Tidak menyentuh luka

Kejadian menarik pagi ini aku alami saat berangkat ke kantor dengan debbie. Karena sedang ada perbaikan jalan, margonda arah UI setelah juanda selalu macet. Aku tidak memperhatikan detail, tetapi tiba-tiba sopir mendadak menginjak rem bersamaan dengan suara logam bertabrakan. Aku terkejut sekaligus khawatir. Tabrakan kah?

Terlihat olehku seorang bapak dengan perawakan tinggi kurus dan berkaca mata berdiri di depan debbie dan kemudian berjalan menghampiri sopir. Sebelum berkata-kata, sopir itu lebih dahulu berbicara kepada si bapak.

“Lagian masuk-masuk siih.”

Tanpa mengomentari perkataan sang supir, si bapak membuat isyarat kepada sopir untuk memundurkan mobilnya. Ternyata motor si bapak masuk ke kolong mobil. Itu yang menyebabkan suara logam tadi.

Si bapak menuntun motornya ke pinggir jalan. Karena ada polisi dari arah depan yang menghampiri, si sopir pun meminta kepada si bapak untuk menyelesaikan masalah tersebut di depan (setelah melewati polisi, karena tidak ingin polisi turut campur). 

Setelah mengatakan pada polisi kalau itu hanya accident kecil dan sudah melewatinya, si sopir memarkirkan mobil ke pinggir dan turun untuk mencari dan menyelesaikan masalahnya dengan si bapak. Ternyata si bapak sudah pergi dan tidak menganggap kejadian tersebut butuh penanganan lebih lanjut. Si sopir pun naik dan bergumam seakan berbicara dengan penumpang pria di sebelahnya.

“Ia lah udah jalan, orang dia yang salah, main masuk-masuk aja. Kalau dia bener mah pasti ngotot itu.”

Aku termenung dan membayangkan kembali ekspresi si bapak yang seakan terluka. Entah apakah memang dia merasa bersalah atau bukan, tapi memang ekspresinya tidak menunjukan amarah sama sekali. Dan aku menjadi kasihan.

Kasihan karena walaupun tidak ada luka fisik, mungkin si bapak luka batin. Terlepas dari dia salah atau tidak, tapi dia pasti terkejut dengan peristiwa itu. Bisa jadi dia lemas tapi dikuat-kuatkan. Dia pun menuntun sendiri motornya tanpa dibantu siapapun. Ditambah lagi dengan perkataan sopir yang menyalahkannya. Walaupun si sopir tidak menyalahkan dengan nada emosional dan si bapak pun tidak menyanggahnya, aku merasa kata-kata itu tidak tepat waktunya.

Aku juga tidak bisa menyalahkan si sopir. Dia mungkin mengatakan kalimat tersebut karena tidak ingin disalahkan. Dan memang, setiap ada peristiwa tak terduga yang tak mengenakan, pada umumnya manusia akan lebih dahulu mencari siapa yang harus disalahkan dari peristiwa tersebut.

Padahal, daripada langsung menyalahkan, bukankah kata-kata seperti “Bapak baik-baik saja? Apa ada yang terluka? ” terdengar lebih baik dan manusiawi?

Tak ada siapapun di dunia ini menginginkan hal buruk terjadi padanya. Kecelakaan? Siapa juga yang menginginkannya? Bahkan bagi orang yang memang ingin bunuh diri, aku yakin ada sedikit suara hatinya yang tidak menginginkannya.

Seperti anak kecil yang terlalu aktif sampai tersandung batu. Umumnya, sang ibu akan mengomeli anaknya yang tidak mau diam atau mengomeli batunya. Padahal mungkin yang paling dia butuhkan lebih dahulu adalah perhatian. Dia pasti shock dan terluka. Luka fisik ditambah luka batin bila lingkungan langsung mencercanya.

Seperti saat bapak meninggal dalam kecelakaan. Para tetangga heboh menanyakan bagaimana kejadiannya? Nabrak atau ditabrak? Dan segudang pertanyaan lain yang seakan-akan menunjukan bahwa ada yang perlu disalahkan dari kecelakaan tersebut. Dibanding menanyakan kronologis dan mengomentari dengan sekenanya di saat mereka tidak benar-benar ada di TKP, bukankah jauh lebih baik kalau memperhatikan psikologis keluarga, menghibur dan membantunya?

Tapi, itulah manusia pada umumnya. Dan berlaku juga untukku. Mungkin itu karena kebiasaan, atau mungkin juga karena cara pandang dan pola pikir. Yang jelas, aku masih butuh belajar. Kita, masih butuh belajar, untuk tidak menyentuh luka.
Jakarta, 11 Oktober 2016, 9:11 WIB

9 respons untuk ‘Tidak menyentuh luka

  1. Menurut saya yang paling penting malah supaya hati-hati kalau berkendara, jadi bisa menghindar dari kejadian yang tidak kita inginkan. Tapi memang serem banget kalau sampai motor masuk ke kolong bus itu… aduh amit-amit, semoga kita dijauhkan dari kecelakaan begitu. Soal apa yang (seharusnya) dilakukan kalau ada kecelakaan atau apa, kalau saya mencoba untuk tidak terlalu banyak bertanya. Paling nggak dengan irit bicara, kita bisa menghindarkan diri dari bicara hal-hal yang tidak perlu, hehe. Itu pendapat saya sih.

    • Ia, hati-hati itu penting. Tapi ada yang bilang, walaupun kita benar, di jalan itu kalau ngga ditabrak ya nabrak. Seringkali sekalipun kita hati-hati, tapi malah jadi korban yang tidak hati-hati. 😓

    • Ahahaha…
      Kupikir ini blog sudah ga ada yang nengok. Qiqiqi… Kemarin lagi seneng mainan craft nih 😸
      Kamu gimana kabarnyaa?? Aman sentausa disana? 😚
      Btw, no hp mu sepertinya hilang, ganti device sayah, hehe… 😀

  2. Di dunia ini nggak ada orang yg mau disalahkan walopun sebenarnya dia salah. Rasa empati sudah mulai berkurang. Postingan ini bagus banget, jadi bahan perenungan. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s