. Lanjutkan dengan menjadikan anak sebagai *sahabat* ✅
 5⃣ Ibu insiyah 

Mba, saya ibu 3 anak, yang pertama 12 thn alhamdulillah masuk pesantren, yang kedua umur 3 thn 10 bln, yang ketiga 4 bln. Yang ingin saya tanyakan apakah salah jika yang menentukan pilihan sekolah itu orang tua, anak saya yang kedua itu aktif banget makanya saya memasukkan sekolah TK dari umur 3 thn, apa itu terlalu dini?

5⃣bunda Insiyah

Sebaiknya dalam menentukan sekolah, kita berikan beberapa pilihan kepada anak kita, mau masuk kemana? Ajarkan anak berdiskusi dan belajar menentukan pilihan.

Diberikan anak yang aktif itu anugerah sebenarnya. Dan sebagai orangtua kita harus berlatih sabar dalam menghadapinya.

Kalau menurut bunda sendiri, anak kedua bunda nyaman kah disekolahkan sejak dini? Pernah kah dia mengeluh capek atau bilang kalau dia maunya di rumah aja sama bunda dan adiknya?

Coba ditanyakan bun.

Kalau si anak tengah merasa senang dan nyaman, menurut saya sih tidak masalah.

Tapi kalau ternyata dia merasa dijauhkan dari adik dan bundanya sebaiknya jangan disekolahkan dulu. Berarti dia belum mau. ✅
6⃣bunda Azay

Bagaimana cara membersamai/ menemani di waktu bersama anak yang ideal bagi seorang ibu yang aktif di ranah publik (tidak bisa 24 jam bersama anak) agar tetap bisa mendidik anak sesuai fitrahnya?

6⃣bunda Azay

Kalau saya pribadi selalu meluangkan waktu di hari minggu khusus untuk anak-anak. Karena ketiga anak saya mondok di pesantren. Dihari minggu itulah kami orangtua berusaha membersamaianya diberi waktu dari pukul 9 pagi sampai 5 sore.

Terserah anaknya mau dibawa kemana untuk lepas kangen kangenan 😅

Biasanya saya selalu ajak *ngobrol*. 

Membawakan makanan atau buah kesukaan mereka. Sambil makan atau sambil jalan-jalan. Sekedar menanyakan perasaannya, bercanda, bermain, baca buku, dan melepas lelah dan kejenuhan mereka selama 6 hari dengan aktifitas yang padat. 

Saya selalu merancang waktu untuk 3 hal:

*me time* waktu saya untuk sendiri

*we time* waktu saya hanya berduaan dengan suami, dan

*family time* waktu bersama keluarga.

Semua waktu itu berusaha kami penuhi sekali dalam satu minggu.

Bagaimana dengan bunda? Bunda pasti punya waktu kosong. Misal dimalam hari sebelum tidur, saat makan malam bersama. Silahkan gunakan untuk ngobrol bareng keluarga.

Jangan sampai kita berguna bagi orang lain tapi anggota keluarga sendiri merasa kehilangan. 

Coba berusaha buat manajemen waktu yang baik.

Hal ini bisa juga ditanyakan ke mba nia yang punya pengalaman dalam membersamai anaknya saat sepulang kerja dimalam hari. Karena beliau juga bekerja diranah publik.✅

Nia ➡ Menambahkan penjelasan dari mbak Zy, setelah bunda memahami apa saja jenis fitrah maka kita terapkan diri kita sebagai “Manajer Keluarga”. Manajer berarti kita yang mengatur dan mengelola apa saja yang keluarga kita butuhkan termasuk soal menjaga fitrah anak dan pendidikannya.

Nah sebagai ibu bekerja di ranah publik, ibu sebagai seorang manajer keluarga dapat mendelegasikan tugas tersebut. Sehingga tugas kita untuk menyampaikan atau mengedukasi pihak yang kita berikan tanggung jawab dalam menjaga anak kita selama kita bekerja. Diskusikan dan obrolkan bersama. 

Bu Septi juga bercerita, dulu ketika anak-anak bu Septi kecil ada asisten untuk mengurus anak, bu Septi ajarkan berbagai cara yang telah dipikirkan Bu Septi. Contoh: cara berkomunikasi dengan anak, cara mendampingi membaca buku. Bu Septi mengajak asistennya ikut seminar parenting, dsb. Dan pada akhirnya asistennya tersebut saat ini sudah memiliki sekolah tk sendiri. 🙂 

Dan jika saya pribadi saya juga punya waktu komitmen diantaranya:

1. Pada saat jam istirahat saya selalu sempatkan telfon anak saya untuk mengobrol. 

2. Saat sampai rumah, setelah siap sudah mandi makan sholat menghela nafas, saya serahkan sepenuh jiwa raga saya untuk anak. Kegiatan apapun yang ia inginkan. Mengejar ketertinggalan saya di ranah Bunda Sayang dan Bunda Cekatan

3. Weekend full untuk anak menjalankan family project or family trip. Main bersama. Jika ada kelas IIP 2 jam, maka akan dikondisikan kembali.

