Hanya bagi yang masih peduli

Melihat kemacetan dimana-mana
Kemiskinan merajalela
Kriminal tak memandang usia
Bencana kian gemar menyapa

Duhai mirisnya, sungguh bosannya.
Tapi mau menyalahkan siapa? Penjahat? Penjajah? Pemerintah?

Alih-alih mencari siapa yang salah, bagaimana bila mencari solusinya saja.
Moral, itu pokok masalah. Iman, itu solusi utama.

Negeri kita memang sudah rusak. Rusak moralnya, rusak sistemnya. Tapi apakah kerusakan itu harus kita diamkan saja? Biarkan saja?

Bila memang moment esok adalah salah satu jalan mencoba memperbaiki semua kerusakan, kenapa tidak?

Bukan karena aku tertarik demokrasi, bukan pula karena hasil kaderisasi, tapi karena aku masih peduli.

Aku peduli terhadap nasibku, nasib keluargaku, keturunanku, bangsaku, terlebih agamaku.

Aku memang tidak bisa mengubah negara dalam satu kejapan mata, bahkan pun tak bisa mengubah kepribadian semudah menulis kata.
Namun bila seujung jari ini diberikan andil demi kebaikan untuk jaya, maka tak kan kusia-siakan bahkan jika kesempatan hanya tinggal 0,1% saja.

Aku peduli karena sadari, bila tak memilih kebaikan, maka kejahatan yang akan terpilih.

Tak ada lagi yang bisa dipercaya? Benarkah? Tapi aku percaya, diantara berjuta manusia, masih ada yang benar-benar peduli bangsa. Benar, ianya tak sempurna, karena memang tak ada manusia sempurna. Tapi yang masih berjiwa mulia, itulah sebaiknya pilihan kita.

Hanya islam, solusi semua permasalahan. Bukan, ini bukan diskriminasi, apalagi sara. Tapi simaklah sejarah, dalam kepemimpinan Islam yang sempurna, manusia apapun agamanya, damai dalam hidupnya.

Jangan campurkan agama dalam politik? Justru politik tak beragama yang merusak semua. Orang yang hanya memikirkan dompet dan perut saja.

Orang beriman pasti punya moral. Hanya orang yang percaya Robb-nya Maha Menyaksikan segala yang mampu mengontrol attitude-nya.

Karena org beriman, menang atau tidak, akan tetap menegakkan syariat, akan tetap berbuat manfaat.

Begini..begitu..begini..begitu..
Ah, alasan-alasan itu, mengapa terdengar hanya ego bagiku?

Tak perlu lah aku banyak berkata, banyak sudah analisa yang meruntuhkan argumen skeptis di luar sana.

Sekarang saatnya menjadi cerdas.

Jadilah pelajar yang cerdas,
Jadilah guru yang cerdas,
Jadilah pekerja yang cerdas,
Jadilah pengusaha yang cerdas,
Jadilah ibu rumah tangga yang cerdas,

Jadilah manusia cerdas, manusia yang cerdas memanfaatkan kecerdasannya.
Jadilah manusia cerdas, manusia yang cerdas mensyukuri nikmat kecerdasannya.

berbuat, bukan hanya bisa menghakimi
berperan, bukan hanya bisa mencibiri

#karena ujung jari ini, begitu berarti
#hanya bagi yang masih peduli

-Indonesia milik Allah-
kusampaikan apa yang bisa kusampaikan
kulakukan apa yang mungkin kulakukan
selebihnya, aku serahkan
pada Sang Maha Merajai Segala Urusan

6 respons untuk ‘Hanya bagi yang masih peduli

Tinggalkan Balasan ke j4uharry Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s