Tanya Jawab Matrik IIP #2

Sesi Tanya Jawab

1⃣ Azay
Menjadi profesional itu sangat erat kaitannya dengan management waktu. Apalagi sebagai seorang ibu yang mempunyai banyak peran, sebagai hamba Allah SWT, sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu, sebagai seorang anak perempuan, sebagai seorang saudara perempuan, sebagai karyawan suatu perusahaan, sebagai anggota masyarakat, dll. Bagaimana contoh management waktu untuk menjadi profesional dengan banyaknya peran tersebut diatas?

1⃣ Mb Azay, menurut saya manajemen waktu satu orang dengan yang lain tidaklah sama karena peran hidup masing-masing orang tidak ada yang sama.
Tetapkan dulu peran hidup kita di dunia ini, fokus disitu, setelah itu:
– Buat prioritas (put first thing first)
– Kerjakan setahap demi setahap
– Jika perlu delegasikan tugas dengan orang lain✅

2⃣Atika
Sampai saat ini saya belum menemukan cara yang klik untuk mendidik dan mengarahkan anak (usia 6y dan 2.5y)..minat dan bakat anak pun belum terlihat jadi masih menunggu dan mengawasi
Itu gimana ya bu? Kadang suka galau sendiri kalau melihat anak seusia anak saya sudah kelihatan bakatnya.
Saya jadi merasa semua terasa mengalir tanpa konsep.

2⃣ Yakinkah mb Atika bahwa ‘setiap anak adalah bintang’? ➡ Setiap bintang punya cahayanya sendiri.
Apakah kita sudah membantu bintang kecil kita memancarkan sinarnya atau kita justru sibuk memperhatikan bintang-bintang yang lain?
Bagamana membantu supaya anak-anak kita bersinar? Dengan memberi mereka banyak ragam aktifitas yang menyenangkan buat mereka di usia 2-8 th.
Amati aktifitas apa yang begitu menarik perhatian mereka hingga terus diulang-ulang tanpa perlu kita minta. Begitu mereka Enjoy dengan aktifitas tersebut, maka mereka akan mudah (Easy) mengerjakannya. Beri tantangan supaya muncul keterampilannya (Excellent).
Jika tahapan ini kita lakukan, maka saat memasuki usia 9-14th anak-anak akan mulai fokus pada 1-3 aktifitas yang benar-benar diminatinya, bukan hal yang mustahil jika di usia ini beberapa diantara mereka bahkan sudah menghasilkan (Earn) baik prestasi maupun materi ✅

3⃣ Tria
Saya ingin menanyakan. Apakah utk hal aktualisasi diri (seperti aktif di suatu organisasi, atau bekerja seperti perawat, dokter, konselor), serta untuk manajemen waktunya akan kita dalami di tahapan ‘bunda produktif’? Jika tidak, kira-kira masuk di tahapan yang mana?

3⃣ Saya kutipkan jawaban dari bu Septi sbb:
“Di komunitas Ibu Profesional ini semuanya adalah IBU BEKERJA, baik bekerja di ranah domestik maupun ranah publik. Keduanya butuh profesionalitas. Sehingga harus mengikuti pijakan-pijakan yang ada.

Ibu yang memilih bekerja di ranah domestik harus menguatkan bunda sayang dan bunda cekatannya sebagai pijakan masuk ke ranah publik dengan dasar ilmu bunda produktif dan bunda shalehah.

Ibu yang memilih bekerja di ranah publik, harus menguatkan bunda produktif dan bunda shaleha dengan benar, agar bisa dengan cepat mengejar ketertinggalan di bunda sayang dan bunda cekatan”

Manajemen waktunya akan kita dalami di tahap mana? Ya di tahap yang kita sedang jalani saat ini✅

4⃣ Maria Susanti
Bagaimana cara kita meningkatkan kualitas untuk menjadi ibu pendidik terhadap anak-anak kita sedangkan di sisi lain anak-anak lebih cenderung buat mendengar serta belajar dan diajar sama guru di sekolah maupun di tempat ngaji atau pun tempat les-nya dan apa saja kiat-kiatnya?

