Balasan Koment

Beberapa hari yang lalu, aku memposting keinginanku untuk haji-umroh disini. Namun ternyata, tanpa pernah menyangka sebelumnya, postinganku itu mengundang beberapa komentar yang berujung pada forum diskusi. Semua berawal dari komentarnya Om lambang.

Jujur ya om, pas pertama kali aku baca email notif koment dari om, aku langsung gelisah. Ketar-ketir. Bukan karena merasa terusik, hanya saja aku jadi bingung mau bagaimana membalas komentarnya. Sampai mondar-mandir sendiri di kamar demi memikirkan bagaimana cara penyampaian opiniku yang baik. Bahkan dalam sholatku pun sampai ku tambahkan doa agar aku diberi ilmu dan kemampuan agar bisa membalas komentar dengan benar dan bijak. Hehe.. terkesan lebay ya?! Tapi beneran, aku gugup banget, secara ini pembahasannya cukup berat, riskan dan sarat mengundang perdebatan.

Dan berhubung kayaknya penjelasan aku akan panjang lebar, jadi aku tunda balasan komennya dan berniat untuk menjadikannya postingan aja. Dan inilah postingannya. Tanpa bermaksud mengundang perdebatan (karena aku tidak bisa mencantumkan dalil-dalil sebagai dasar perdebatan), tulisan ini dibuat atas dasar keyakinanku. Jadi mungkin masih ada kesalahan disana-sini. Semoga dapat dimengerti.

***

Bismillah..

Kita copas dulu komennya yaa..

Pertama dari Om lambang

Kewajiban kita pertama jika ingin diakui sebagai ummat Muhammad adalah “sahadah”. Sebelum kita bersahadah maka kita bukan ummat Muhmaad, so…. sebelum ke yang lain kita mesti instropeksi dulu tentang sahadah kita.

Jika sahadah kita belum betul, apakah kita harus melakukan yang kedua ?

Kewajiban kedua adalah sholat. Sudah benarkah sholat kita ? Apakah kita selama ini sudah mampu menegakkan sholat sebagai tiang agama ? jangan jangan masih seperti saya yang angot angotan, kadang sholat kadang tidak. Atau hanya sebatas menggugurkan kewajiban atau melaksanakan ritual semata.

Jika sholat kita belum betul, apakah kita harus memaksakan diri untuk melakukan yang ketiga ?

Kewajiban ketiga adalah zakat. Hehehe…. gak enak nih menjelaskannya. Jika kita kekenyangan sementara tetangga kita kelaparan, maka kita belum termasuk ummat Muhammad loh. Hehehe…… Jangan jangan kita melaksanakan kewajiban ini hanya pada musim fitri saja, beras 2,5 liter.

Jika kemampuan kita berkorban masih lemah, apakah kita harus melakukan kewajiban keempat ?

Kewajiban keempat adalah puasa, sementara kelima adalah hajji.

Eh…… Kalau sahadah kita belum beres, kalau solat kita masih boleng, kalau zakat kita hanya sebatas basa basi, kalau perut kita belum mampu berdamai dengan rasa lapar yang sangat. Apakah kita tega berhaji ?

Ehm….. maaf yah….., tolong koreksi. Karena saya yakin banyak kesalahan.

Mau mengakhiri tulisan ini ternyata teringat beberapa kalimat yang mungkin baik untuk renungan kita bersama.

Berhaji memiliki pahala yang luar biasa, Hajji mabrur balasannya tiada lain selain syurga. Namun, ternyata sebaik baik manusia itu bukan yang pernah beribadah haji. Sebaik baik manusia itu yang bermanfaat bagi orang lain.

