Dipalak

Sore ini indah, angin berhembus sejuk, pun matahari mulai meredup. Saat seperti ini adalah moment favoritku. Berjalan menyusuri jalanan komplek, dikelilingi bangunan-bangunan mewah dan pepohonan hijau. Sepi, sunyi, sangat kunikmati. Aku berjalan pelan, sesekali menghirup nafas panjang, mengusahakan sebanyak-banyaknya oksigen masuk ke dalam paru.

Di ujung jalan, kulihat samar seorang ibu berjalan menyelisihi arahku. Semakin dekat, aku merasa ada yang mencurigakan dengannya. Gelagat aneh yang terasa semakin aneh. Ah, mungkin hanya perasaanku, begitu pikirku. Jarakku dengannya hanya satu meter saat kemudian si ibu menegurku.

“De, tau alamat ini?”
Oh, rupanya hanya seorang ibu yang tersesat. Batinku lega. Kulihat tulisan pada kertas yang disodorkan si ibu padaku.
“Oh ini mah ke terminal Depok dulu Bu.”

“Terminal Depok ke arah mana ya?”
“Ke arah sana Bu,” jawabku sambil menunjuk arah yang dimaksud.
“Kalau jalan masih jauh ngga de?”

Hah?! Hampir saja mulutku menganga dan tidak mengatup lagi.
“Jauh banget bu, naik angkot aja. Ibu lurus aja ke arah situ, nanti langsung keluar jalan raya.”
“Yah, ibu ngga punya ongkos de, tadi aja ibu jalan dari simpangan ke sini.”

Hah?! Lagi-lagi aku hampir menganga.
Aku terdiam, antara shock dan bingung.
“Bisa bantu ibu ngga de? Ibu ngga ada ongkos,” ucap si ibu lagi dengan wajah tampak lemas.

Aku mengkeret, bimbang, benarkah penuturan si ibu? Jangan-jangan dia hanya mengada-ngada. Tapi aku juga mana tega? Teringat selembar puluhan ribu di kantong sweaterku. Kuberikan padanya dengan hati tak menentu.
“Makasih ya de.”

Aku tersenyum, hambar. Segera kulangkahkan kaki melanjutkan perjalananku dan menjauhi si ibu dengan hati bergemuruh.
Entahlah, kenapa tiba-tiba hati ini tidak tenang. Banyak pertanyaan, banyak sangkaan.

***

Pagi ini begitu terik, aku yang duduk di bangku sebelah kanan metromini pun terkena imbasnya. Kulirik bangku sebelah kiri. Ada satu bangku di belakang yang kosong, di sebelah nenek-nenek. Sekilas tadi memang kulihat orang yang duduk di sebelahnya pindah ke bangku belakang. Dan kulihat masih ada beberapa orang pria yang berdiri tak jauh dari bangku itu. Kalau dua menit ngga ada yang mau nempatin, aku akan pindah kesitu, gumamku.

Dan benar, bangku itu tetap kosong. Segera aku pindah tempat duduk sebelum panas terik matahari membuat gosong kulitku.

Tak berapa lama aku duduk, si nenek mulai bersuara.
“Bagi duit dong buat ongkos”

What? Ngga salah denger? Ini nenek dengan pedenya minta duit sama aku disini, di dalam metromini. Apa ini sebabnya tidak ada yang mau duduk disini? Apa karena nenek yang kuragukan kewarasannya? Aku coba untuk menenangkan diri dan berpikir. Aku memutuskan untuk stay cool dan tidak langsung memberikan uang pada nenek itu.

“Iya, nanti ya,” jawabku dan kemudian diam dengan pandangan lurus ke depan. Sepanjang perjalanan aku berpikir dan menimbang-nimbang. Sementara si nenek terus mengawasiku. Kuputuskan untuk memberinya uang untuk membayar ongkos metromini. Bukankah hanya dua ribu? Biarlah sekali ini aku kasih, begitu pikirku. Aku memutuskan untuk memberikan uang dua ribu pada nenek itu saat akan turun.

Mendekati kantor, aku memberikan uang itu pada si nenek dan kemudian berdiri untuk turun. Tapi tertahan oleh suara nenek menyebalkan itu.
“Apaan nih?”
“Lah, tadi kan minta,” jawabku.
“Uang segini dapet apaan?” katanya sewot.

Lah, gimana sih nih orang. Dapet apaan gimana, tadi katanya minta ongkos, malah ngomongnya begitu. Aku kesal dan berniat mengambil uangku kembali.
“Ya udah sini kalau ngga mau”
“Ya udah, ya udah,” kata si nenek dan menarik lagi tangannya, tak mengizinkan aku mengambil kembali uang itu.

Ih, dasar nenek aneh, gumamku. Aku turun dari metromini dengan hati kesal. Kuambil kesimpulan bahwa tingkat kewarasan si nenek memang berkurang.

