Tanya Jawab Matrik IIP #3

Sesi Tanya Jawab

1⃣ Bunda Yeni
Jika luka masa lalu masih ada dalam kehidupan kita, bagaimana cara paling efektif untuk memaafkan orang yang membuat luka di masa lalu kita?
1⃣ Bunda Yeni
Bunda Yeni, luka yang kita alami bisa jadi itu akibat dari perilaku yang tidak baik. Perilaku itu bisa terjadi karena banyak sebab, bisa karna khilaf atau karena kefakiran ilmu, maka MAAFKANLAH SETULUSNYA.

Tidak ada jalan yang lebih melegakan selain memaafkannya. Sampaikan padanya bahwa kita sudah memaafkan perbuatannya. Doakan ia yang melukai kita diberikan hidayah Allah agar menemukan hikmah dari kejadiannya kepada kita dan disampaikan ilmu kepadanya bahwa hal itu tidak baik.

Lalu move on! Ganti peta pikiran kita yang bilang: “Dia orang yang melukai kita!” Menjadi: “Dengan apa yang dilakukannya, aku menjadi lebih kuat!”, karena nyatanya hingga detik ini kita masih dapat melanjutkan hidup bukan?

Maka selesaikan urusan yang belum selesai ini, sehingga kita akan melangkah dengan lebih ringan, tanpa beban.✅

 

2⃣ Bunda Wiwit
Subhanallah setelah menyimak materi pekan ke 3 ini, yang paling saya garis bawahi yaitu Membangun peradaban dari Rumah dengan mendidik anak sesuai Kehendak-Nya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Bagaimana langkah-langkah konkrit yang harus kita tempuh untuk mewujudkannya? Untuk mengarahkan anak kita sesuai Kehendak Nya 😊
2⃣ Bunda Wiwit, kuncinya jangan pernah menitipkan mimpi kita sebagai orang tua kepada anak. Biarkan anak-anak mengeksplore rasa dan minatnya sesuai fitrahnya. Fitrah keimanannya, fitrah perkembangannya, fitrah belajar dan fitrah lainnya. Di materi berikutnya akan kita pelajari bagaimana kita bisa belajar cara belajar. Sehingga kita bisa menggali potensi anak secara inside out bukan outside in. ✅

 

3⃣ Bunda Tantia
Bagaimana cara mendidik anak-anak sesuai kehendakNya bukan mencetak sesuai keinginan kita?
3⃣ mbak Tantia, pertanyaannya senada dengan Bunda Wiwit ya, sekali lagi tidak menitipkan mimpi kita kepada anak-anak. Misal: Saya ingin anak-anak jadi dokter karena dulu saya kepingin jadi dokter tapi karena tidak ada biaya maka tidak bisa. Kalau anak memang mau jadi dokter harus tumbuh dari keinginannya sendiri itulah inside out ✅

 

4⃣ Bunda Dinda
Bagaimana cara membuat visi misi keluarga? Apakah perlu dibuat checklist juga? Selama ini kami hanya membicarakan saja, belum menuangkan dalam tulisan, hehehe, terkadang autopilot, let it flow saja, bagaimana caranya mengembalikan ke fungsi dan harapan keluarga kami kembali?
Sungguh ketika saya memutuskan untuk menikah usia muda, banyak menaruh harapan terbaik, usia pernikahan kami hampir 11 tahun dan setelah mengikuti martikulasi ini saya merasa diingatkan kembali atas cita dan niatan awal kami, masih banyak yang tertinggal dibelakang😭
4⃣ Mbak Dinda, saatnya dimulai lagi untuk dituliskan, jika sekarang anak-anak sudah bisa diajak berdiskusi maka libatkan juga anak-anak. Dengan input bersama dan ditulis maka nanti akan ketemu apakah visi misi kita sudah on track sejak 11 tahun lalu, jika terasa adanya perlambatan maka cek kembali. Apakah strategi keluarga kita dalam menjalankannya sudah tepat. Karena pesan bu Septi dalam keluarga:

“There is NO FAILURE, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE our strategy.”

 

5⃣ Bunda Yekti
Saya dididik dalam lingkungan yang cukup keras dengan ortu saya., dimana saya harus disiplin, tidak boleh lemah dan mengeluh. Waktu saya kecil sangat sedih karena teman-teman bebas bermain, namun saya sudah punya rutinitas yang sudah diplot dari awal. Sesudah memiliki anak, saya merasa apa yang diajarkan ortu saya ada benarnya karena membentuk mental saya. Namun suami saya sebaliknya. Dibesarkam dari keluarga yang santai sekali. Kira-kira bagaimanakah menyatukan visi misi kami yang mungkin keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan. Trims
5⃣ Bunda Yekti, begitulah manusia diciptakan oleh Allah beragam latar belakang dari banyak hal termasuk pola asuh. Ketika pernikahan terjadi maka Allah telah ridho terhadap penyatuan dua insan yang berbeda dan pasti Allah memiliki maksud kita dipertemukan dengan pasangan kita.

