Hati Yang Kau Sakiti

“Akhirnya selesai juga,” aku membereskan mejaku dan bersiap-siap untuk pulang.

“Tungguin dong De, kita pulang bareng aja kayak kemarin.”

“Ya udah.”

Aku berdiri di depan pintu ruangan kerjaku. Ruangan ini hanya berisi tiga meja kerja. Satu untukku, satu untuk Rina, rekan kerja sekaligus sahabatku, dan satu meja lagi untuk pria didepanku yang sedang merapikan barang-barangnya itu. Namanya Mas Tyo. Aku mengenalnya sejak kerja di perusahaan ini. Dia orang yang lembut, sabaar banget kalau menghadapi aku dan Rina yang terkadang masih kekanak-kanakan. Umur kami memang terpaut 11 tahun. Pertama berkenalan dengannya, aku tak menyangka kalau dia sudah bapak-bapak. Penampilannya sangat “anak muda”, tapi ternyata dia sudah berkeluarga bahkan sudah dikaruniai dua anak. Sahabatku, Rina sampai minta dibawakan foto keluarga Mas Tyo agar benar-benar yakin.

“Kenapa ngeliatin Mas terus De? Naksir ya?” kata Mas Tyo sambil menghampiri aku.

“Ih, apaan sih, PeDe banget.”

“Ngga usah nutup-nutupin deh, perasaan kita sama kok,” kata Mas Tyo sambil mencubit daguku.

“Kalau ngomong jangan ngaco dech, udah yuk, pulang.”

Entah kenapa akhir-akhir ini Mas Tyo sering berkata seperti itu. Kadang aku merasa dia menyukaiku. Kami memang sangat akrab, sudah seperti adik kakak. Tapi belakangan ini, caranya menatap dan berbicara padaku bukan seperti seorang kakak kepada adiknya. Aku merasa dia memperlakukan aku seperti orang yang spesial, istimewa.

“Kok bengong  De, ayo masuk,” lagi-lagi Mas Tyo membuyarkan lamunanku. Ternyata kami sudah sampai di depan mobilnya.

“Iya.”

Sepanjang perjalanan, kami hanya diam. Hanya terdengar alunan lagu dari grup band yang sedang naik daun.

Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi hanya untuk bersamanya

Ku mencintainya, sungguh mencintainya.

“Tau ngga De, lagu ini kayaknya gue banget deh.”

“Maksud Mas Tyo ?”

Mas Tyo menghentikan mobilnya dan menatapku tajam.

“Kamu tahu kan, Mas sayang banget sama kamu. Kayaknya cinta Mas udah terbagi dua, setengah buat istri Mas, setengahnya lagi buat kamu,” kata Mas Tyo.

Aku tertegun, tidak tahu harus berkata apa. Jujur aku merasa …  tersanjung tapi … yang benar saja.

“Mas Tyo kalau ngomong jangan sembarangan ah. Diantara kita tuh ngga ada cinta-cintaan,” kataku sambil memalingkan muka.

“Hhh… Emang salah, kalau gue ngomong jujur? Daripada kamu, membohongi perasaan sendiri. Terserah deh, gue cuma mau ngungkapin doang, daripada dipendam. Udah sampai tuh.”

Aku baru sadar kalau kita sudah sampai di depan rumahku.

“Ya udah, aku pulang ya Mas, makasih udah nganterin. Sampai ketemu besok,” aku berpamitan tanpa melihat lagi kearahnya.

“Iya, bye.”

Aku masih berdiri di depan pintu pagar walaupun mobil Mas Tyo sudah tidak terlihat. Mas Tyo suka sama aku? Benarkah? Lagu itu, aku hafal betul liriknya. Mungkinkah diantara kita ada cinta? Lalu apa maksud ucapan dia tadi? Aku membohongi diri sendiri? Bagaimana dia bisa berpendapat seperti itu? Apa dia pikir aku juga menyukainya? Apa aku mencintainya? Ah, terlalu banyak pertanyaan dalam kepalaku.

***

“Ade, kamu udah sembuh?” Rina menghampiri aku saat aku baru masuk ke dalam ruangan.

“Udah mendingan.”

“Emang kamu sakit apaan sih De, sampai dua hari ngga masuk?” kali ini Mas Tyo yang bertanya.

“Biasa Mas sakit kepalaku kambuh.”