***

Bocah kecil itu berdiri di depan pintu depan metromini yang kunaiki ini. Sejak tadi. Padahal banyak bangku kosong, namun ia masih teguh berdiri. Sesekali ia menengok ke belakang, terlihat resah. Entah apa yang dirisaukannya.

Kembali, dia melihat ke belakang. Celingak celinguk seperti mencari sesuatu. Pandangannya tertuju pada bangku kosong disebelahku dan terlihat bimbang. Tak lama kemudian dia duduk di bangku sebelahku. Masih tetap resah dan melayangkan pandangan jauh ke luar. Sesekali dia menengok ke arahku.

“Jam berapa kak?” akhirnya terucap juga kata dari mulutnya.
“Setengah delapan.”
Sunyi kembali. Dia kembali terdiam dan akupun kembali bertanya-tanya dalam diam.

“Kak, minta duit kak, dua ribu aja, buat ongkos, aku mau pulang kak.”
Nafasku tercekat. Huwaaa.. rasanya ingin menangis. Kenapa aku selalu dihadapkan pada situasi seperti ini? Baru tadi pagi aku dipalak si nenek aneh, sekarang udah kena palak lagi. Aku tidak tega, namun juga tidak mau terpedaya.

Kuambil selembar dua ribuan dari tasku dan memberikannya pada bocah itu. Dia mengucapkan terima kasih lalu pergi.

Hhh.. Aku menggalau, benar-benar risau. Seandainya dia benar-benar membutuhkan, aku ingin memberikannya lebih. Tapi ada ketakutanku bila ternyata dia hanya memanfaatkan kelemahanku. Oh Tuhan, Salahkah tindakanku?

***

Aku suka pohon. Hawa sejuk dan nyaman yang disebabkannya. Udara bersih yang seakan berputar di sekeliling rimbunnya. Maka aku akan berlama-lama saat berada di dekatnya. Seperti saat ini. Aku tersenyum dan seperti biasa, menghirup udara sebanyak-banyaknya sampai ketenanganku terusik oleh sosok ibu dengan gembolan di sisi kanannya. Aku merasa si ibu menatapku. Menjadikan aku target dalam tujuan langkah kakinya. Hanya perasaanku? Entahlah. Rasanya seperti dejavu. Aneh. Perasaanku mulai terasa tak enak.

Jangan-jangan?? Oh tidak, tidak, jangan lagi.

Dia semakin dekat, jantungku semakin cepat.
“Neng, minta sumbangannya neng,”

@!*#)+?/(
Aku lemas.

***

Iklan

54 thoughts on “Dipalak

  1. itu semua terjadi dalam hari yang sama? ckckckck…

    sekarang ini banyak pengemis pakai modus gak da uang. apalagi di terminal2. 😦 jadi agak susah membedakan antara mana yang benar2 kesusahan karena tak ada ongkos pulang dan mana yang pura2.
    sedih kadang memikirkannya tapi suka perhatiin tampilan orangnya dulu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. pastiin (bukan negatif ya tapi lebih waspada aja).

    • engga mas, yang terjadi pada hari yang sama itu cuma yang di metromini.

      iya, susah banget mas. 😦

      tapi aku suka salah nilai orang mas.. πŸ˜•

      • sama. dulu pernah kasih ibu2 di bilangan Sudirman. eh begitu dikasih ternyata dia ke yang lain lagi… semua orang yang lagi nunggu bus dimintain. :s

        • kalau aku waktu itu ngasih ke anak kecil di lampu merah mas, trus anak kecil itu ke temennya, aku sempet takut tuh, temennya kan banyak, ntar malah pada nyamperin aku lagi.

          eh, tapi ngga tuh, hehe..akunya parno duluan πŸ˜†

          • hahaha. kalau yang dikerubutin sih pernah pas ikutan wisata jelajah kota tua. ke Makam Mbah Priok. satu dikasih… tau2 puluhan muncul.
            Sama pernah di Cilincing. lagi ziarah alm papa. kasih satu eh tau2 gerombolan juga muncul.

  2. Hahaha….

    Antara ikhlas dan gak ikhlas. πŸ˜›
    Di lampu merah Poins juga ada ibu-ibu. Pernah sekali kena palak, antara kasian, gak tega, gak percaya, sama takut dikejar (hahaha…) jadi akhirnya gw kasih. Eeeehh… Besoknya ada lagi.

    Ibu-ibu, agak gemuk, rambutnya panjang, dikuncir, kl ketemu… Ngacir aja langsung yak. Hehehehe….

  3. aku pernah lho malak orang di angkot! beberapa kali malah, krn dompetku ketinggalan.. untungnya cm kejadian pas SMA, dan ongkosku jg cm 1000.. Y(^_^)Y
    klo ada yg malak gitu klo punya ya kasih aja, tp klo diajak ngobrol aku males, soalnya bs smakin nimbulin rasa curiga…
    pernah jg nemu ada yg udah malak ke aku, eh, ada penumpang baru dy malak lg… grrr…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s