Di Ujung Lelah

Bosan aku dengan perasaan ini. Apa yang bisa kulakukan? Tidak ada. Karena perasaan ini masuk tanpa pernah ku sadari. Menyusup pelan, tepat ke hatiku, ah bukan, langsung ke jantungku. Seolah aku siap mati.

Sebut aku tak punya logika, atau kamu mau menyebutku makhluk egois? Terserah! Itu hakmu. Yang jelas buatku, kamu tidak sopan. Memaksa masuk sebelum aku bukakan pintu. Hmm… sepertinya lebih tepat disebut maling. Kamu pencuri. Balikiiiiinn hatiku sekarang juga!!!

Brak!! Arini menutup buku diary-nya sekencang mungkin, lalu melemparkannya ke meja kerjanya. Dia kesal teringat sosok yang dua bulan terakhir ini terus menerus menggangu pikirannya. Mas Radit, seniornya di klub buku. Sosok tinggi besar yang dingin itu entah sejak kapan melumerkan bara di hatinya, mengganggu tidurnya, mengacak-ngacak ketenangannya.

***

“Hey, pulang bareng ngga?”

Arini menoleh ke sumber suara. Mas Radit telah berdiri di belakangnya dengan tatapan hangat dan senyum khasnya. Senyum itulah yang kemudian meluluhkan hatinya, begitu juga tatapannya. Membuat ia sering merindukan sosok di depannya itu.

Arini tersenyum, mengangguk tanpa bicara dan menutup pintu ruang klub baca. Sebenarnya dia sangat antusias dengan ajakan lelaki itu. Dia merasa aman di dekatnya, tapi juga sekaligus merasa tak nyaman. Entahlah. Atau mungkin sebenarnya dia hanya merasa tidak nyaman dengan hatinya sendiri? Ya, hatinya memang diam-diam mengharapkan lelaki itu. Hatinya tak kuasa menolak pesonanya sekalipun lelaki itu bukanlah tipe idamannya, sekalipun telah ada Edo di sampingnya.

“Kenapa? Kok diam aja? Biasanya bawel,” Mas Radit memecahkan keheningan diantara mereka tanpa melepaskan pandangan dari kemudinya.

Arini menghela nafas. Dia harus bicara apa? Sesungguhnya dia lelah dengan keadaan ini. Dua bulan terakhir, tenaga dan pikirannya terkuras karena perasaan ini.

“Mmm… Ngga apa-apa. cuma lagi pusing masalah kerjaan aja plus gaji dibawah standar yang ngga naik-naik.” Arini menghela nafas dan tetap memasang wajah murungnya. Ia tidak sepenuhnya berbohong dengan alasan itu. Situasi di kantornya pun sedang dalam masa kritis. Apalagi jika ia memikirkan hubungannya dengan Edo. Semua itu menambah deritanya. Ia merasa sudah berada di ujung lelah.

“Ngga usah sedih. Kamu tekuni aja hobimu, siapa tau bisa membawa rezeki sendiri,” hibur Mas Radit.

“Mau makan dulu nggak?” tanyanya lagi.

“Nggak, Mas. Aku belum lapar. Nanti aja di rumah bareng adikku,” tolak Arini lembut.

“Oke, kalau gitu nanti aku langsung pulang aja ya.”

“Siip…”

Arini tersenyum walau hatinya masih terasa suram. Untuk kesekian kalinya Mas Radit berhasil menenangkan hatinya. Tidak ada yang istimewa dari kata-katanya, namun nada bicaranya yang lembut membuat Arini merasa menemukan a shoulders to cry on. Ah, lelaki itu memang berbeda.

***

Arini sedang menulis di buku hariannya ketika sebuah bunyi beep dari handphonenya menyela pikirannya. Dia langsung mengambil handphonenya, dalam hati berharap pesan itu dari Mas Radit.

Namun ia harus kecewa saat nama yang muncul adalah nama Edo, seseorang yang membuat hati Arini semakin merasa lelah belakangan ini. Dengan setengah hati, Arini membuka pesan dari Edo.

“Beb, aku mau modif motor nih. Ada duit ngga buat nambah-nambahin?” Arini memandang layar handphonenya dengan kesal.