“Ade, Mas Tyo, aku ke kamar mandi dulu ya,” belum sempat aku menjawab, Rina sudah berlari keluar ruangan.

“Kamu banyak pikiran kali De.”

Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan Mas Tyo.

“Tau ngga? Ngga ada kamu kayaknya kantor ini sepi banget. Mas jadi ngga semangat kerja, males ngapa-ngapain.”

“Lebay banget sih Mas. Kan ada Rina, dia kan lebih bawel daripada aku.”

“Ya beda lah. Kamu kan spesial, Mas kangen banget sama kamu, De.”

***

Sudah tiga hari Mas Tyo cuti. Entah kenapa aku jadi tidak bersemangat untuk melakukan aktivitas apapun. Rasanya sepi. HP ku juga selama tiga malam ini “sepi”. Biasanya setiap malam Mas Tyo selalu sms dan telepon aku. Aku kangen sama dia.

Tunggu, tunggu, apa yang terjadi padaku? Aku seperti orang yang… Ya ampun, jangan-jangan aku memang menyukainya. Jangan-jangan apa yang dikatakan Mas Tyo itu benar. Tapi dia kan sudah berkeluarga.

“Ngelamunin apa sih De?” tanya Rina.

“Oh… engga kok, siapa juga yang ngelamun. Eh iya Rin, aku mau tanya, menurut kamu mungkin ngga sih kalau diantara aku sama Mas Tyo ada rasa suka atau cinta?”

“Mungkin aja, Mas Tyo kan cakep, kalian juga akrab banget, sampe aku yang sahabat kamu aja kalah deket. Emang sih, Mas Tyo udah punya istri, tapi kalau kamu tanya mungkin atau engga, ya… itu jawaban aku.”

“Gitu ya? Oh ya, ngomong-ngomong, dia cuti apaan sih?”

“Lho emang kamu engga tau, De?”

Aku menjawab pertanyaannya dengan gelengan.

“Dia kan lagi ke Puncak, liburan sama keluarganya.”

Deg, entah kenapa dadaku sesak mendengar jawaban Rina. Benar juga, apa yang aku pikirkan? Dia kan memang sudah berkeluarga, wajar kalau sesekali mereka liburan, kenapa aku seperti keberatan? Memangnya aku siapa? Aku kan bukan siapa-siapa. Sakit hati ini memikirkannya. Terlintas dalam kepalaku kata-katanya tempo hari. Sepertinya tanpa sadar aku berharap padanya. Sepertinya aku memang menyukainya. Tapi itu tidak boleh terjadi. Aku ngga boleh jatuh cinta padanya. Ngga boleh.

***

“De, kenapa sih? Kok akhir-akhir ini kamu menjauh dari Mas?” tanya Mas Tyo.

Aku kaget, tiba-tiba dia bertanya seperti itu. Aku memang agak menjauh darinya. Aku hanya takut bila terlalu dekat dengannya, akan semakin banyak harapan-harapan ini menelusup ke dalam dada.

“Nggak kok, perasaan Mas aja kali?” elakku.

“Mas punya salah ya sama kamu?”

Aku terdiam sesaat.

“Ngga kok Mas.”

“Kalau gue ada salah, gue minta maaf ya, tapi please, jangan tinggalin gue ya De. Mas sayang sama kamu,” dengan lembut Mas Tyo membelai kepalaku lalu keluar dari ruangan.

Saat itu pula, aku seperti kehabisan nafas. Mas Tyo, kenapa Mas harus bicara seperti itu? Tak sadarkah Mas kalau kata-kata itu bisa melambungkan asaku? Semakin Mas mengatakan hal-hal seperti itu, semakin besar harapan yang bersemi dalam hati ini. Dan itu menyakitkan bagiku. Karena aku tak ingin jadi yang kedua. Tak terasa, butir-butir air pun merebak dari kedua mataku.

***

Sudah hampir sebulan aku menjauhi Mas Tyo. Awalnya dia memang menanyakannya. Tapi setelah itu, sepertinya dia tidak mempedulikannya. Dia menyambut keputusanku. Dia juga ikut menjauhiku. Bahkan dari cerita-cerita Rina, sepertinya dia sangat bahagia dengan keluarganya. Aku cepat-cepat menghapus air mataku. Sudah hampir sampai di ruangan. Aku ngga mau Rina dan Mas Tyo melihatku menangis.

