[CeRai] Pelangi dalam Sepotong Gulali

Putih, biru.

Langit???

Tapi aneh, sebab tak kurasakan sedikitpun angin membelai kulitku. Walau berat, kupaksakan juga mata lemahku mengedarkan pandangan. Begitu sepi, sampai-sampai bisa kudengar irama yang tak asing. Irama konstan yang mengalun dari sebuah benda bulat bersesak angka. Jam dinding. Ada jam dinding di bawah langit? Ah, rupanya aku keliru. Itu bukan langit, tapi langit-langit yang dilukis menyerupai langit.

Ini sebuah kamar. Bisa kupastikan dari penglihatanku yang mulai normal. Tapi, kamar siapa? Ini jelas bukan kamarku. Kamarku kecil dan berdebu. Sedang yang ini begitu mewah dan indah.

Kucoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi saat tiba-tiba tertangkap olehku sepasang mata itu. Mata asing yang terkejut melihatku. Bukankah aku yang seharusnya terkejut? Si pemilik sepasang mata tersenyum. Aku tak mengenalnya. Sungguh. Apa aku ada di dunia yang berbeda? Atau aku telah dilahirkan kembali dalam kehidupan selanjutnya? Atau, aku hilang ingatan??

Ah tidak, aku masih ingat namaku Dara. Andara Praduwinata. Aku pun masih ingat dengan wajah kedua orang tuaku. Aku masih ingat dengan sifat kakakku yang jail, adikku yang usil, dan si bungsu yang suka sekali ngemil. Ah iya, aku berjanji membelikannya gulali hari ini, di toko permen depan kampusku. Bukankah gulali itu sudah kubeli? Aku ingat dengan hujan yang tiba-tiba turun setelah keluar dari toko. Seharusnya sekarang aku sudah sampai di rumah dan menghadiahkan gulali pada si bungsu.

Lalu kenapa aku disini?

Oh ya, aku ingat sekarang, jazz merah metalik itu…

***

…tiga jam sebelumnya…

Andrian membesarkan volume suara VCD player di mobilnya. Ia abaikan getaran dan suara ringtone pada HPnya. Ia sudah terlanjur kesal, marah, murka.

Itu karyanya. Bukan tikus itu. Tidak adil. Sungguh tidak adil. Mengapa Pak Rowny tidak percaya padanya dan lebih memilih percaya pada ucapan tikus itu.

“Andrian, selama ini kamu selalu menjadi juara dalam perlombaan. Mengapa sekarang kamu mengaku-ngakui hasil karya orang lain? Bapak yakin kamu bisa menciptakan karya yang sangat bagus. Tidak perlu mengakui karya orang lain sebagai karyamu.”

“Tapi Pak, itu benar…”

“Sudahlah Andrian. Jangan mentang-mentang kamu selalu memonopoli kemenangan lomba lantas kamu enggan mengakui kelebihan orang lain. Bukan hanya kamu saja yang bisa menghasilkan karya bagus. Bersikaplah sportif.”

Dan bisa kulihat tikus itu tersenyum atas kemenangannya. Tipis, sinis. Sial. Benar-benar tikus sial. Pengerat. Aaagghhhrr.. Mengingat peristiwa tadi membuatnya tambah mendidih.

Ia tekan tombol klakson sekuat tenaga demi menumpahkan amarahnya. Tak peduli orang-orang di kanan kirinya terkejut, mengumpat, bahkan mengklakson balik. Ia tidak peduli. Benar-benar tidak peduli. Ia merasa tersakiti, dikhianati.

Curahan air yang tiba-tiba turun sedikit mengejutkannya. Hujan. Bagus, pikirnya. Pejalan kaki tentu akan segera berteduh. Jalanan pun sesaat akan lengang. Andrian menggunakan kesempatan itu untuk menekan pedal gas lebih dalam.

Tapi perkiraannya salah. Seseorang nekat melintas di tengah hujan yang begitu deras. Bodoh. Apa orang itu tidak melihat mobilnya yang melaju kencang? Panik, diinjaknya pedal rem kuat-kuat. Terlambat. Tidak cukup waktu. Orang itu akan tertabrak.