Kelihatan berat? Pada awalnya iya. Saya pun demikian tapi ini konsekuensi saya memilih ranah publik. Saya gak mau anak ketinggalan karena excuse saya bekerja.

InsyaAllah bagi saya ini investasi, mumpung masih ada umur dan rizki tenaga.

Kadang beberapa hari dalam sebulan apabila saya pulang lebih larut atau saya lelah amat sangat saya minta maaf pada anak karena tidak optimal. Itu saja. Agar anak ridho.
7⃣Bunda Nurul

Assalamualaikum. Apakah ada tips yang mudah kita terapkan manakala ada perasaan apa yang kita lakukan dalam mendidik anak kita tidak sebaik keluarga yang lain. Niat awal untuk menjadi gambaran atau contoh, namun seringkali malah jadi merasa terintimidasi. Merasa banyak kurang, merasa jauh tertinggal. Terima kasih

7⃣ bunda Nurul

Rumput tetangga memang terlihat lebih hijau ya 😅 Sebaiknya kita segera merenung. 

Model pendidikan keluarga kita sebaiknya berdasarkan gaya belajar anak-anak kita sendiri. Kita tidak bisa terus menerus meniru gaya belajar orang lain. Karena sudah pasti kebutuhannya berbeda beda.

Mengambil sisi positif dari orang lain itu boleh boleh saja. 

Bahkan di Ibu Profesional kita mengenalnya dengan istilah ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi)

Jadi.. bunda bisa saja melihat model pendidikan dari keluarga lain.. asalkan di modifikasi dengan kebutuhan masing-masing anak kita. ✅
8⃣ Bunda Diyan

Menilik tahapan-tahapan dalam mendidik anak dengan kekuatan fitrah menurut saya sesuai modelnya bila dilakukan dengan sistem homeschooling. Saya berminat sekali dengan sistem ini tapi anak saya cenderung ingin masuk sekolah formal. Tahun ini belum saya daftarkan karena saya baru saja resign dan ingin PDKT lagi sama anak. Bagaimana saya harus bersikap? Tetap sounding tentang HS atau menuruti dulu keinginannya sambil tetap sounding? (Duuh maksa banget saya ya)

8⃣bunda Diyan

Bu Septi pernah menawarkan kepada anak-anaknya. Beliau memberikan 3 pilihan sekolah terbaik yang cocok dengan value keluarganya atau belajar di rumah bersama ibu dan bapaknya.

Dan setahu saya si sulung mba Enes pernah sekolah di sekolah swasta pilihannya sebelum akhirnya homeschooling juga.

Jadi memang sebaiknya berikan pilihan dengan segala konsekuensinya dan dengarkan pilihan anak. 

Jika di tengah jalan akhirnya dia memutuskan ingin HS jangan pernah menyalahkan pilihannya. Karena semua itu terjadi karena kehendakNya. Dan pasti ada pelajaran yang bisa diambil.

Pengalaman saya, anak pertama dan kedua pindah sekolah sampai 2x dan baru memilih mondok di pesantren dengan keinginannya sendiri. Dan saya sebagai orang tua tidak pernah menyesali perjalanan itu. Karena banyak hikmah yang bisa kami jadikan pelajaran dalam hidup ini. ✅
9⃣bunda Marie

Pertanyaan : Bagaimana cara memahami fitrah anak sejak lahir? Dan bagaimana meyakinkan diri kita sebagai ortu dan anak kita bahwa itu adalah fitrahnya.

9⃣bunda Marie

Fitrah berasal dari akar kata fa-ta-ro dalam bahasa Arab yang berarti membuka atau menguak. 

Fitrah sendiri mempunyai makna asal kejadian, keadaan yang suci dan kembali ke asal. Dalam Islam terdapat konsep bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah. *Sumber: wikipedia*

Jadi sebagai orangtua, kita hanya mengarahkan agar si anak tetap menjadi makhluk ciptaanNya yang harus taat dengan melewati tahapan dalam hidupnya hingga kembali padaNya. ✅
*Diskusi tambahan*

❓❓Gimana membuat anak eksplorasi dengan alam tapi di lingkungan rumah susah dapat kebun atau kolam apalagi sawah hehee. Ada kebun orang lain.

⏩Ijin aja ke kebun orang jika dibolehkan asal jangan merusak hehe
❓❓Mba Zy, mengembangkan fitrah Ilahiyah itu bagaimana caranya ya? Fitrah ini cenderung terlewati, padahal merupakan dasar. apakah fitrah-fitrah ini bentuknya bertingkat ya? maksud saya, fase-fasenya seperti piramida.

⏩Tetap sesuai usia mba.