Kedua, dari Mas Genthuk

Orang berbuat kebaikan sesuai dengan kemampuannya. ada cerita bahwa seorang pelacur (eit maaf ya) masuk surga karena memberi minum anjing yang kehausan. Ada juga orang yang masuk neraka karena menelantarkan kucing peliharaan. Bisa jadi ada hal-hal yang menurut pandangan manusia itu besar tapi menurut Allah itu hal kecil. Pun ada yang menurut pandangan Allah itu besar, tapi menurut manusia itu kecil. Tugas manusia adalah berusaha yang terbaik yang ia bisa. Meskipun kita, manusia, juga bisa menilainya, tapi hanya secara dhohir (yang kelihatan aja).

Ketiga, dari Afan

kalau di urutkan berdasarkan rukun islam memang seperti itu, tapi ilmu agama menurut saya bukan mutlak seperti matematika. Haji/Umroh adalah panggilan Allah, siapa tau setelah pulang dari haji/umroh malah bisa memantapkan rukun yang lain. kalau memang sudah ada dana yg mendukung sebaiknya minta petunjuk dari Allah.
*menurut pandangan saya

Balasannya aku jadiin satu aja yaa…

Rukun Islam memang ada lima dengan urutan seperti tersebut di atas. Tapi tidak lantas dikerjakan dengan berurut seperti itu pula. Seperti halnya rukun iman yang enam, keenam-enamnya diimani secara bersamaan dan bukannya bertahap atau berurutan.

Tentang syahadat, aku pernah mendengar ada kajian khusus yang membahas tentang makna syahadat, dan itu bisa berbab-bab, berpertemuan-pertemuan, berkali-kali kajian. Makna syahadat tidak hanya sekedar melafalkan Alloh sebagai Tuhanku dan Muhammad sebagai Rosul Alloh. Ia punya makna yang dalam pada aplikasinya dalam kehidupan kita. Orang yang dapat memaknai dengan benar tentang arti “Tidak ada Tuhan selain Alloh”, maka ia tidak akan melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan perintah Alloh. Tidak akan ia lebih mementingkan pekerjaannya, kuliahnya, pangkatnya, dll daripada ketaatannya pada Alloh. Dan menurutku, sepanjang usia kita, belum tentu kita bisa mengaplikasikan makna syahadat dengan sempurna. Itu butuh proses dan ilmu.

Tentang sholat, apakah orang-orang yang sudah menunaikan ibadah zakat, shoum, haji, itu sholatnya sudah sempurna? Belum tentu. Dan lagi-lagi menurutku, itu butuh waktu dan ilmu. Lalu apakah bila sholat wajibnya belum sempurna lantas tidak perlu memayahkan diri melaksanakan sholat sunnah?? Tidak, justru sholat sunnahlah yang bisa membantu kita dalam menyempurnakan sholat wajib yang masih seenaknya. Menyempurnakan disini maksudnya bukan melalaikan salah satu sholat wajib dan menggantinya dengan sholat sunnah, tapi mengerjakan sholat wajib 5 waktu dan menyempurnakan kekurangannya (sholat tidak khusyuk, di akhir waktu, dll) dengan sholat sunnah.

Tentang zakat, yang paling ku mengerti (sedikit banyak) adalah zakat fitrah dan zakat profesi. Zakat profesi itu dapat dikeluarkan bila sudah memenuhi nishab dan haul. Bila belum memenuhi syarat, maka tidak wajib. Tapi kalau zakat fitrah, wajib bagi setiap jiwa untuk mengeluarkannya. Membantu sesama, tidak hanya bisa dilakukan dengan mengeluarkan zakat, tapi bisa dengan sedekah atau infaq. Namun baik zakat maupun infaq, tidak perlu orang yang sholatnya sempurna terlebih dahulu yang dapat melakukannya. Siapapun bisa kalau memang mau.