Suara teriakan dan decitan roda mobil menghilang tertelan suara derasnya hujan. Sekilas terlihat oleh andrian orang itu pingsan. Sebentar lagi tentu akan banyak orang yang datang. Ia enggan, malas. Ia muak dengan orang-orang. Bergegas, ia bersiap menekan gas untuk pergi. Tapi sesuatu menahannya.

Di samping orang itu, berserak kepingan gulali ditengah genangan air dan rintik hujan. Warna warni gulali yang seakan membentuk pelangi. Berpendar di tengah kristal-kristal air hujan. Ia tertegun dan mengurungkan niatnya untuk pergi

~by: utie89~

***

“Balikin gulalinyaaaaa!!!” teriakku ketika aku berhasil mengingat semuanya. Aku tidak peduli dimana aku sekarang, aku hanya ingin gulalinya ada di tanganku sekarang! Aku sudah berjanji pada adikku dan janji harus ditepati.

“Sabar dulu kali, tanya kek dimana kamu sekarang, atau bilang makasi kek udah aku tolong, tadinya malah mau aku tinggal kabur di jalanan. Jalan seenaknya, gak tau ya, itu jalanan penuh sama mobil?” Ucap laki – laki yang duduk di depanku sedari tadi, walau begitu jelas sekali terlihat kalau dia sedang kesal. Ah, entahlah. Aku tak peduli, jadi gara – gara laki – laki ini gulaliku hancur dan kena air hujan?

“Ohhh… jadi kamu yang tadi nabrak aku sama jazz butut kamu itu?”

“Apa butut? Itu bukan butut tau… cumaaa.. belom dicuci.” Kata laki – laki itu membela diri, dia tidak terima mobil kesayangannya kusebut butut.

“Sama aja. Butut. Bisa nyetir mobil gak sih? Kalo mau ngebut – ngebutan sana di sirkuit jangan di jalan umum. Bodoh!” balasku tak mau kalah sambil bangkit dari sofa miliknya. Sejenak aku memeriksa kelengkapan baju dan tasku, kuatir kalau – kalau…..

“Gak aku apa-apain. Lagian tasnya juga ga ada isinya.” sergahnya

“Tuh, dari mana kamu tau tas aku gak ada isinya? Kamu emang niat nyopet kan?” tuduhku kesal.

“Eh, anak kecil… aku buka tas kamu tuh mau nyari identitas, anak kecil kayak gini kalo gak cepet – cepet dipulangin nanti dicariin.” jelasnya sabar. Iya ya… bener juga kata orang ini. Kalau dia gak periksa – periksa tasku, dari mana dia bisa tahu identitasku.

Aku menatapnya lekat, sebisa mungkin memasang tampang galak, padahal sebenarnya aku takut setengah mati dengan dia. Tapi semakin lama aku menatapnya otot – otot wajahku yang tegang mengendur. Aku tersenyum, hihihi…. Lucu. Matanya yang besar itu melotot, mukanya yang serius berubah jadi lebih tegang. Alisnya yang tebal mengkerut hampir menjadi satu. Bibirnya yang tipis cemberut membentuk kerucut seperti tikus. Dan akhirnya… meledaklah tawaku,”Hahahaha…kamu lucu.. hahahaha”.

Salah tingkah, dia bangkit berdiri, mengambil jaket yang digantung di belakang pintu, mengambil kunci lalu berlalu keluar dan berkata,”Ayo cepet, keburu malem”, sambil mengacak – acak rambutku.

“Mau kemana?” tanyaku bingung.

“Ya pulang lah, emangnya kamu mau disini terus? Atau mau pulang sendiri? Emang punya ongkos? Emang tau jalan pulang?”

“Eeeehh… iya, jangan. Hayuk pulang, hmmm… tapi gantiin gulali aku dulu ya.”

“Iya…! Dasar anak kecil, jajannya aja masih gulali.” Jawabnya.

