Seperempat Abad

a late post, one year ago

Tahun berganti tahun, tak ada yang spesial saat bertambah umur kecuali fakta bahwa langkah semakin mendekati ajal.


 

Aku bukan orang yang suka merayakan bertambahnya usia. Dari kecil pun tak pernah dibiasakan di keluarga. Bukan tidak suka sih, tapi karena itu bukan budaya Islam, maka kucoba untuk tak pedulikan.

Namun, tak bisa kupungkiri, aku tipikal orang yang suka dengan surprise. (Tapi mungkin semua orang memang suka dengan kejutan ya)

Seperti yang terjadi di bulan September 2014 . Saat aku memasuki seperempat abad hidupku.

Kejutan pertama aku dapatkan dari teman kerja yang sebenarnya belum lama kenal. Dia baru masuk beberapa bulan sebelumnya. Satu hari setelah usiaku bertambah, tiba-tiba dia datang ke ruanganku dan memberi coklat. Wah, aku bahkan tidak pernah memberitahunya tanggal lahirku.

Hari berikutnya, di laci mejaku kembali tergeletak coklat, kali ini dari rekan seruanganku. Bahkan ada memo ucapannya segala. Padahal dia duduk tepat di sebelahku. Haha… Yah, kalau aku jadi dia, mungkin akan melakukan hal yang sama. Dibanding mengucapkannya langsung, lebih nyaman menuliskannya dalam secarik kertas.

25-1

Masih di hari yang sama, malamnya aku dapat kejutan tak terduga dari crew Debbie. Ia, debbie tercinta yang unyu-unyu itu. Di malam yang gelap, tiba-tiba terpampang di hadapanku sebuah kue dengan lilin menyala di atasnya. Dan diiringi kerusuhan-kerusuhan khas mereka, malam itu menjadi lebih berwarna dengan banyaknya gelak tawa. Hanya saja, karena suatu hal, hatiku tidak bisa benar-benar ikut merasakan kegembiraan itu.

Puncaknya, keesokan harinya, bosku ikut-ikutan kasih surprise. Dia pesan campina ice cream cake untuk merayakannya. Sayangnya aku lagi shoum jadi tidak bisa ikut merasakan dinginnya kue yang terbuat dari es krim itu dengan teman-teman sekantor. Kebayang dong aku ngilernya kayak apa waktu itu. Es krim gitu looh!!!

25-2

Well, itu adalah seperempat abadku yang sangat berkesan. Moment paling banyak aku dapat kejutan. Kenangan indah yang aku tahu tak kan pernah terulang.

25, angka yang sakral bagiku. Karena selain kenangan itu, aku juga punya impian yang sakral. Namun setahun berlalu dan dia telah berganti angka, impian yang tak pernah terwujud itu pun kehilangan powernya. Walau mimpi itu tetap ada, tapi tak akan sama lagi.

Jadi, apa aku menyesalinya?

Ya, seandainya Islam tidak melarangnya.

6 thoughts on “Seperempat Abad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s