Menikahi cinta

Dinginnya gerimis sore tak lagi terasa di kulitnya yang berkeringat. Peluh yang bercampur rintik hujan pun tak ia hiraukan. Ia terus berlari. Tak peduli orang-orang menganggapnya sinting. Ia ingin lekas sampai. Ia ingin cepat menyelesaikan semua. Sebelum semua menjadi terlambat.

Terngiang-ngiang di benaknya kata-kata lelaki itu yang diucapkan padanya dua puluh menit yang lalu.
“Bersediakah kamu menjadi pendamping hidupku?”
Ah, siapa yang tidak mau mempunyai suami berkharisma sepertinya? Tak diragukan lagi kemampuan finansialnya karena karakternya yang pekerja keras. Ia pun dapat dipastikan bisa menjadi imam yang baik karena pemahaman agamanya. Baik keluarga maupun kerabatnya sepakat akan keluhuran budinya. Siapapun wanita normal tentu jatuh hati pada setiap jengkal kebaikannya, termasuk Nia.

Ya, Nia yang tak sedikit pun menghentikan larinya ini pun sebenarnya kagum akan kebagusan perangai lelaki itu. Hanya saja, ada yang mengganjal di hatinya. Hati yang diam-diam menyimpan harap pada seorang pemuda sederhana. Pemuda yang diharapkannya mengatakan apa yang baru saja didengarnya dari lelaki itu. Dan kini bayangan pemuda itu berkelebat di sepanjang jalan yang dilaluinya. Kenangan indah berdua yang selama ini disimpan dalam hati yang terdalam.

Nia terus berlari. Tak peduli genangan air mengotori sepatu dan pakaiannya. Tak peduli bajunya penuh akan basah. Pikirannya fokus pada satu tujuan. Sebuah terpal yang dipasang sebagai tenda di bawah pohon belimbing di ujung sungai Ciliwung, yang kini semakin jelas nampak di penglihatannya.

Terengah-engah ia bertumpu pada batang pohon jambu biji di sebelahnya. Sulit sekali mengatur nafas mengingat ia berlari hampir satu setengah kilometer jauhnya. Jantungnya terus berpacu cepat. Bagaimana ia dapat berbicara jika untuk bernafas normal saja tidak bisa?

Nia berdiri sejauh tujuh meter dari tenda, menunggu buruan nafasnya mereda. Dipandanginya sosok pemuda itu. Sekumpulan anak kecil duduk manis di depannya, di bawah terpal biru dengan beralaskan kardus tebal dan sehelai tikar. Mereka tampak bersemangat dan penuh perhatian mengikuti setiap kata yang diucapkan si pemuda.

Hampir enam bulan Nia dan pemuda itu mendirikan kelas sederhana untuk mengajar anak-anak yang tinggal di sepanjang sungai ini. Selama enam bulan itu pula ia mengagumi kepribadian pemuda itu. Pemuda yang pandai, sabar, penuh kasih sayang, dan banyak akal. Mungkin itu sebabnya ia selalu punya cara untuk mengendalikan anak-anak yang menjadi murid mereka. Ah, ia memang begitu mempesona.

Enam bulan memang bukan waktu yang lama, tapi juga bukan waktu yang sebentar untuk membuat rasa itu ada. Enam bulan kebersamaan yang cukup membuat hati Nia riang berloncatan sekaligus gelisah berkepanjangan. Nia menyimpan perasaannya dalam diam. Tak pernah berani diungkap. Ia menunggu. Menunggu pemuda itu datang padanya, memberikan kado terindah dalam hidupnya.

Tapi kini ia tak bisa lagi menunggu. Ia harus memastikan, apakah harapan itu nyata atau memang asanya tak pernah terbalaskan. Tapi bagaimana mengatakannya? Hampir saja ia menangis putus asa.

Lama Nia berdiri, tak beranjak untuk menghampiri. Ia masih menimbang-nimbang, kata apa yang pantas diucapkan. Lalu pemuda itu melihatnya. Memandangnya dengan senyum hangat yang seperti biasa. Nia tak bisa melihat adakah cinta di mata pemuda itu. Sesaat ia ragu. Haruskah ia melangkah maju bersama harapannya? Ataukah harus ia berbalik arah menemui lelaki yang memang mencintainya? Nia membalas senyum pemuda itu dengan mata berkaca-kaca. Sungguh ia tak tau harus bagaimana.

***

Jodoh, memang rahasia. Adakalanya ia nampak didepan mata, adakalanya ia tersirat, sembunyi tak terlihat.

Dan tentang menikah, menikahi orang yang dicintai, itu adalah pilihan. Tapi mencintai orang yang dinikahi, itu sebuah keharusan.

Nia menatap pria yang kini telah menjadi imamnya. Rasa cinta yang membuncah sejak didengarnya ijab qobulnya. Dipeluknya hangat pria itu. Pria yang telah bersedia menemani hari-harinya dengan segala suka dukanya.

Nia tersenyum. Matanya kembali berkaca-kaca. Tak ada yang perlu disesalinya. Kini ia bahagia dengan cinta sejatinya.

20 respons untuk ‘Menikahi cinta

    • Hmm..teori yang sepertinya benar tapi belum tentu kang. 🙂 faktanya, banyak yang menikah atas nama cinta namun perceraian jadi akhir kisah cinta mereka. Begitu juga sebaliknya. Mungkin cinta bukan segalanya yang dibutuhkan dalam pernikahan kang #soktau :mrgreen:

      • menurut saya tergantung dasar cintanya itu sendiri…kalo benar yg di nikahi itu orang yg di cintainya dengan tulus saya yakin keharmonisan dan ke bahagiaan akan tercipta…

  1. lho? itu jadinya sama si mapan apa sama si sabar? :p

    btw, nikah dulu baru cinta lho Uti 🙂
    jadi ‘jika nikah maka cinta’ bukan ‘jika cinta maka nikah’ 😀

    • pertanyaan cerdas. emang pinter deh ibu guru satu ini. 😛

      tadinya aku mikir, aku kayaknya salah bikin ending, kayaknya pada nangkep jadinya sama si sabar, padahal mau aku ngga gitu juga sih. maunya aku pada ngasih ide, jadinya sama siapa, karena aku juga ngga tau enaknya jadi sama siapa, bisa sama si lelaki, si pemuda, atau si pria itu bukan keduanya. hehe..

      kan kubilang, ini kegalauan pribadi, “bagaimana bila seandainya dilamar oleh seseorang, tapi hati tertarik pada orang lain”. :mrgreen:

      setuju sama “nikah maka cinta”, namun salahkah bila nikah pada seseorang yang disuka?? seperti fatimah dan ali 😳

      ________________________________

  2. Ping-balik: Jika x Maka y | Dyah Sujiati's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s