Aku hanya tersenyum senang, “gulali itu untuk adikku”, sebutku dalam hati. Aku juga tidak mengerti mengapa adikku sangat menyukai gulali. Ya memang dia suka ngemil, dan cemilan favoritnya adalah gulali.

Ah iya, aku pernah bertanya mengapa dia suka gulali, dan jawabnya sungguh membuatku mual. “Rasanya manis, Kak. Aku bisa ngerasa seneng kalo makan gulali, trus ya… liat nih, warnanya jadi kaya pelangi kan?” kata adikku waktu itu sambil membuka mulutnya dan memperlihatkan warna – warna gulali yang lumer di mulutnya bersatu menjadi warna pelangi.

Tapi kurasa adikku benar, manisnya gulali membuat hati senang.

~by: metamocca~

***

Di sepanjang jalan, Andrian lebih banyak terdiam. Sementara Dara masih saja nyerocos kemana-mana. Sesekali Andrian mengangguk mengiya. Ia tidak mau berpanjang lebar beradu mulut dengan Dara.

Andrian sesekali tersenyum mendengar ocehan Dara.

Dalam hati Andrian mulai mengakui sesuatu yang unik dari gadis kecil itu. Ceplas-ceplos, bicara apa adanya.

“Jadi kenapa kamu tadi melamun?”, tiba-tiba Dara menanyainya.

Andrian tidak langsung menjawab. Dia mencoba mengalihkan situasi. “Rumahmu gang sebelah apotik itu terus masuk kan?”, Andrian balas bertanya.

“Iya, terus aja nanti ada rumah putih pagar ijo kiri jalan, itu rumahlu”, cerocos Dara.

* * *

Andrian menghentikan mobilnya dan sesaat kemudian telepon genggamnya berbunyi. Nadia. Begitu nama yang muncul dilayar.

“Ayo masuk dulu”, ajak Dara.

Andrian tersenyum dan menyahut, “Sebentar ya, aku jawab dulu telponnya”.

Dara lalu meninggalkan Andrian sendiri. Dara tidak tahu, bahwa di telepon tadi Nadia terdengar marah-marah pada Andrian.

Mendadak Andrian malas untuk pulang, dia mematikan telepon genggamnya dan menyusul Dara.

Seorang anak kecil menyambut kedatangannya. “Makasih ya Kak, gulalinya”, katanya kemudian ngeloyor masuk. Dara muncul dengan dua cangkir coklat panas. “Minum dulu nih”, tawarnya kepada Andrian.

* * *

Andrian tersenyum, dipilihnya tempat duduk dekat pot-pot bunga. Andrian memejam. Sejenak, ia lupa pada kekesalannya di kantor tadi. Sejenak ia lupa pada pertengkarannya dengan Nadia.

Andrian menikmati sekali coklat buatan Dara. Sesekali ia mencuri pandang ke wajah Dara. Ada sesuatu yang menggelitik perasaannya. Kedamaian yang ia rindukan. Dalam hati, ia berbisik pelan.

seperti kanak dengan balon di genggaman, hatiku berteriak memohon diperbolehkan. menyimpanmu rapat rahasia, serupa gula-gula erat di genggaman.

~by: Ra~

***

“Oya, seingatku kita tadi belum berkenalan, bukan?”

Andrian membuka pembicaraan mereka lagi setelah beberapa menit sebelumnya tercipta keheningan di antara dirinya dengan gadis yang baru dikenalnya tersebut.

“Ah, iya! Aku Dara. Kamu?” Gadis itu memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya pada Andrian. Senyum manis tampak terukir di wajahnya, memperlihatkan barisan giginya yang indah.

” Andrian,” jawab Andrian pendek. Tangannya menyambut uluran tangan Dara. Rasa hangat menjalari tubuhnya saat menyentuh tangan mungil tersebut.

“Tadi itu adikmu?” Andrian bertanya lagi.

“Betul sekali! Namanya Rara, dan dia sangat menyukai gulali.”

