Mengunjungi RumahMu

Tentang haji, dari kecil aq sudah diajarkan kalau itu adalah ibadah urutan terakhir dalam rukun islam. Diwajibkan hanya bagi yang mampu. Dari awal diperkenalkan, seolah-olah orang-orang itu (yang mengajarkan tentang haji) mendoktrin pikiranku bahwa itu adalah ibadah yang ngga akan mampu aq lakukan. Maka, dari awal pun aq tidak tertarik dengan yang namanya haji. Kasarnya, itu hampir di luar ingatanku.

Beranjak remaja, pelajaran menuntutku untuk mengetahui lebih dalam tentang haji, rukun-rukunnya, bacaan-bacaannya, dan segala macamnya. Namun, masih, aq tidak memasukkannya dalam hati. Itu menjadi pelajaran yang sulit bagiku, karena aq tidak pernah, dan tidak berpikir akan pernah melakukannya. “Ah, ngapain dihafalin, palingan juga ngga guna nanti. Orang ngga mampu haji kok”, begitu pikirku.

Makin dewasa, makin banyak terdengar di telingaku tentang keinginan orang-orang untuk haji. Katanya, disana “enak”, dan mengundang keinginan untuk berkunjung ke sana lagi. “Ah, apa istimewanya??”, aq pun masih belum tertarik.

Belakangan, pola pikirku mulai berubah. Aq tidak menginginkan kesana bukan karena tidak tertarik, tapi aq takut. Konon katanya, disana, setiap perbuatan dosa akan dibalas.

Aq takut, aq kan banyak dosa, ntar pulang dari sana bukannya “mempesona” dengan wajah yang bersih, senyum yang merekah, dan hati yang tenang, tapi malah “merana” karena benjol dimana-mana.😀

Iya, itu memang ketakutanku. Bahkan ketika berkali-kali ibuku mengungkapkan keinginannya untuk berkunjung ke Baitulloh, aq hanya berharap dan mendoakan ibuku bisa sampai kesana. Tapi tidak dengan aq. Aq masih terlalu takut.

Namun memang, everything’s change. Setelah didera beberapa masalah yang membuatku hampir stress, sehinga berhasil membuat “formula kehidupan” ala putri disini, entah kenapa tiba-tiba keinginanku untuh haji (min umroh) memuncak hebat. Ditambah lagi dengan ibu yang seolah-olah menyerahkan tugas haji-umroh ke pundakku. Ibuku selalu menekankan aq untuk umroh dan tak mengharapkan lagi untuk kesana.

Dan kini, aq benar-benar sangat menginginkannya. Ditambah lagi cerita-cerita yang menyenangkan tentang (after) mengunjungi rumah Alloh (hidup lebih berkah, terkabulnya doa, dll) dan berbagai keajaibannya, aq makin semangat untuk memimpikannya. Ya, memang untuk saat ini aq masih dalam tahap ‘Mimpi‘, tapi semua berawal dari mimpi bukan? Tak ada yang salah dengan bermimpi.

Jadi, sekarang aq ingin bermimpi dulu, membayangkan aq akhirnya menapakkan kaki di tanah suci itu. Akan kupersiapkan doa-doa yang akan kupanjatkan disana, aq tuliskan, karena aq termasuk orang yang sedikit pelupa. Disana aq akan mintaaa…

  1. Dipertemukan dan berjodoh dengan “pangeran berkuda putih” versi Putri
  2. Dikaruniai keturunan yang unyu-unyu plus sholeh-sholehah
  3. Bisa menyekolahkan adik-adikku sampai ke jenjang yang tinggiiiiiiii
  4. Menghajikan keluarga
  5. Jadi penulis inspirasional yang terkenal
  6. Punya butik sendiri
  7. Punya Jazzy (baca: Honda Jazz) warna biru
  8. Punya rumah asri + kolam renang (jadi bisa belajar renang)
  9. Punya lembaga pendidikan dari anak usia pra-pasca sekolah
  10. Punya yayasan peduli anak jalanan
  11. Punya studio musik pribadi (supaya bisa gebuk2 drum plus belajar gitar, biola, piano)
  12. Jadi owner PO Deborah dan memperbaiki sistemnya biar ga diprotes terus sama sewa =))
  13. Mengunjungi tempat2 yang di buku pelajaranku tersebut dalam 7 keajaiban dunia
  14. Keliling dunia (biar bisa pegang salju, bunga sakura, pohon autumn, liat piramid, sungai nil, bla..bla..bla..)
  15. Mengkayakan setiap keluarga yang belum kaya di Indonesia
  16. Membebaskan Palestina dari rezim Yahudi
  17. Punya indra “kesembilan”: bisa matiin rokok dari radius 100 meter
  18. Punya hamster yang bisa ngomong
  19. Punya sayap ala peri versi dongeng di TV
  20. Punya kerajaan bak Ratu Bilqis
  21. Skip (mulai unreal)😀

Maaf-maaf, bicara soal mimpi memang mudah tergoda untuk mengkhayal..😛

***

Ngomong-ngomong, soal ibu yang kepengen banget aq umrah,

Tahukah kalian apa mimpi beliau??