Tentang shoum, hukum shoum Romadhon adalah wajib. Seperti wajibnya sholat 5 waktu dan zakat fitrah. Apakah orang yang sholatnya angot-angotan, enggan menyisihkan hartanya untuk membantu sesama, atau orang yang belum mampu berzakat profesi, maka kewajibannya untuk shoum Romadhon menjadi gugur?? Tidak, ia akan tetap mendapat dosanya, terlepas dari kewajibannya yang lain sudah sempurna atau belum. Dan tentang shoum sunnah pun kurang lebih sama dengan sholat sunnah. Ia berfungsi sebagai pelengkap dan bukti cinta kita pada Rosul (bila shoumnya mengikuti cara Rosul).

Tentang haji, bukanlah perkara tega atau tidak tega. Ia adalah bagian dari rukun Islam. Wajib bagi yang mampu. Mampu dalam hal apa? Mampu secara materi, mampu secara fisik, mampu secara ilmu, atau mampu-mampu yang lain. Banyak sekali kisah tentang orang yang pergi haji, walaupun dia dalam kehidupannya secara materi tergolong kalangan yang tidak mampu. Sementara tidak sedikit pula golongan orang-orang yang masuk ketegori mampu, namun enggan melaksanakan ibadah haji. Jadi, ini hanya soal mau atau tidak mau, sama seperti ibadah yang lain. Mau atau tidak ia menjalankannya. Soal mampu atau tidak mampu? Menurutku sih berbeda ya, antara Memaksakan mampu dan Mengusahakan mampu.

Tapi sungguh, banyak kisah tentang keajaiban haji. Ada yang secara logika, fisiknya tidak mampu, namun ternyata Alloh mudahkan ia menjalankan haji. Ada yang logikanya dia tidak mungkin bisa naik haji, namun ternyata Alloh limpahkan karunia-Nya dan memberangkatkannya haji. Banyak pula yang menemukan keajaiban selepas menunaikan haji. Banyak yang menjadi dimudahkan dalam urusan dunianya, makin dilancarkan rezekinya, dll. Dan bisa saja, sepulangnya dari Baitulloh, orang-orang itu justru semakin termotivasi dan dimudahkan untuk memperbaiki kualitas ibadahnya yang lain.

Sungguh, Alloh itu Maha Baik, Maha Pemurah, Maha Kuasa. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Tugas kita hanya berusaha menjalankan perintahnya dengan sebaik-baiknya. Terlepas dari apakah kita bisa menyempurnakan ibadah kita atau tidak. Bukankah manusia memang tidak sempurna? Ia tempatnya salah dan lupa. Dan kadar iman manusia itu pun naik turun. Tidak ada yang bisa menjamin orang-orang yang sehari-harinya selalu berbuat kebaikan, lantas kelak dia akan masuk syurga. Apapun bisa terjadi. Alloh itu Maha Melihat, dan perbuatan kita, besar kecilnya, pasti akan dibalas.

Namun memang, mungkin akan jadi masalah bila ada seseorang yang berkali-kali naik haji namun tetangga terdekatnya kelaparan dan tetap bergumul dengan kemiskinan (mungkin yang ini baru bisa disebut tega). Akan jauh lebih baik jika dana untuk haji yang kesekian itu digunakan untuk membantu orang lain yang kesusahan atau bahkan menghajikan orang lain.

Kita beribadah sesuai kemampuan. Betul, tentu saja. Tapi tidak ada salahnya mengusahakan kemampuan kita agar bisa melaksanakan ibadah dengan optimal.

Terakhir, aku ingin menegaskan sekali lagi, bahwa bagiku, antara MEMAKSAKAN dengan MENGUSAHAKAN itu jelas berbeda.

Wallohua’lam

***

Demikian balasan koment yang sempat tertunda. Mungkin tidak bisa menjawab keraguan yang ada atau justru menimbulkan bahan perdebatan lain. Ilmuku masih sedikit, dan tidak pandai menyampaikan, apalagi mendakwahkan. Ini hanya keyakinanku, dari pemahaman yang ku dapat selama 23 tahun belajar Islam. Mohon maaf bila banyak kekurangan, baik dari segi isi atau cara penyampaian. Ilmu yang sedikit ini, semoga dapat bermanfaat.