Usai menjawab pertanyaan Andrian, Dara kemudian mulai bercerita tentang sosok adiknya yang masih berusia enam tahun tersebut. Rara lahir ketika Dara duduk di kelas 3 SMP. Dan karena memang sudah lama Dara menginginkan kehadiran seorang adik untuk menemaninya, kehadiran Rara jelas membawa kebahagiaan baru dalam keseharian Dara.

Satu hari, sepulang dari kuliahnya, iseng Dara membeli gulali yang dijual di sebuah warung di dekat kampusnya. Waktu itu Dara membeli 2 gulali. Satu untuknya, satu lagi untuk Rara. Tak disangka ternyata Rara sangat menyukai gulali yang dibelikan Dara tersebut. Sejak saat itu, hampir setiap kali Dara kuliah, Rara selalu minta dibawakan gulali sebagai oleh-oleh. Namun karena takut gigi adik kesayangannya itu rusak juga karena malu terus-terusan membeli gulali di warung tersebut, Dara akhirnya berjanji untuk membawakan gulali kesukaannya itu seminggu sekali.

“Begitu rupanya. Tapi kurasa seandainya kau ke warung tersebut setiap hari pun, penjualnya takkan protes. Paling-paling dipikirnya kau ini akan SMP yang tersesat ke warungnya,” kata Andrian usai Dara menyelesaikan ceritanya, yang disambut Dara dengan tawa renyah.

Dara memang memiliki tubuh yang mungil. Seratus lima puluh senti, begitu Andrian mengira-ngira tingginya. Wajahnya imutnya tampak polos tanpa usapan make-up (Andrian bahkan curiga Dara benar-benar tidak memakai bedak untuk wajahnya), rambutnya dikuncir dua, dan pakaian yang dikenakannya adalah kaos dengan print tweety pada bagian depannya, plus celana selutut dan tas ransel. Dengan penampilan seperti itu, sulit bagi Andrian untuk bisa langsung mengetahui bahwa Dara ternyata sudah berusia 20-an. Bahkan sebelum Dara bercerita bahwa dirinya sudah kuliah tadi, ia sempat mengira gadis di hadapannya tersebut masih duduk di bangku SMA.

“Kau sendiri? Masih kuliah? Atau sudah bekerja?” kali ini giliran Dara yang bertanya pada Andrian.

“Aku sudah bekerja.”

“Di mana?”

Tepat ketika Andrian hendak menjawab pertanyaan tersebut, lagi-lagi ponselnya berbunyi. Kali ini sebuah pesan yang masuk ke ponselnya. Lekas Andrian membaca pesan tersebut.

“Emm.. Dara, sepertinya aku harus pergi sekarang. Ada hal penting yang harus kuselesaikan. Lain kali kita sambung lagi. Ok?” katanya setelah membaca pesan yang terkirim ke ponselnya tersebut.

~by: ayana~

***

Teman seperkerjaannya tadi yang mengiriminya pesan. Ia mengabari bahwa Daniel, si tikus culas itu akhirnya mengaku kalau itu bukan karya miliknya, tapi milik Andrian. Sungguh mengherankan mendapat kabar ini baginya, padahal belum 1 hari berlalu ketika Daniel dengan tampang tidak berdosanya mengaku-ngaku itu karyanya. Karena hal itulah Andrian memutuskan kembali ke kantor untuk mengetahui kejelasan berita itu.

3 tahun sudah perusahaan penerbitan yang cukup terkemuka di Jakarta itu mempekerjakannya sebagai Desainer Grafis. Sedikit banyak, ia menyukai pekerjaannya. Terlebih lagi karena ia masih punya waktu untuk sesekali menulis.

Andrian tiba di kantor jam setengah 6 sore. Cukup sepi. Tapi masih ada beberapa orang, termasuk pak Rowny dan Daniel. Sepertinya Daniel baru saja di panggil keruangannya. Lalu tak sengaja Andrian dan pak Rowny bertabrakan mata. Menyadari kedatangan Andrian, pak Rowny bangkit dari duduknya dan melambaikan tangan meminta Andrian untuk masuk ke ruangannya.

Di Ruangan itu Daniel hanya menunduk.