4⃣ Perkuat pijakan di tahapan Bunda Sayang Mb Maria, saya pun sedang menata diri di situ 😊
Di sana banyak materi-materi yang bisa membantu kita supaya dekat lahir batin dengan anak. Jika melihat kondisi Mb Maria bisa jadi “komunikasi ke anak” belum clear. Maka perkuat materi komunikasi produktif. Mulailah ngobrol/curhat dengan anak, pelajari apa yang sedang mereka minati saat ini, supaya nyambung obrolannya. Coba menangkan hatinya dulu. Yang penting jangan pernah berhenti mengaplikasikan sebisa yang kita mampu. Teruslah berjalan, karena tugas kita hanya ikhtiar, hasil itu hak Allah. Pastikan apa yang Mb Maria jalankan sudah di jalur yg benar. Bismillah ya 🙏🏼✅

5⃣Suci
Apakah 4 tahapan menjadi ibu professional itu bisa dijalankan secara bersamaan? Misal ingin jadi bunda produktif melalui jualan online sambil tetap menjadi bunda sayang yang memperhatikan pendidikan anak-anak. Bagaimana kiat-kiatnya. Ataukah kita harus menguasai satu tahapan dulu baru melangkah ke berikutnya?
Saat ini saya ibu rumah tangga dengan dua anak, satu balita sangat aktif dan satu masih bayi. Saya juga nyambi punya usaha online dan Offline (ada toko, setiap hari saya ke sana). Tapi sering saya merasa keteteran. Juga kadang merasa bersalah sama anak karena merasa kurang optimal membersamai mereka. Kadang berpikir untuk menutup usaha dan kembali dulu ke rumah sepenuhnya baru setelah anak-anak beranjak besar mulai aktualisasi diri lagi. Tapi mentor saya bilang sayang karena bisnis saya sudah cukup dikenal namanya. Jadi saya dilema..
Ingin jadi bunda produktif yang juga tetap optimal menjalankan peran lainnya.

5⃣ Mb Suci, salah satu prinsip IIP dlm menimba ilmu adalah setahap demi setahap (one bite at the time), sedikit kita terima langsung praktekkan, dapat lagi tambahan ilmu, praktekkan lagi, begitu terus untuk mengasah keterampilan kita. Jadi kuasai dulu 1 ilmu baru beranjak ke ilmu yang baru supaya kita punya pijakan yang kuat.

Saat kita merasa keteteran, menurut saya itu adalah salah satu indikator ada yang ‘salah’ dalam sistem yang kita jalani. Balik lagi lihat peran hidup kita, sudah sesuai belum prioritas yang kita susun dengan peran tersebut, bagamana dengan manajemen waktu kita, susunan aktivitas harian dsb.

Apakah itu berarti kita tidak bisa multitasking? Tentu saja bisa, hanya saja usaha yang harus dikeluarkan tentu lebih besar ketimbang jika kita fokus pada 1-2 kerjaan. Ingat! Rejeki itu pasti, kemuliaan harus dicari ✅

6⃣ Dinda
Tahapan apa yang bisa dilakukan oleh seorang bunda yang bekerja di sektor publik tapi tetap bisa mengawal tumbuh kembang anak-anaknya dirumah. Saya bekerja dari jam 7:30 – 15:30 ditambah dengan 30 menit perjalanan untuk pulang pergi dr rumah ke kantor. Saya akhir-akhir ini galau karena jam kerja ditambah 30 menit jadi pukul 16:00, galau karena tidak bisa membersamai sholat ashar berjamaah😞

6⃣ Saya kembali kutipkan jawaban bu Septi sbb:
Tahapan bagi Ibu yang memilih bekerja di ranah publik, harus menguatkan bunda produktif dan bunda shaleha dengan benar, agar bisa dengan cepat mengejar ketertinggalan di bunda sayang dan bunda cekatan.

Satu hari 24 jam, bekerja di ranah publik 8-9 jam kerja maka pos waktu berikutnya adalah mengejar ketertinggalan waktu kualitas bersama anak. Pulang kerja harus diniatkan untuk mengisi energi baru membersamai anak-anak. Sambut kegirangannya dengan senyum lebar dan pelukan sehangat mentari, obrolan seharian, dongeng dsb. Tentunya jika bunda butuh waktu untuk menyiapkan diri (mandi, makan) maka mintalah waktu pada anak-anak untuk itu, kemudian kembali kepada mereka.

Dalam jelang tidurnya yakni saat dalam kondisi gelombang alfa, maka bisikkan kalimat positif bahwa bunda mengajak anak anak untuk ikhlas dan berdoa untuk bunda supaya kualitas kerja bunda baik dan efisien sehingga bisa tepat waktu pulang, berikan penguatan kita akan bercengkrama lagi selepas bunda di rumah dan saat weekend adalah saat-saat yang amat sangat dinanti.

Semoga sukses ya Bunda ✅

7⃣Poppy.
Setelah menjadi member tetap IIP, apakah ada pendampingan rutin dari bu Septi selaku pendiri?

7⃣ Mb Poppy dan bunda-bunda semua nanti kalau sudah jadi member, aktif ya di Komunitas IIP, silakan bisa jadi pengurus rumbel/kelas minat atau bahkan koordinator kota, sehingga bisa langsung belajar dengan bu Septi 😊 ✅

8⃣ Hilma
Dalam berproses menjadi ibu profesional, bagaimana kiat agar pandai memanaj emosi seperti rasa jenuh, letih, dsb?

