Mall ituuu…

.MEWAH.

Sudah pasti. Memangnya ada gitu mall yang ngga mewah? At least, pasti jauh lebih mewah daripada rumahku (ya iyalaaah). 😛

Tapi semewah-mewahnya mall, tidak pernah terlihat menarik di mataku. Dan aku memang tidak suka bersahabat dengan yang namanya mall. Males aja gitu. Apalagi yang super guede. Luasnya aja bikin aku mumet, bingung nyari jalan keluar. Disorientasi. Coba aja tinggalin aku di tengah-tengah PIM, mesti dech kelimpungan.
Suasana di mall itu memang menyenangkan (bersih dan adem), tapi ada satu hal yang sangat aku sayangkan, di tengah kemewahan dan gemerlapnya kilau-kilau di dalam mall, kenapa harus masjid atau minimal musholanya itu sangat tidak menyamankan???

Dimana-mana (sejauh pengalamanku mengunjungi mall), yang namanya mushola atau tempat sholat itu lebih seringnya ada di parkiran (basement). Oke, mungkin itu dilakukan dengan pertimbangan agar sholatnya khusuk dan jauh dari hiruk pikuk di dalam mall. Tapi yang bikin aku menggeleng-gelengkan kepala, kenapa kondisinya harus mengenaskan?

Ada yang tempat wudhunya tidak tertutup antara pria dan wanita, ada yang tempat sholatnya hanya aspal yang dibalut sehelai tikar dan sajadah, ada yang tempatnya seuprit (padahal luas mallnya menandingi lapangan bola), dan sebentuk kekecewaan-kekecewaan lain tentang tempat sholat di mall.

Beberapa tempat mewah yang aku pernah sholat disana diantaranya : ITC Depok, Plaza Depok, Depok Town Square, Graha Cijantung, Blok M Square, Pondok Indah Mall, Mall Atrium, Carrefour Lebak Bulus, Hotel Sangri-La, dan ngga tau lagi, lupa 😛

Dari sekian banyak, hanya beberapa gelintir tempat yang aku merasa nyaman beribadah disana, lainnya mengecewakan.

Sebenarnya, bukan hanya disitu, di terminal pun, jarang sekali kutemukan tempat sholat yang nyaman. Tapi dibandingkan terminal, mall kan jauh lebih elegant. Masa’ di tempat yang super mewah begitu masih aja tempat sholatnya “blangsak”? Ngga habis pikir!

Sering sekali aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa, kenapa, kenapa?? Adakah pertimbangan lain mengapa si empunya mall lebih memilih menganak-tirikan tempat ibadah? Kok aku ngga nemu pemikiran positif lain ya?? Menurut kalian kenapa tuh??

Tapi memang tidak semua siihh, toh aku pun juga belum mengunjungi seluruh mall di kota metropolitan ini. Jadi yaaa tidak bisa menjudge mall itu sendiri, walaupun rasa kecewa itu ada. Miris rasanya.

Well, mari kita bermimpi. Kalau nanti aku diberi kesempatan membangun sebuah mall, aku akan bikin tempat sholat yang jauh lebih mewah dan nyaman dibanding isi mall itu sendiri, minimal sama lah.

Tapi sebentar, kalau dipikir-pikir lagi, mall udah terlalu banyak di kota ini. Aku mau bikin taman-taman yang banyak pohonnya aja aaah.. 😀

19 respons untuk ‘Mall ituuu…

  1. ada. nama nya grogot mall, di kaltim.
    sangat-sangat tidak mewah…
    hmmm.. kalo dibandingkan dengan mall–mall yang ada di bandung mah,,, beda na antara bumi dan langit. wkwkwkwkwk

  2. setujuuu deh, jangan bangun mal lagi. udah kebanyakaaan…
    sebagian mal memang sarana ibadahnya menyedihkan, tapi beberapa sudah ada yang bagus, bersih, rapi, dan nyaman kok 🙂

  3. sip… tp masjid terpaporitku ada di dalem mall lho… adzannya bagus, shalat berjamaahnya beneran niat & imamnya baca quran dengan bagus… di daerah bekasi ini.. ^^„

  4. Memang sebaiknya ga ngemall sih, tapi kami juga kalo ke mall cari yang tempat sholatnya oke. Beberapa diantaranya: Plaza Indonesia, Grand Indonesia, Teras Kota, Alam Sutera dan Summarecon Mall Serpong. Hehehe…

    • gak apa mba, malah kayaknya enakan di tempat mba el dech, pemandangannya sejuk, udara segar, nihil polusi, hmmm… idaman aku banget tuh..

  5. Ping-balik: Catatan Kopdar (pertama) | My sToRy

  6. Ping-balik: IBF, Islamic Book Fair | My sToRy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s