“Sini Andrian, duduklah”, titah pak Rowny. “Saya rasa kamu sudah tahu mengapa kalian berdua ada disini kan?”, sambungnya.

Andrian hanya mengangguk.

“Sekali lagi, saya tidak mengerti jalan pikiran kamu Daniel!! Mengapa kamu bisa berpikir bisa sukses hanya dengan mengaku-ngaku kalau naskah ini karyamu, hah!!”, cecar pak Rowny ke Daniel.

“Saya minta maaf Pak, saya khilaf. Saya hanya berfikir bagaimana caranya agar saya bisa merasakan bagaimana menerbitkan sebuah karya. Maafkan saya Pak, Andrian!”, kata Daniel sambil sesekali melihat ke arah Andrian.

“Kamu pikir, kamu akan merasakan kepuasan dengan menerbitkan buku dengan namamu tapi bukan karena kerja kerasmu?” pak Rowny menghela nafas. “Untung saja saya melihat Authors dari propertis file ini. Selain itu, ada watermark yang sangat samar untuk setiap halamannya. Kalau saya tidak temukan, kapan kamu akan mengaku?” pak Rowny benar-benar merasa geram terhadap Daniel. Terlebih lagi karena ia merasa bersalah karena sudah memarahi Andrian pagi ini. “Karena hal ini, saya skors kamu satu minggu. Kamu gunakan untuk intropeksi diri. Tidak akan ada rasa puas untuk sebuah kesuksesan tanpa perjuangan. Terlebih lagi kalau kamu dapat dengan hasil curang! Mengerti kamu??! Sudah, sana kembali ket empatmu!”, lanjut pak Rowny bijak.

Kemudian Daniel pun keluar ruangan dengan lesu. Ia menyesal. Ia membenarkan ucapan pak Rowny, tidak ada kepuasan dari sebuah kecurangan, yang ada hanyalah rasa malu dan penyesalan.

Sepeninggal Daniel, pak Rowny melanjutkan hal yang ingin ia sampaikan pada Andrian.

“Karena saya sudah berprasangka buruk, maka sebagai permintaan maaf saya, saya akan terbitkan naskah kamu ini dengan beberapa kekhususan. Gimana?” tawar pak Rowny yang tentu saja membuat Andrian kegirangan.

Sebuah kebahagian yang datang dengan dengan cepat setelah kekecewaan sebelumnya yang datang dengan cepat pula. Entah mengapa, yang terlintas dipikirannya adalah Dara. Gadis mungil polos yang ingin ia bagi cerita tentang hidupnya. Tentang kebahagiaan yang baru saja ia rasakan ini.

Kemudian pula, ia jadi teringat tentang Gulali warna pelangi yang mempertemukan keduanya.

“Mengapa tidak kutulis jadi cerita?” pikir otak Andrian cepat. “Ya, ide yang bagus!!”, lanjut otaknya saling bersahutan. Ia tahu kejutan apa yang bisa ia berikan pada Dara.

~by: pitaloka89~

***

Sudah satu jam Andrian terpaku didepan layar laptopnya. Tak ada satu kalimat pun yang telah berhasil dirangkainya, padahal ide sudah berkeliaran hebat sedari tadi. Kopi buatannya pun telah tandas tak bersisa.

Di dalam pikirannya berkelibat bayangan Dara, gadis manis yang ditabraknya tadi siang. Sambil termenung, sesekali senyumnya mengembang membayangkan detik-detik yang dilaluinya bersama gadis dengan sepotong gulali itu. Tapi Andrian sama sekali tak bisa menuangkannya dalam tulisan. Aneh, tak seperti biasanya.

Dering telepon genggam Andrian kembali berbunyi. Nadia, nama yang kembali tertera di layar.

“Hai Nad,” terdengar suara Andrian memulai percakapan

“Hai, maafin aku ya sayang. Tadi siang kita bertengkar hanya gara-gara masalah sepele!”

Andrian hanya menghela napas mencoba mencerna sebab pertengkaran siang tadi.