“Gue juga ngga tau Rin, tahu-tahu dia kaya gitu. Emang dia ngga cerita sama kamu? Kamu kan sahabatnya.”

Aku mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam ruangan. Itu suara Mas Tyo.

“Engga, Ade ngga pernah cerita apa-apa tentang Mas. Emang awalnya gimana sih Mas?”

Sepertinya mereka sedang membicarakan aku. Aku merapatkan tubuhku pada pintu yang setengah terbuka agar dapat mendengar lebih jelas.

“Iya, sebenarnya awalnya gue cuma mau bersahabat sama dia, tapi ternyata malah dianya yang suka, emang sih gue pernah bilang suka sama dia, tapi itu cuma supaya dia ngga kecewa dan sakit hati, tapi ternyata kebalikannya. Mungkin sekarang diam memang yang terbaik.”

Seolah dihantam puluhan guntur saat mendengarnya. Hatiku remuk saat itu juga. Aku tidak tahan lagi, aku berlari dan terus berlari. Aku tak peduli dengan tatapan heran orang-orang disekelilingku. Aku ingin pulang, air mata ini sudah memberontak ingin keluar.

***

   Emang sih, gue pernah bilang suka sama dia, tapi itu cuma supaya dia ngga kecewa dan sakit hati.

Aaaghh…

Ingin aku berteriak dan melempar barang-barang yang ada disekelilingku. Baru kali ini aku merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Seperti ada yang menusuk-nusuk dadaku. Aku terduduk di lantai kamarku, mendekap erat kedua lututku. Tubuhku serasa akan hancur. Aku terengah kehabisan nafas. Penglihatanku pun kabur, tertutupi genangan air yang entah telah berapa lama tak berhenti mengalir.

Tak pernah kusangka Mas Tyo bisa setega itu padaku. Masih sangat jelas di ingatanku bagaimana dia meyakinkanku tentang perasaannya. Bagaimana dia memperlakukan aku selama ini. Dan ternyata itu semua palsu, dia menipuku, mempermainkan perasaanku. Mengatakan suka hanya supaya aku ngga kecewa dan sakit hati? Alasan konyol apa itu? Aku bahkan ngga pernah mengemis meminta dia mengatakannya. Mengapa dia melakukannya padaku?

Dan lagi, apa yang sudah merasuki otakku sampai-sampai aku bisa berpikir kalau dia benar-benar mencintaiku? Bagaimana bisa aku membiarkan harapan-harapan itu memenuhi rongga dadaku? Bodohnya aku bisa percaya padanya. Bagaimana bisa aku berpikir kalau aku istimewa untuknya? Aku bukan siapa-siapa, aku hanyalah orang lain dan akan tetap jadi orang lain. Sepertinya keputusanku untuk diam dan menjauhinya memang tepat. Aku akan terus begini. Diam sampai luka ini tertutupi. Atau jika beruntung, kuharap waktu akan bisa mengobatinya.

Aku terdiam, masih menangis tanpa suara. Bisa kurasakan kepalaku berputar. Aku rubuh bersamaan dengan denyutan di kepalaku yang semakin kencang. Sakit sekali. Seperti ada bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu. Aku memejamkan mata dengan kedua tangan memegangi kepala, menunggu sampai alam bawah sadar merenggutku dari dunia nyata. Sayup-sayup, terdengar melodi indah yang menyayat hati dari stasiun radio favoritku.

Maafkan jika memang kini harus kutinggalkan dirimu

Karena hatiku selalu kau lukai

Ku menangis

Membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku

Harus selalu kau tahu, akulah hati yang telah kau sakiti

36 thoughts on “Hati Yang Kau Sakiti

      • really ? wow .. salut deh, pertama salut krn berani ambil keputusan meninggalkan yg suka bikin sakit hati itu, ke dua salut krn bisa menumpahkan dalam tulisan indah😛

        • Hehe.. Ia mba, Sampe aq bela-belain resign dari kerjaan untuk menghindari orang itu. Tapi kalau bukan karena dia, mungkin aq ga bisa berkembang seperti sekarang. Semua peristiwa memang ada hikmahnya. ^-^

          Masa? Beneran indah??? *bersemu semu*😛

  1. Baru baca… dulu banget waktu jaman smp n sma suka nulis cerpen…
    Sekarang ga pernah lagi…😦

    Alurnya bagus..
    Ceritanya juga, mungkin karena dari pengalaman ya. Jadi serasa jadi sosok de :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s