Resepsi = Badan amal ???

Berawal dari BW ke postingannya mba dyah sujiati dan membaca komentar om lambang disitu, aq jadi teringat dengan impianku yang lama tenggelam.

Dulu, waktu masih kerja di Tiptop, aq sering mendapat undangan pernikahan, dan biasanya, pada hari-hari tertentu, undangan itu bisa mbludak, sehari bisa 3 undangan, besoknya udah ada lagi. Pokoknya dalam sebulan itu ada yang bahkan sampai menerima 5 undangan.

Dan di hari penuh undangan itu, aq sering sekali mendengar keluhan-keluhan seperti ini di sekitarku,

“Yaahh..gimana nih, sekarang kondangan, besok kondangan, mana gajiannya masih lama”

Membuatku terhenyak dan berpikir. Menikah, itu kabar bahagia bukan? Dan dalam Islam, akad sebenarnya cukup untuk melegalkan pernikahan. Namun disunnahkan mengadakan resepsi agar orang-orang tahu sekaligus berbagi kebahagiaan.

Tapi apa? Kenapa banyak orang justru merasa terbebani saat menerima undangan? Banyak juga yang ribet, pake baju apa, datang sama siapa, naik apa, bla..bla..bla..

Kok kesannya, orang menikah malah bikin orang susah? Aq tidak suka, aq menolak kenyataan itu.

Maka timbullah ide liar itu.

Aq membayangkan pernikahanku nanti di sebuah aula/gedung, sehingga tidak perlu merepotkan tetangga mendekor rumah, masak-masak, cuci piring.

Aq membayangkan pernikahanku nanti ada jemputan untuk memboyong para tamu undangan sehingga tidak perlu ada yang bingung mau datang sama siapa dan ngga perlu nyasar-nyasar.

Aq membayangkan pernikahanku nanti mengundang anak-anak yatim, keluarga tidak mampu, para anak jalanan untuk makan-makan dan memberikan bungkusan dan bingkisan untuk dibawa pulang.

Aq membayangkan pernikahanku nanti tidak perlu ada yang memberi amplop ataupun kado. Cukup datang, mendoakan, makan enak, dapat souvenir.

Hohoho… 😎

sungguh khayalan tingkat tinggi.

Wkwkwk..

Tapi tetaaaap, apapun mungkin, rite?? 😛

Okeh, tinggalkan imajinasi liarku itu.

Intinya sih sebenarnya aq ingin berbagi kebahagiaan, aq tidak ingin membebani siapapun, tidak ingin menyusahkan siapapun, terutama orang terdekatku. Aq ingin semua bahagia seperti aq yang sedang berbahagia.

Lagipula, tempat resepsi kan bukan badan amal. 😀

Bagaimana denganmu kawan??

Pernikahan seperti apa yang kau bayangkan??

24 respons untuk ‘Resepsi = Badan amal ???

  1. Apapun khayalanmu, bila itu halal dan hasan semoga terwujud. aamiin.

    utie89 said:
    Pernikahan seperti apa yang kau bayangkan??

    Alhamdulillah saya sudah menikah, jadi tidak perlu membayangkan lagi.
    Mungkin kawan-kawan yang menulis komentar di bawah ini ada yang ingin sharing bayangannya 🙂

  2. Malah ada pernikahan politik dan pernikahan bisnis. Menurut saya itu jauh dari tuntunan agama yang saya yakini. Bagaimanapun kelak jika anak saya nikah (wah…… masih lama buaaangeeet), saya tidak mau nerima sumbangan.

    Kalau tidak ada duit, ya nggak usah resepsi. Kasihan calon menantu lelaki dan calon besan kalau harus banting tulang hanya untuk sebuah resepsi pernikahan. Kata gus dur, “gitu aja kok repooot”. Hehehe

    • Penggemar gusdur ya Om??

      iya, aq juga kurang suka dengan konsep “terlalu memaksakan”.
      Dan lagi ya om, kebanyakan resepsi itu tuh jadi ajang utang piutang.
      Yang dikasih amplop kelak harus membalas minimal nominal yang sama bila yang ngasih itu nikah.
      ckckck..
      makanya kalau kondangan, aq prefer ngga mencantumkan nama di amplop, yaah kalaupun terpaksa mencantumkan, nulisnya tuh keciiil di ujung bawah sebelah kanan amplop. 😀

      • Banyak yang dicatat di buku tamu, walau tidak semua.

        Ada seorang kawan di daerah Halim. Profesi aslinya adalah sebagai pedagang warung kelontong. Jika seseorang mau hajatan, seringkali mereka “bon” seluruh kebutuhan hajatan di warung. Bayarnya ketika hajatan selesai.

        Sistem itu terkesan untung untungan, seperti mengundi anak panah aja……

        GusDur, Mbah Dahlan, Mbah Samin Surosentiko, Ahmad Hassan, bagi saya sama saja. Hahaha…..

    • hmm.. tapi kak, kebanyakan di daerah aq tuh ya, pada ngga mau dateng kalau ngga dapet undangan.
      Malah kadang, kalau undangannya itu a.n rame2, ada aja yang gengsi, lebih milih ngga dateng.

      Kenapa ngga disamain aja sih kayak takziah?
      Kalau orang takziah juga ngga pake undangan kaaan… 😛

      • tetep ada undangan lah.. kan klo gak diundang kita gak boleh dateng acara nikahan… 🙂
        temenku itu ngundang via socmed juga siapa aja boleh dateng..

    • ribet ngga sih mas berurusan sama KUA??

      Dulu ibu dan bapakkku juga hanya nikah di KUA, trus makan2 di rumah makan Padang.
      Udah, ngga bisa lebih dari itu.
      Tapi alhamdulillah rukun-rukun aja sampai ajal memisahkan. ^-^

    • hmm..kalau keinginanku,di KUA trus langsung berangkat umroh sekalian bulan madu, hihihi..
      Duit resepsinya buat biaya umroh dech 😛

  3. Ping-balik: Minat STIFIn?? Hayu silaturahim ;) | My sToRy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s