“Aku merasa gugup dan khawatir tentang acara pertunangan kita, Andrian. Satu bulan lagi itu bukan waktu lama dan belum semuanya beres” Nadia menimpali lirih.

“Maafin aku juga ya, tadi siang banyak urusan sampe gak bisa temanin kamu nyobain menu”

“Iya. Pokoknya kita jangan bertengkar lagi ya sayang. Janji gak akan marah lagi” Ujar Nadia Manja.

Setelah membahas beberapa masalah pertunangan, mereka berdua mengakhiri pembicaraaan ditelepon dengan ucapan “I LOVE YOU”. Ritual yang sudah mereka jalani selama tiga tahun terahir.

***

Sudah seminggu ini Andrian bangun dengan terkaget-kaget. Bukan karena teriakan penjual sayur atau alaram HP, tapi karena bayangan. Ya, bayangan Dara yang tiba-tiba saja sudah menghampiri pikirannya sejak Ia membuka mata. Bahkan hal itu berlangsung sepanjang hari dikantor, saat-saat Ia bertemu Nadia dan keluarga besarnya untuk membereskan hal-hal mengenai pertunangan hingga kala ia hendak menutup mata.
Gadis itu seperti berada dimana-mana, padahal sudah seminggu ia tak lagi berjumpa dengan Dara.

Pagi ini Andrian segera meminum segelas air putih sesaat setelah bangun, berharap bayangan si gadis gulali itu akan segera beranjak. Tapi sia-sia saja, malah bertambah hebat sepertinya. Suara Dara mulai bersenandung dikepala Andrian lengkap dengan senyum dan tatapan teduhnya.

“Hah!!” Andrian berujar seraya menghempaskan tubuhnya kembali ke atas tempat tidur.

“Kenapa sih aku?” Ujar Andrian mengusap-usap wajahnya sekali lagi.

Saat sedang menikmati makan siang, lamunan Andrian tentang Dara telah bersanding mesra dengan wajah Nadia, gadis yang dipacarinya sejak tiga tahun lalu.

Andrian pertama kali bertemu Nadia di acara konser musik tahunan. Nadia adalah teman dari sepupu jauh Andrian, Jeira. Ternyata benih-benih cinta yang hadir sejak itu berhasil tersemai indah hingga kejadian satu minggu lalu. Hingga si gadis gulali itu memberikan racun manis di otak Andrian.

Pernah suatu ketika saat pulang dari kantor terlintas niat untuk mengunjungi Dara di rumahnya. Namun cepat-cepat Andrian mengurungkan niatnya. Ia terlalu takut terperangkap dalam manisnya gulali padahal janji dan komitmen sudah terucap sebelumnya.

Andrian merasa alam semesta benar-benar mempermainkannya kali ini.

***

Disudut sore berhujan, Dara sedang menikmati gulali kegemarannya. Kali ini tak ada Rara dengan celoteh riangnya. Hanya ada Dara, gulali, hujan dan lamunannya. Rasa hangat menjalari tubuh Dara saat pikirannya terhenti disosok laki-laki yang menghancurkan gulali kegemarannya minggu lalu. Lelaki itu, Andrian, bukan hanya telah memendarkan warna indah gulali di udara, ia juga sangat sukses memendarkan warna-warna indah di hati Dara.

Sore yang dramatis dengan kaki-kaki hujan menyapa tanah lalu ada Dara dengan rasa rindu yang berserakan di mana-mana. Ia ingin bertemu Andrian. Sungguh ingin!

~by: masya~

***

Hari ini keinginan Andrian untuk bertemu dengan Dara tak terbendung lagi, selepas dari kantornya ia langsung menuju ke rumah Dara.

“Andrian?” Dara pun terkejut melihat sebuah mobil yang nampak tak asing lagi buatnya, rona wajah berseri langsung merekah pada wajah Dara.

“Hai, Dara apa kabar, boleh saya masuk?”

“Oh ya, tapi maaf ya agak berantakan, lagi pula kamu gak bilang kalau mau kesini.”

“Silahkan duduk”, sambung Dara.

“Kamu dari mana Andrian?”