Terima kasih.

(pfiuh..akhirnya selesai juga *berkeringat*) 😀

Iklan

21 thoughts on “Balasan Koment

  1. wah bagus neh pembicaraan ini, salut deh bwt utie yg bisa njelasin begitu kalau larass mgkg gak bisa hehe…..jadi ingat bukunya Gusmus yg berjudul Lukisan Kaligrafi, disitu digambarkan org yg sudah ustad saja blum tentu dianggap org yg masuk surga…hmm bgmana dgn kita yg hanya manusia2 biasa?? itu perlu perenungan yg dalam….

    makasih utie tulisan ini, semoga kita diberi kemudahaan, rejeki, umur panjang dan kemauan utk menjadi lebih baik hingga kita bisa menunaikan ibadah haji/umroh. Amiin…

  2. Saya bukan Muslim, tapi sangat senang membaca postmu ini Utie, setidaknya saya jadi lebih terbuka tentang agama lain.

    Teringat film ‘Emak Ingin Naik Haji’ yang tokoh utamanya Reza Rahardian, seorang tak mampu yang memiliki Emak yang ingin banget naik haji. Tetangganya (diperankan oleh Didi Petet) sudah naik haji berkali-kali. Sampai-sampai, RR suatu malam menyelinap ke rumah DP untuk mencuri uang. Tapi akhirnya dibatalkan karena Emak menolak jika dia Naik Haji dengan hasil tak halal.

  3. Diskusi kalau dilandasi rasa saling menghormati memang bisa menambah pengetahuan.
    bagus banget mbak ulasannya, bisa menyimpulkan permasalahan dengan baik.
    Allah SWT akan meningkatkan derajat org yg berilmu.
    *salut

    • betul, yang penting harus mengesampingkan ego dan berani mengakui kekeliruan.

      semoga kita termasuk golongan orang-orang yang ditinggikan derajatnya karena ilmu ya.. ^-^

  4. Wow….. jadi malu saya. Terimakasih banyak koreksinyaaaa…..

    ****

    Eh,….. saya ada cerita nih dikit nih, seting cerita adala seorang ibu miskin di kampung.

    Setiap hari dia ke masjid untuk sholat lima waktu. Disela sela waktu sholat seringkali ia menyapu dan mengepel masjid. Tidak ada yang menyuruh, apalagi mengapresiasi. Bahkan beberapa orang merasa kurang sreg.

    Pernah suatu kali saya tanya, “bu, kenapa setiap hari menyapu masjid ?”. Beliau menjawab, “nak, aku bukan menyapu masjid ini. Aku menyapu rumah Allah sekaligus menyapu rumah anak anakku di kota”.

    Kemudian ia menambahkan, “anak anakku semua merantau dikota, ibu tidak punya cukup uang untuk kesana hanya sekedar menimang cucu dan menyapu rumahnya. Oleh sebab itu, saya sapu masjid ini, dengan harapan ada seseorang yang sudi menyapu Rumah Allah di mekah dan rumah anakku di kota”.

    Saya tak menjawab, dan diam seribu bahasa.
    *******
    Beberapa tahun kemudian saya bertemu lagi dengan beliau. Saya pun berguru tentang banyak hal suka duka kehidupan. Hingga tiba tiba air matanya menetes dan mengatakan, “alhamdulillah nak, Tuhan meridloi ibu dan bapak untuk menyapu Rumah Allah di makkah”.

    Mimpi ibu ini untuk menyapu Rumah Allah di makkah pun di ijabah oleh Allah, mendadak naik haji.

    • ndak perlu malu om.
      kita sama-sama belajar. koreksi aku juga kalau ada yang keliru.

      waaahh.. itu cerita betulan?? baru denger.
      memang bagi Alloh itu, segalanya serba mungkin.
      dan jika kita menolong agama Alloh, maka kita pun akan ditolong oleh-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s