Pembantaian

Aku memandang adikku yang tergeletak di depanku. Di atas kasur busa tanpa dipan. Membolak balikkan badan seakan tidak tenang. Tubuhnya yang kurus, mukanya yang tirus, seakan menampakkan bahwa dia sudah melalui hari-hari yang menyedihkan. Adikku memang tidak mengakuinya. Dia menjalani kehidupannya seperti biasa, layaknya anak kecil lainnya. Ke sekolah, bermain, mengaji. Walau sesekali aku memergokinya sedang resah, tapi dia tetap tidak mengeluh. Entahlah, apakah aku harus bangga atau iba melihatnya. Tapi satu hal yang pasti, aku harus membantunya untuk lepas dari kesusahannya selama ini. Kesusahan yang disebabkan oleh mereka.

Hari ini aku berniat untuk melawan mereka. Kubawa serta semua peralatan yang kira-kira akan aku butuhkan. Berdiri di belakang adikku, menjadi benteng pertahanan. Aku ajak adikku untuk memusnahkan mereka. Menghampiri tempat persembunyian mereka dan membunuhnya satu persatu. Rasanya aku ingin membantai mereka sampai habis.

Ah, itu dia. Aku menemukan satu dari mereka. Kubunuh ia sampai tak bergerak lagi. Tak jauh dari situ, bisa ku lihat yang lain mengintip dan mencoba untuk lari. Tapi tak ku biarkan ia hilang dari pandanganku. Aku semakin beringas, membunuh semua yang kutemui tanpa ampun. Aku hanya ingin membalaskan dendam adikku.

Tanganku bergerak lincah tanpa henti mencoba melawan mereka. Tapi semakin lama energiku semakin berkurang. Oh tidak. Jumlah mereka semakin banyak, seakan tidak ada habisnya. Aku tidak yakin bisa mengalahkan mereka semua. Mereka mengerahkan seluruh pasukannya, dari yang berbadan besar sampai yang kecil. Tapi yang kecil justru menyakitkan dengan gigitannya. Aku rasa aku butuh bantuan. Tapi aku tidak bisa mundur, aq tidak bisa menahan keinginanku untuk menumpas mereka dan menyelamatkan adikku. Tanganku bahkan tidak ingin berhenti bergerak.

Tapi, satu suara kecil dan lembut adikku akhirnya benar-benar menghentikan gerakan tanganku. “Mba, udah dong nyariin kutunya. Aku mau main nih.” Dan kemudian adikku itu pun pergi. Aku pasrah. Menyerah kalah. Membiarkan dia pergi bersama pasukan kutunya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s