“Ehm, dari kantor. Oh ya mana Rara? aku bawa kesukaannya nih,” Andrian menyodorkan 2 buah gulali pada Dara dengan senyum termanis yang ia bisa tampilkan pada wajahnya yang menyiratkan ‘Hari ini aku bahagia bertemu kamu Dara’

Obrolan panjang pun tak terasa, mereka saling bercerita berbagi kisah. Menceritakan hal-hal lucu dari keduanya, hingga mereka saling tertawa. Sesekali merekapun terdiam kehabisan bahan obrolan.

“Dara, apa kamu sudah punya seseorang yang spesial dihatimu?” Andrian memberanikan diri bertanya pada Dara. Pertanyaan yang sangat ingin sekali iya ketahui jawabannya.

‘Damaikanlah hatiku dengan ketentuan-Mu’, dalam hati Dara pun berdo’a.

“Sudah,” lirih penuh malu tapi mantap, ia menjawab pertanyaan Andrian.

Namun mendengar jawaban Dara terlukis dengan jelas raut kecewa dari wajah Andrian. ‘Kenapa aku ini?’, kembali ia terdiam. ‘Sebaiknya aku berterusterang pada Dara’.

“Bagaimana denganmu Andrian?” ia pun agak terkejut mendengar sapa Dara dalam lamunannya.

“Ehm, sebetulnya dalam beberapa minggu ini aku akan bertunangan dengan Nadia,” Andrian pun menceritakan sosok Nadia dan rencana mereka pada Dara.

“Bagus kalau begitu,” ujar Dara dengan penuh senyum meski semua harapan yang mulai bersemi dalam hatinya pun pupus. Tidak sedikitpun raut kecewa terlukis pada wajah manisnya, Dara memang periang.

Pertemuan ini Andrian akhiri dengan mengundang Dara untuk hadir dalam acara pernikahannya nanti.

***

Kembali Andrian terjaga dalam lelapnya malam.

‘Nadia, Dara, Nadia, Dara……’ Waktu itu, sepotong episode masalalu kembali hadir dalam benak Andrian. Tentang sosok gadis manis yang periang, tentang pelangi dalam sepotong gulali. Tak kuasa ia menyingkap bayang-bayang wajah Dara yang mulai hadir dalam hari-harinya, ‘Nadia’, tak lama ia pun teringat pada seorang gadis yang telah menjadi labuhan hatinya.

Pergolakan hebat dalam hatinya, terlintaslah pikiran bodoh.

“Atau dibatalkan saja pertunangan ini?” Andrian benar-benar berada dalam sebuah kebimbangan.

“Tapi, apa alasanku untuk membatalkan pertunangan dengan Nadia, seingatku tidak ada yang salah dengannya lantas kenapa aku harus membatalkan pertunangan ini hanya karena Dara?”

Mulai muncul pertanyaan dalam diri Andrian silih berganti tak henti-hentinya berusaha ia meyakinkan dirinya pada komitmen yang telah ia buat pada Nadia. Sejenak ia terdiam memejamkan matanya yang mulai tampak lelah.

“Mungkin inikah ujian buatku, buat Nadia, dan juga buat Dara ?” dan Andrian pun terlelap dalam lelapnya malam.

***

Hadirnya tanpa ku sadari,

Hadir cinta Insan pada ku ini

Selama ini baru ketemui,

Dialah permata yang kucari.

~TAMAT~

~by: harry~

***

Cerita Berantai (CeRai) versi lengkap, Request by: Mas Ilham, Meta, Mira, Om Lambang

Iklan

23 thoughts on “[CeRai] Pelangi dalam Sepotong Gulali

  1. Aku dapat ungu ya? (Kecup kecup)
    😀
    Komen apa ya? Udah bagus ah.. Tinggal nunggu Om Raam unjaabi baca jadi deh FTV.. 😀

    Eh, btw, Jujurnya udah tayang ya.. ;

    • aku ngga tau kak ra sukanya warna apa 😦
      aseekk.. aamiin. 😛

      okeh, udah ke TKP, makasih ya kak. #peyuukk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s