“Apaaa? Lagi?” jeritnya dalam hati.

Dia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi lelaki yang sudah dua tahun ini mengisi hari-harinya. Selalu saja soal uang. Hobi memodifikasi motor seolah lebih penting dari apapun juga. Padahal Arini sangat menginginkan hubungannya lebih jelas. Entah apa Edo juga memikirkan masa depan hubungan mereka atau tidak.

Saat seperti itu, bayangan Mas Radit selalu berkelebat di pikirannya. Ingin rasanya mencurahkan segala kegundahannya pada lelaki itu. Tapi dia tahu, itu tidak akan berhasil. Mas Radit terlalu dingin, terlalu cuek. Sekalipun sebenarnya dia baik, Arini tidak yakin lelaki itu akan mendengarkannya. Namun akhirnya, setelah menimbang-nimbang, sebuah pesan singkat ia kirimkan juga ke Mas Radit.”

“Mas..??”

Semenit, lima menit, sepuluh menit, setengah jam. Tidak ada balasan. Arini menghela nafas. Selalu seperti ini. Sepertinya Mas Radit memang terlalu jauh untuk dijangkau.

Arini hanya mampu terdiam memandang kelamnya malam. Ia ingin menangis. Entah untuk menangisi apa.

***

“Beb, gimana? Bagus ngga body terbaru si Rambo?”

Arini melirik lelaki di sebelah kirinya. Di sebuah bangku kayu di teras rumahnya, Edo nampak duduk tenang dengan terus memandang motor Ninjanya yang baru saja selesai dimodif. Tatapannya begitu bersinar dan bangga.

Arini memejamkan mata. Ia tak berminat menjawab pertanyaan Edo itu.

“Do, kemarin Mama nanyain lagi. Dia wanti-wanti tentang hubungan kita. Mama mau kita segera menikah.”

Kata-kata Arini berhasil membuat tatapan Edo berpaling dari motornya. Ia terlihat kaget tapi kemudian tersenyum. Dibelainya lembut kepala Arini.

“Beb, kamu sabar ya. Aku tau kok. Aku paham. Ini juga aku lagi cari kerjaan yang serius. Aku kan juga harus bertanggung-jawab memberi kamu nafkah nanti, aku mau punya pekerjaan tetap dulu baru menikahi kamu.”

Tapi kapan Do? Dari dulu selalu itu yang kamu katakan. Tapi sampai sekarang, aku masih tidak menemukan keseriusan dalam ucapanmu. Aku harus bertahan sampai kapan?

Arini hanya menyimpan kata-kata itu dalam hati. Ia sudah tak sanggup bicara banyak lagi. Ia lelah harus beradu argumen dengan Edo.

Lagi-lagi bayangan lembut Mas Radit membayanginya. Lelaki itu jauh lebih baik dan lebih bertanggung jawab dari Edo.

Mas Radit, kenapa bukan kamu saja yang lebih dulu masuk ke kehidupanku?

Arini semakin dilema, rasanya ingin sekali ia akhiri hubungannya dengan Edo. Tapi dia akan merasa sangat bersalah. Arini tahu persis betapa Edo begitu menyayanginya. Tapi ia juga sangat tahu kalau sebenarnya lelaki itu tidak bisa diandalkan. Hatinya sibuk mencari jawaban. Ia benar-benar lelah, tapi ia takut kalau rasa lelahnya ini hanya karena ada sosok Mas Radit di hatinya. Tapi memang tak ada lagi alasan bagi Arini untuk bertahan dengan Edo lebih lama. Ia sudah cukup memberi waktu pada lelaki itu.

Malam yang semakin larut tak membuat Arini mengakhiri kegundahannya. Sengaja ia menonaktifkan handphonenya agar dapat berpikir jernih. Kali ini dia benar-benar harus membuat keputusan.

***

“Dari kemarin murung terus, ada apa?”

Arini menoleh ke sebelah kanannya. Mas Radit masih dengan gaya cool-nya mengemudikan Daihatsu Teriosnya dengan santai. Seperti biasa, selesai melakukan kegiatan rutin di klub buku, dia selalu menawarkan tumpangannya.