8⃣ Mb Hilma, adalah sesuatu yang sangat manusiawi jika kita dilanda kejenuhan dan emosi saat merasa letih jiwa dan raga. Saya pribadi selalu mencoba mengukur kapasitas diri saat menerima sebuah aktivitas. Ikhlas tidak menjalaninya? Sanggup tidak mengawal sampai akhir? Jika tidak bisa, saya beranikan diri untuk menolak tawaran tsb.

Saat kejenuhan datang biasanya saya rehat sejenak, mengerjakan hal-hal kecil yang betul-betul saya suka. Kadang nitip anak ke suami, saya cuci mata di pasar. Hal-hal kecil tersebut terbukti mampu menjaga kewarasan saya selama ini 😁✅

9⃣Arssy
Sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak balita, saya juga ada bisnis online kecil-kecilan. Dalam bisnis online saya sering merasa belum total. Pertanyaannya, biasanya di usia anak berapa tahun saya bisa total dalam bisnis?

9⃣ Di usia anak brapa tahun bisa total dalam bisnis? ➡ Hanya Mb Arssy yang bisa menjawab hal ini karena visi dan misi masing-masing orang berbeda satu dengan lainnya.

Nanti kita akan bahas lebih mendalam di materi “Menemukan Misi Spesifik Hidup”.

1⃣0⃣ Eka Timur
Saya ingin sekali produktif di rumah (punya usaha dari rumah) tanpa meninggalkan anak dan urusan rumah tangga. Tapi sepertinya waktu sudah habis untuk urusan rumah. Kalau saya fokuskan ke usaha, anak jadi kurang perhatian. Bagaimana menyikapi hal ini..

1⃣0⃣ Pertanyaannya mirip dengan milik Mb Azay dan Mb Suci, silakan simak jawaban saya di atas ya 😊
Yang paling utama Mb Eka harus tentukan prioritas, apa yang mau diutamakan: urusan rumah atau usaha?

Prioritas ini penting supaya kita bisa fokus sehingga bisa memberikan hasil yang maksimal ✅


Diskusi bebas
🔉Syifa
Di bagian pertanyaan dalam indikator keberhasilan ibu profesional, “apakah suami makin senang dan bangga melihat cara istri mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam mendidik anak makin tinggi”,
Apa perbedaannya sikap suami yang memang cuek terhadap pendidikan anak di rumah dengan kita yang belum berhasil di tahap bunda sayang (kalau merujuk ke kalimat tadi)?
jawaban:
▪Mb Syifa, ada suami yang senang terlibat dengan pendidikan anak, ada juga yang terliat cuek. Janganlah hal tersebut menghalangi kita untuk bersikap profesional. Karena untuk merubah sekitar, kita dulu yang harus berubah 😊
🔉Jadi blm tentu berarti kita yang “gagal” dalam tahapan bunda sayang ya bun?
Yg penting mah action terus, indikator yang itu nomor sekian. Gitu bun?
▪Selama kita yakin bahwa kita on the track, lanjut aja terus, indikator itu nanti akan terlihat sendiri
🔉Ulfa:
Berarti usia 2-8 tahun memang masa observasi ya mbak? Bisa dibilang begitu kah? Karena anak saya banyak sekali keinginannya 🙈🙈
Dia suka art. Suka cookery juga. Semangat LTQ juga. Sekarang malah pengen ikut karate. 🙈
Berarti kita harus upayakan eksplorasi sebanyak-banyaknya agar dia menemukan ‘passion’ nya. Begitukah..?
Karena kadang saya bingung. Kok banyak banget minatnya.. 🙈

▪Difasilitasi aja mba, tugas kita kan cuma menemani ☺
Sambil kita observasi mana dari sekian banyak aktivitas itu yang bisa bertahan lama.
▪ 2-8 dikenalkan dengan banyak aktifitas tapi harus memilih maksimal 3 aktifitas yang disukai anak. Nanti pada akhirnya anak akan bosan dan akan memilih yang paling disukainya..

🔉
” Tahapan bagi Ibu yang memilih bekerja di ranah publik, harus menguatkan bunda produktif dan bunda shaleha dengan benar, agar bisa dengan cepat mengejar ketertinggalan di bunda sayang dan bunda cekatan. ”
Mohon dijelaskan lebih lanjut dengan paragraf 1 jawaban diatas☝
▪Bagi ibu yang bekerja di ranah publik, maka profesionalisme di tempat kerja harus terbawa di rumah, bahkan harus lebih baik. Misal jika kita tepat waktu di kantor maka harus tepat waktu juga di rumah. Jika di kantor bisa mengelola bawahan dengan baik, maka di rumah juga lebih baik lagi mengelola anak dan ART.

4 thoughts on “Tanya Jawab Matrik IIP #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s