Pelangi dalam Sepotong Gulali (Part 1)

Putih, biru.

Langit???

Tapi aneh, sebab tak kurasakan sedikitpun angin membelai kulitku. Walau berat, kupaksakan juga mata lemahku mengedarkan pandangan. Begitu sepi, sampai-sampai bisa kudengar irama yang tak asing. Irama konstan yang mengalun dari sebuah benda bulat bersesak angka. Jam dinding. Ada jam dinding di bawah langit? Ah, rupanya aku keliru. Itu bukan langit, tapi langit-langit yang dilukis menyerupai langit.

Ini sebuah kamar. Bisa kupastikan dari penglihatanku yang mulai normal. Tapi, kamar siapa? Ini jelas bukan kamarku. Kamarku kecil dan berdebu. Sedang yang ini begitu mewah dan indah.

Kucoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi saat tiba-tiba tertangkap olehku sepasang mata itu. Mata asing yang terkejut melihatku. Bukankah aku yang seharusnya terkejut? Si pemilik sepasang mata tersenyum. Aku tak mengenalnya. Sungguh. Apa aku ada di dunia yang berbeda? Atau aku telah dilahirkan kembali dalam kehidupan selanjutnya? Atau, aku hilang ingatan??

Ah tidak, aku masih ingat namaku Dara. Andara Praduwinata. Aku pun masih ingat dengan wajah kedua orang tuaku. Aku masih ingat dengan sifat kakakku yang jail, adikku yang usil, dan si bungsu yang suka sekali ngemil. Ah iya, aku berjanji membelikannya gulali hari ini, di toko permen depan kampusku. Bukankah gulali itu sudah kubeli? Aku ingat dengan hujan yang tiba-tiba turun setelah keluar dari toko. Seharusnya sekarang aku sudah sampai di rumah dan menghadiahkan gulali pada si bungsu.

Lalu kenapa aku disini?

Oh ya, aku ingat sekarang, jazz merah metalik itu…

***

…tiga jam sebelumnya…

Andrian membesarkan volume suara VCD player di mobilnya. Ia abaikan getaran dan suara ringtone pada HPnya. Ia sudah terlanjur kesal, marah, murka.

Itu karyanya. Bukan tikus itu. Tidak adil. Sungguh tidak adil. Mengapa Pak Rowny tidak percaya padanya dan lebih memilih percaya pada ucapan tikus itu.

“Andrian, selama ini kamu selalu menjadi juara dalam perlombaan. Mengapa sekarang kamu mengaku-ngakui hasil karya orang lain? Bapak yakin kamu bisa menciptakan karya yang sangat bagus. Tidak perlu mengakui karya orang lain sebagai karyamu.”

“Tapi Pak, itu benar…”

“Sudahlah Andrian. Jangan mentang-mentang kamu selalu memonopoli kemenangan lomba lantas kamu enggan mengakui kelebihan orang lain. Bukan hanya kamu saja yang bisa menghasilkan karya bagus. Bersikaplah sportif.”

Dan bisa kulihat tikus itu tersenyum atas kemenangannya. Tipis, sinis. Sial. Benar-benar tikus sial. Pengerat. Aaagghhhrr.. Mengingat peristiwa tadi membuatnya tambah mendidih.

Ia tekan tombol klakson sekuat tenaga demi menumpahkan amarahnya. Tak peduli orang-orang di kanan kirinya terkejut, mengumpat, bahkan mengklakson balik. Ia tidak peduli. Benar-benar tidak peduli. Ia merasa tersakiti, dikhianati.

Curahan air yang tiba-tiba turun sedikit mengejutkannya. Hujan. Bagus, pikirnya. Pejalan kaki tentu akan segera berteduh. Jalanan pun sesaat akan lengang. Andrian menggunakan kesempatan itu untuk menekan pedal gas lebih dalam.

Tapi perkiraannya salah. Seseorang nekat melintas di tengah hujan yang begitu deras. Bodoh. Apa orang itu tidak melihat mobilnya yang melaju kencang? Panik, diinjaknya pedal rem kuat-kuat. Terlambat. Tidak cukup waktu. Orang itu akan tertabrak.

Suara teriakan dan decitan roda mobil menghilang tertelan suara derasnya hujan. Sekilas terlihat oleh andrian orang itu pingsan. Sebentar lagi tentu akan banyak orang yang datang. Ia enggan, malas. Ia muak dengan orang-orang. Bergegas, ia bersiap menekan gas untuk pergi. Tapi sesuatu menahannya.

Di samping orang itu, berserak kepingan gulali ditengah genangan air dan rintik hujan. Warna warni gulali yang seakan membentuk pelangi. Berpendar di tengah kristal-kristal air hujan. Ia tertegun dan mengurungkan niatnya untuk pergi.

***

Next on Just Notes of Me

–baca ketentuan–

Iklan

46 thoughts on “Pelangi dalam Sepotong Gulali (Part 1)

  1. Why… Why… Why we (still) friend?
    *halah*

    Hmm… Siap laksanakan, paduka!
    ๐Ÿ˜€

    *komat kamit gak nyambung makin seru kan ya* ๐Ÿ˜›

    • why naon???

      jangan lupa syarat-syaratnya. Pokoknya jangan tambahin kata-kata diluar kontent ya. Formatnya kaya ini.
      Terus jangan lupa di link ke sini sama ke rule nya.
      Jangan lama-lama, keburu basi. #halah_ibu suri bawel =))
      ๐Ÿ˜›

      Selamat mengerjakan.. :-*

  2. Ping-balik: Pelangi Dalam Sepotong Gulali (Part 2) « Just Notes of Me

    • Hahaha… =)) masak sih ra?? Padahal itu udah aq baca berulang2 lho,sempet ga PD gitu mw publishnya, takut mengecewakan. Akhirnya muka tembok “bodo lah”. ๐Ÿ˜€

      gpp x, latihan dari sekarang. Ceritakan sesuai gayamu aja.. ๐Ÿ˜‰ ikuti kelanjutannya ya. Udah smpe part 2 tuh. ๐Ÿ™‚

  3. Hmmmmm bagusnyaa cerita ini ๐Ÿ™‚

    #ingat kajian ust. Syatoni : Akhwat pulang kajian pas hujan-hujan dicipratin mobil, ngomel, eh ternyata jodoh ama pemiliknya, ahaha

  4. wah, bagus banget tulisannya mbak.. bikin cerita berantai tho? weleh.. aku jadi penikmat sajalah ya ๐Ÿ˜€ sudah lama tak menulis cerita ๐Ÿ˜€ keep writing and salam kenal!

    • ๐Ÿ™‚ terima kasih. ia nih, lagi iseng-iseng bikin game dengan menulis.

      selamat menikmati ๐Ÿ™‚ kalau ada saran kritik masukan boleh di sharing-sharing disini. salam kenaal ^-^

      ________________________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s