Maka perbanyaklah ngobrol dan beraktivitas bersama, ini dua hal yang selalu ditekankan oleh Pak Dodik dan Bu Septi dalam implementasi visi misi keluarganya. Dengan ngobrol, heart to heart talk, pillow talk dengan pasangan maka akan muncul poin pendidikan keluarga apa yang bunda lebih unggul dan apa yang suami lebih unggul lalu bersinergilah.

Saya kutip pernyataannya Bu Septi relevan dengan hal ini:

“Menurut pengalaman saya dan pak Dodik, ternyata kuncinya adalah di nomor satu, penerimaan kita terhadap pasangan. Ketika secara lahir dan batin kami berdua sudah saling menghargai kehebatan masing-masing, menyiasati kekurangan-kekurangan yang ada pada kami. Hal tersebut memudahkan jalan kami untuk menemukan misi spesifik keluarga.” ✅

 

6⃣ BundaPoppy
Alhamdulillah saya dan suami sudah sejalan untuk masalah pengasuhan anak. Begitu juga saya merasa sudah selesai dengan masa lalu saya. Bagaimana jika malah orangtua kami yang belum selesai menitipkan harapan mereka kepada kami (saya terutama)? Contoh kasus, orangtua yang masih ingin saya melanjutkan karier di luar rumah.
6⃣ Mbak Poppy, yang diajarkan oleh bu Septi yaitu dengan mendengarkan dengan senyuman apa yang disampaikan oleh orang tua kita, hargailah pendapatnya dan keinginannya. Lalu kemudian pelan-pelan utarakan visi misi keluarga mbak Poppy kepada orang tua. Komunikasikan secara produktif, karena sebetulnya ini masalah komunikasi. Keberhasilan komunikasi manakala frame of reference dengan frame of experience sudah sama dengan orang tua, komunikasi akan lebih nyaman. Setelah itu cobalah pelan-pelan diyakinkan bahwa ini adalah jalan hidup yang telah kita yakini dan minta doa padanya sehingga akan kita buktikan keberhasilannya.

Kebanyakan orang tua hanya khawatir saja anaknya tidak berhasil terhadap pilihan tersebut. Saya coba tulis ulang yang pernah disampaikan Bu Septi, ketika ibunya ragu atas pilihan Bu Septi menjadi Ibu Rumah Tangga (redaksi tidak persis sama):

“Ibu, ketika perempuan belum menikah, ridho Allah terletak pada ridho orang tua. Setelah menikah, bagi seorang perempuan ridho Allah terletak pada ridho suami. Izinkan saya untuk dapat mentaati suami dalam bidang yang telah kami pilih sehingga Allah ridho pada saya dan Ibu beroleh pahala dengan ketaatan saya pada suami.”

Lalu ibu Bu Septi mengatakan

“Buktikan.”

Dan Bu Septi telah membuktikannya 😊

Demikian semoga ada inspirasi ✅

 

7⃣ Bunda Tria
Saya masih bingung dengan panduan 4 langkah memulai peradaban bersama suami 😁. Adakah tipsnya agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut?
7⃣ Mbak Tria, coba direnungkan mendalam dan berdiskusi dengan suami. Karena semua yang terjadi pada kita selalu ada tujuan dan maksud dari Allah. ✅

 

8⃣ Bunda Iya
Yang di maksud dengan “peran spesifik keluarga” dimuka bumi itu apa? Bukannya kita berkeluarga memang buat meneruskan keturunan dan melengkapi satu sama lain antara suami istri?
8⃣ Mbak Iya, betul. Namun jika hanya meneruskan keturunan saja apa bedanya dengan makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan. Allah katakan manusia adalah kalifatul fil ‘ardh. Setiap manusia sudah dibekali program untuk memberikan peran yang spesifik dari dirinya untuk mengumpulkan bekal pulang ke kampung akhirat.

Spesifik karena setiap keluarga tidak akan sama. Keluarga Bu Septi menjadi inspirator dan motivator. Nah kita coba gali yuk keluarga kita akan memberi peran apa dalam kehidupan ini, karena keahlian dan kondisi masing masing keluarga berbeda. ✅

 

9⃣ Bunda Arum
Bagaimana cara menentukan visi unik keluarga dalam membangun peradaban?
9⃣ Mba Arum, diselaraskan dengan keunikan dan passion keluarga kita.
Setiap anggota keluarga pasti unik namun dalam keunikannya masing masing memberi benang merah “ciri” keluarga kita. Maka gali passion bersama keluarga kita. ✅

 

🔟 Bunda Febi
Bagaimana cara terbaik menghilangkan “luka hati” pada anak karena kesalahan kita dalam mendidik di masa lalu, misalnya karena dulu belum bisa berkomunikasi dengan baik pada anak?
🔟 Mba Febi, minta maaf setulusnya pada anak. Tatap matanya dan sampaikan secara verbal kesalahan kita. Peluk dan cium lalu berkomitmen untuk memperbaiki kesalahan.

Selalu upgrade diri kita dengan tambahan ilmu terus menerus demi continous improvement bukan lagi continous mistakes. ✅

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s