“Mba, nanti kalau nikah, ngga usah mewah-mewah. Akad aja, terus duitnya buat umroh aja sama suami, sekalian bulan madu, trus minta dikaruniai anak yang sholeh-sholehah…”

Namun, beberapa bulan yang lalu, ketika kukabari ada yang mau taaruf sama aq, tiba-tiba mimpi beliau berubah:

“Mba, mendingan sebelum nikah, umroh dulu. Disana nanti minta dipilihkan jodoh yang baik untuk dunia dan akhirat…”

Hmm… kira-kira, mimpi ibuku yang manakah yang akan terealisasikan??? (DL : sebelum umur beranjak 25 *target*)

***

Jadi teman-teman, adakah yang punya pengalaman haji-umroh?? Mungkin bisa di share disini.

Atau yang punya akses travel murah untuk haji-umroh, bisa minta tolong aq-nya di-calling-calling.😀

Apa aja sih persiapan untuk haji-umroh?? Masih minim ilmu nih.😦

Harus banyak-banyak baca buku lagi.🙂

21 thoughts on “Mengunjungi RumahMu

  1. sebelum naik haji/umroh cari mahram-nya dulu, hihihi…
    btw, tulisanmu klo aq diganti aku bakal lbh enak dibaca lho.. klo males, di replace/autotext aja, hehehe…

    • oh gitu ya kak??
      hehehe..ketauan dech malesnya, abis udah kebiasaan nulis “aq”..😛
      insyalloh aq ganti dech, biar kak nita sering2 berkunjung kesini..😉
      *tuh kan, di koment aja pake aq, hehehe*

  2. Menurut saya ibadah haji dan umroh itu ………………….. hm……. duh susah nulisnya.

    Ehm, maaf yah… kalau salah tolong diluruskan.

    Kewajiban kita pertama jika ingin diakui sebagai ummat Muhammad adalah “sahadah”. Sebelum kita bersahadah maka kita bukan ummat Muhmaad, so…. sebelum ke yang lain kita mesti instropeksi dulu tentang sahadah kita.

    Jika sahadah kita belum betul, apakah kita harus melakukan yang kedua ?

    Kewajiban kedua adalah sholat. Sudah benarkah sholat kita ? Apakah kita selama ini sudah mampu menegakkan sholat sebagai tiang agama ? jangan jangan masih seperti saya yang angot angotan, kadang sholat kadang tidak. Atau hanya sebatas menggugurkan kewajiban atau melaksanakan ritual semata.

    Jika sholat kita belum betul, apakah kita harus memaksakan diri untuk melakukan yang ketiga ?

    Kewajiban ketiga adalah zakat. Hehehe…. gak enak nih menjelaskannya. Jika kita kekenyangan sementara tetangga kita kelaparan, maka kita belum termasuk ummat Muhammad loh. Hehehe…… Jangan jangan kita melaksanakan kewajiban ini hanya pada musim fitri saja, beras 2,5 liter.

    Jika kemampuan kita berkorban masih lemah, apakah kita harus melakukan kewajiban keempat ?

    Kewajiban keempat adalah puasa, sementara kelima adalah hajji.

    Eh…… Kalau sahadah kita belum beres, kalau solat kita masih boleng, kalau zakat kita hanya sebatas basa basi, kalau perut kita belum mampu berdamai dengan rasa lapar yang sangat. Apakah kita tega berhaji ?

    Ehm….. maaf yah….., tolong koreksi. Karena saya yakin banyak kesalahan.

    Mau mengakhiri tulisan ini ternyata teringat beberapa kalimat yang mungkin baik untuk renungan kita bersama.

    Berhaji memiliki pahala yang luar biasa, Hajji mabrur balasannya tiada lain selain syurga. Namun, ternyata sebaik baik manusia itu bukan yang pernah beribadah haji. Sebaik baik manusia itu yang bermanfaat bagi orang lain.

    Sekali lagi mohon maaf.

    • Orang berbuat kebaikan sesuai dengan kemampuannya. ada cerita bahwa seorang pelacur (eit maaf ya) masuk surga karena memberi minum anjing yang kehausan. Ada juga orang yang masuk neraka karena menelantarkan kucing peliharaan. Bisa jadi ada hal-hal yang menurut pandangan manusia itu besar tapi menurut Allah itu hal kecil. Pun ada yang menurut pandangan Allah itu besar, tapi menurut manusia itu kecil. Tugas manusia adalah berusaha yang terbaik yang ia bisa. Meskipun kita, manusia, juga bisa menilainya, tapi hanya secara dhohir (yang kelihatan aja). Wallahu a’lam

  3. @lambangsarib kalau di urutkan berdasarkan rukun islam memang seperti itu, tapi ilmu agama menurut saya bukan mutlak seperti matematika. Haji/Umroh adalah panggilan Allah, siapa tau setelah pulang dari haji/umroh malah bisa memantapkan rukun yang lain. kalau memang sudah ada dana yg mendukung sebaiknya minta petunjuk dari Allah.
    *menurut pandangan saya

  4. Aku ga mau bahas yang berat kaya Om Lambang,,,😆 karena puncaknya ibadah itu doa, dan puncaknya doa itu rindu pada Pencipta dan kekasihNYA🙂 Ingin mengamini doamu Putri.. kadang saat aku mendengar cerita orang haji/umrah (yang tidak ada tendensi riya’) suka berkaca2 sendiri… rinduuuu rasanya..

    Kok rindu ya, padahal belum pernah ke sana,,, nah itu dia,, Allah memang baik,, semoga disegerakan yang memang menurut Allah baik ya Putri..🙂

  5. Ping-balik: Oleh-oleh IBF | My sToRy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s