0-7 tahun perbanyak main dengan alam terbuka untuk menanamkan nilai ketuhanan.

7-14 tahun mulai mendisiplinkan ibadah dengan konsisten

14-21 pendalaman keimanan untuk mempersiapkan anak menjadi makhluk sosial yang bermanfaat untuk sesama dan mempersiapkan anak memasuki tahap menjadi manusia dewasa #imho
❓❓Mba.. Cara utk menguatkan rasa ingin tau anak gimana ya? Anak saya yang pertama di usia balitanya saya rasa banyak sekali ingin tau, dilihat dengan banyak tanya. Sekarang di usia yang mau tujuh tahun, porsi bertanyanya agak melemah. Memang begitu fitrahnya atau ada pola yang salah ya?

⏩Rasa ingin tahu yang besar dan banyak bertanya adalah ciri-ciri anak yang cerdas. Jadi sediakan waktu untuk menjawab pertanyaan anak.

Ada kemungkinan anak merasa diacuhkan atau dibentak saat bertanya itu juga bisa menyebabkan anak jadi enggan bertanya lagi..

⏩Husnudzon saya, dia kadang sudah menemukan jawabannya sendiri sebelum akhirnya banyak tanya 😂 Tapi ya saya kangen sama dia yg cerewet tanya ini itu.. Memang kompleks sih pertanyaannya jadi kadang mungkin anak kurang terpuaskan dengan jawaban ibunya. Semoga Allah selalu bimbing kami.. Terima kasih mba Zy 😇 

⏩Aamiin.. sebagai orangtua.. kita memang harus pintar menjawab pertanyaan anak. Jika memang tidak tahu, ajak anak mencari jawabannya dengan bertanya kepada orang lain yang lebih tahu atau cari di google 😂
❓❓Hampir mirip pertanyaan say… bedanya kemandirian… usia dini kemandiriannya sudah terlihat, usia bertambah malah semakin menurun dan selalu minta dilayani… 😰

⏩Menurut saya bundanya kurang “tega” dalam mendisiplinkan anak.

Karena untuk melatih kemandirian anak butuh ketegasan. Jika bunda atau ayahnya pernah melanggarnya. Maka anak akan kendor kedisiplinannya
❓❓Mba zy, jika anak usia pra sekolah yang belum bisa menentukan apa-apa yang menyenangkannya (menurut saya sih ini 😬), kira-kira butuh berapa kalai atau berapa lama kita coba di satu hal, sampai kita tau dia suka atau tidak. Misal kita sedang mencoba mengenalkan renang, diperjalanan dia bilang gak suka. Apa kita langsung turuti beralih ke yang lain atau lihat perkembangan sampai berapa lama?

⏩Menurut ippho santosa 90 hari waktu yang cukup untuk menentukan apakah kita memang masih menyukai kegiatan tersebut atau tidak. Jika ia dalam waktu tersebut sudah bosan bisa diganti dengan kegiatan lain. Jika tetap menyukainya. Teruskan..bisa jadi itu passionnya
❓❓Saya mau tanya..Saya suka khawatir karena curriosity anak saya seperti tidak ada habisnya. (usianya 7 tahun). Kemarin pulang sekolah dia minta diajarin perkalian. 🙈 (Alhamdulillaah penjumlahan dan pengurangan sudah mampu dikuasai). Tapi saya agak khawatir, kalo perkembangan secara kognisinya terlalu cepat. Seperti hal nya dulu, di usianya menjelang 5 tahun, saya belum mau mengajarinya membaca tapi dia sudah banyak bertanya dan minta diajari membaca. (mungkin karena hampir setiap hari dia melihat saya membaca buku saya sendiri atau membacakannya cerita).  Padahal saya hampir tidak pernah membahas pelajaran sekolah saat di rumah. Jikapun bertanya hanya melakukan review sesekali tentang pengalaman belajarnya, apa yang baru dia tahu, dll. Tapi lebih sering dia duluan yang cerita. 🙈Ummi.. Tadi aku belajar ini, tapi aku masih bingung. Padahal udah dijelasin. Ummi ajarin aku ya? Saya lebih banyak bertanya tentang dengan siapa dia bermain? Apa yang seru di sekolah hari ini? Dll.. Karena orientasi saya saat ini, yang penting anak saya senang belajar, dan senang berteman. Apa yang sebaiknya saya lakukan..?
⏩Curriosity anak yang besar sangat bagus. Jadi tidak perlu dikhawatirkan. Yang tidak boleh, kita memaksakan kehendak kita agar anak bisa ini bisa itu. Tapi kalau anak yang meminta mengapa tidak diajarkan bun? Barangkali memang itu kebutuhannya. Cepat dalam belajar sehingga bisa terjadi sebaliknya jika dia sudah banyak tahu tapi tidak ditambah pengetahuannya nanti dia akan bosan..#imho

Penutup

Ingat..

Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”. 

:):):):):)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s