“Ya begitulah Mas, kondisi kejiwaanku lagi kritis,” jawabku.

“Sakit jiwa donk?” katanya lagi sambil tertawa.

Arini hanya tersenyum. Ia menimbang-nimbang, mungkin ini saat yang tepat untuk mencurahkan segala kerisauan hatinya.

“Aku tuh sebenarnya…”

“Eh, laper nih, makan dulu yuk,” belum sempat Arini menyelesaikan kalimatnya, Mas Radit sudah menyela dan langsung mengemudikan mobilnya menuju parkiran salah satu mall bergengsi di Jakarta.

Arini menganga.

Sebenarnya dia niat nanya ngga sih? Giliran dijawab, ngga didengerin.

Ukh, Arini mendengus kesal. Menahan emosi dalam dadanya. Seharusnya dia sudah bisa menebak kalau Mas Radit tidak akan mendengarkannya. Terkadang, lelaki itu memang menyebalkan. Itu juga yang membuat Arini semakin senewen. Lelaki di sampingnya ini selalu membuatnya ketar-ketir. Suatu saat dia bisa sangat menyebalkan dengan gaya cueknya, namun sesaat kemudian dia bisa menjadi begitu penyayang. Benar-benar butuh kesabaran tingkat dewa untuk menghadapinya.

Ah, Arini sungguh tidak tahu apa yang ada di pikiran Mas Radit. Arini tidak tahu apa sesungguhnya yang dirasakan lelaki itu. Tapi semenyebalkan apapun Mas Radit, dia tetap tidak bisa marah padanya. Seakan dia rela mengorbankan apapun untuknya. Dan kenyataan itu benar-benar membuat Arini kesal, dan lelah.

***

Jarum jam dinding di kamar Arini sudah menunjukkan angka 12. Tak ada sedikitpun suara dari luar kamarnya. Hening dan sunyi. Mungkin saat ini hanya lampu kamar Arini yang masih menyala di tengah kegelapan malam. Ia tidak bisa tidur. Sudah dari tiga jam yang lalu ia merebahkan dirinya di tempat tidur, namun matanya tak kunjung mau terpejam. Ia menelusuri lagi kehidupannya selama dua tahun terakhir ini. Masa-masa awal hubungannya dengan Edo memang menyenangkan. Angannya terbang tinggi, bermimpi. Tapi dua bulan terakhir, seakan awan mendung menggelayuti perasaannya. Sikap Edo yang tak kunjung dewasa, juga kehadiran Mas Radit yang tanpa sadar meluluhkan hatinya.

OK. Cukup sudah. Arini tidak tahan lagi. Ia tidak bisa membiarkan situasi ini berlarut-larut. Ia tidak bisa terus menerus membiarkan kedua lelaki itu mengacak-acak kebahagiaannya. Pilihan sudah ditetapkan. Ia memilih untuk meninggalkan Edo dengan segala kebiasaan having fun-nya. Dan ia juga memilih untuk melupakan Mas Radit dengan segala ketidak-jelasannya.

Biarlah hati ini menyepi sejenak. Melepas lelah yang membebani perasaannya selama ini. Ia ingin sendiri.

Arini mengirim pesan singkat pada Edo dan sejurus kemudian terlibat percakapan serius di telepon.

Setengah jam kemudian, Arini mematikan telepon genggamnya dan tersenyum. Perasaannya jauh lebih lega. Semoga Edo bisa mengerti keputusannya. Dan tentang Mas Radit? Biarlah dia menjadi sepenggal kisah dalam jalan hidupnya.

Arini masih ingin bahagia, dengan caranya sendiri.

–tamat–

Cerita kolaborasi dengan Meta Mocca dalam rangka meramaikan #ALoveGiveaway

32 thoughts on “Di Ujung Lelah

  1. Ping-balik: Update List #ALoveGiveaway | Petrichor Majesty

    • =^.^= iya mbaa.. Padahal sempet buntu ide, tapi ternyata ga sampe seminggu udah kelar.😀

  2. Ping-balik: Update List #ALoveGiveaway | Words of 'Poetica'

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s