Catatan Kopdar (pertama)

Seminggu sudah hari berlalu setelah kopdar, tapi baru sekarang aku sempet bikin laporannya. Maaf ya teman-teman.. ^-^

Hmm.. Aku ceritakan dari awal, boleh yaa.. Agak panjang memang, semoga tidak bosan bacanya.. ๐Ÿ™‚

Suatu hari di akhir tahun 2012 , Dyah, kawan blogger asal gresik mengirimiku email, menanyakan kemungkinan bertemu di Jakarta. Ternyata dia ingin menghadiri resepsi sahabatnya di tangerang. Dan ternyata lagi, dia pun udah janjian sama Mira. Karena sebelumnya aku sudah berkenalan via blog dengan Mira, jadi ya aku makin antusias menghadirinya.

Di awal tahun ini, aku kemudian menanyakan kepastiannya. Dan ya, dia jadi ke Jakarta. Tanpa kusangka, ternyata Om Lambang juga termasuk dalam list bakal calon peserta kopdar ๐Ÿ˜€ (hmm.. jadi curiga, sepertinya Dyah sudah mengenal Om Lambang sebelumnya, ada apakah gerangan?? Haha.. :P)

Lalu, kuajaklah partner dunia nyataku, Meta. Dia mengusulkan mengajak yang lain juga. Maka jadilah post ajakan kopdar ini. Koar sana koar sini, ternyata banyak yang ngga bisa hadir. Jadi yasudahlah, apa adanya saja.

Tapi dua hari sebelum hari H kopdar, Meta yang awalnya berniat ikut, mulai menyuarakan keraguannya dan pada akhirnya membatalkan untuk ikut. Single mommy ini mengkhawatirkan anaknya kalau ditinggal pergi.

Waaahh.. kecewa doonk, secara temen blogger satu lokasi kan cuma dia. Itu bikin aq ragu juga untuk ikut. Masalahnya, pilihan tempatnya di atrium senen. Aku agak takut kalau pergi sendiri. Apalagi ke tempat yang jarang kukunjungi. Udah gitu, transportasi depok-senen itu lumayan ribet.

Pengen ngga hadir, tapi kan aku yang bikin postingannya, aku yang ngajakin. Masa yang ngajakin malah ngga hadir?? Lagipula, ngga mau juga bikin Dyah dan Mira kecewa. Tapi males pergi sendiri. Akhirnya kubiarkanlah menggantung, belum kuputuskan akan hadir atau engga.

Malam sebelum harinya, aku cerita sama ibu tentang rencana kopdar itu. Eehh.. Ternyata ibu langsung ngasih izin tanpa banyak tanya, “Dateng aja mba, kan silaturahim”. Wew. Padahal tadinya aku pikir bakal setengah hati ngizininnya, secara ibu tuh maunya anaknya ngga ngayap mulu, hehehe..

Dapet lampu hijau dari ibu, semangatku langsung menyala. Biarlah aku berangkat sendiri, walau ngga tau nanti kesana transportasinya gimana, walau mungkin akan nyasar dan nanya sini sana, tapi dengan bekal restu dari mommy, aku yakin semua akan baik-baik saja. #tsaah ๐Ÿ˜€

Malam itu juga aku PM kak Nita via twitter, minta nomer hp biar gampang janjiannya. (sebenernya waktu itu aku ngga tau apakah kak nita mau datang/engga, soalnya di mention di twitter, ngga ada jawaban pasti “iya, hadir”, jadi sok-sokan aja, anggep aja kak nita mau ikut, dan bener kan akhirnya datang ๐Ÿ˜€ )

Bismillah, aku berangkat dengan hati tenang yang dibuat-buat. Ngeliat di terminal, ngga ada bis langsung Depok-Senen. Jadilah aku jalan ke stasiun Depok Baru. Beli tiket arah Tanah Abang. Tapi katanya, kereta baru akan datang kurang lebih setengah jam kemudian. Ya sudahlah, ku tunggu saja dengan sabar. Dan katanya lagi, kereta itu ngga berhenti di stasiun pasar senen. Kalau mau, turun di stasiun sebelumnya atau sesudahnya. Nah lho!! Mulailah aku dibuat bingung. Tau gitu aku naik busway aja dari Blok-M.

Bingung mau tanya siapa. Tiba-tiba teringat teman yang tinggal di Tanah Abang. Aku disarankan turun di stasiun Tanah Abang aja dan naik bis mayasari 507 (kalau ngga salah ingat). Karena track record temanku yang ngga pernah boongin aku itu, maka kuturutilah instruksinya dengan seksama. Dan akhirnya, jam setengah 4, sampailah aku di Atrium. Yeay.. J

Tapi lagi-lagi aku sedikit panik. Sudah kubilang aku tidak suka Mall, apalagi Mall besar. Atrium ini kan cukup besar. Bisa-bisa nyasar di dalem. Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Harus kuhadapi.

Tempat janjiannya adalah Warung Tekko. Dan kata Dyah, Pak Sarib alias Om Lambang sudah menunggu disana. Dyah sendiri masih dalam perjalanan dengan Mira. Karena sudah masuk waktu Ashar, aku berniat untuk sholat dulu sebelum mencari tempat janjian, Warung Tekko. Untuk sampai ke Mushollanya saja aku harus berkali-kali tanya security. Hhh.. biarlah, muka tembok dikit.

Dyah dan Mira sampai di Warung Tekko tak lama setelah aku selesai sholat. Bergegaslah aku keliling-keliling mencari ‘warung yang jual teko’ itu. ๐Ÿ˜› Awalnya aku khawatir akan susah mencari mereka, karena mataku kan minus, ngga jelas lihat jauh. Mau pake kacamata juga males.

Tapi ternyata, setelah masuk ke warung itu, hanya ada 1 meja yang terisi. Dilihat dari cirri-cirinya pun sepertinya merekalah yang aku tuju. Dan benar. Alhamdulillah, kesampaian juga aku bertemu mereka. Disana sudah ada Om Lambang, Dyah, Mira, dan Pak Nahar. Pak Nahar ini belum aku kenal sebelumnya, blognya pun ngga tau yang mana. Tapi belakangan, akhirnya kutemukan juga blognya. ๐Ÿ˜€

Tak lama kemudian, si Bu Dokter gigi alias kak Nita akhirnya pun datang. Dan lengkaplah kita. Acara kopdar kali ini dihadiri oleh kita ber-6.

Tentang kesan pertama?? Sampai bertemu di episode selanjutnya ya. ๐Ÿ˜‰

Iklan

33 thoughts on “Catatan Kopdar (pertama)

  1. Ping-balik: Catatan Kopdar (kedua) | My sToRy

  2. Ping-balik: Catatan Kopdar (terakhir) | My sToRy

  3. Ping-balik: TAG: A Real Blogger | My sToRy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s