Doa di senin pagi

Senin dan macet, rasanya hampir semua orang di wilayah jabodetabek setuju untuk menyandingkan kedua kata itu. Seperti pagi ini, macetnya lebih parah daripada biasa. Aku sih santai saja, karena di kantorku tidak ada sistem absen atau potong gaji. Hal yang sangat aku syukuri. Alhamdulillah, selama ini Alloh selalu berbaik hati memberikan aku kemudahan-kemudahan.

Setelah ikut mengantar adikku yang sekolah TK, aku menaiki angkot yang sudah menunggu di depan mata. Tidak sepenuhnya menunggu sebenarnya, karena memang macet membuat angkot itu berhenti tepat di depan TK adikku. Begitu duduk, seseorang menyapa dari samping kananku.

“Mba, udah jam berapa sekarang?” seorang adik kecil berambut klimis, kulit kecoklatan bertanya dengan wajah cemas.
Aku melihat jam dalam HP ku sejenak baru kemudian menjawab,
“Jam tujuh lima belas.”
“Jam tujuh lewat lima belas?” kembali dia bertanya untuk meyakinkanku.
“Iya, udah telat ya? Masuk jam berapa?”
“Jam setengah 8, lagi ujian.”
Ah, benar, aku ingat, adikku yang SD pun sedang ujian.

Penasaran, kuwawancarai lagi dia.
“Sekolah dimana?”
“SMP Kasih.”
“Kelas berapa?”
“Kelas 2.”

Sunyi. Aku larut dalam pikiranku dan dia larut dalam kecemasannya. Angkot biru yang membawa kami masih tidak bergerak. Dalam diamku, aku pun merasakan kecemasan yang sama. Kenanganku kembali pada masa lalu saat masih berseragam sekolah. Terbayang bagaimana hati ini berdebar-debar saat angkot yang kutumpangi tak kunjung melaju sedangkan jarum di jam tanganku berlari cepat. Semua materi ujian yang sudah kupelajari pun buyar, tak lagi ku hiraukan. Satu hal yang kupikirkan saat itu adalah apa aku bisa sampai di sekolah tepat waktu atau tidak.

Ya, aku pun pernah mengalami seperti yang dialami bocah bertubuh kecil di sampingku ini. Dan rasa empatiku semakin bertambah, mendorongku untuk melantunkan sebuah doa untuknya. Aku kan sedang shoum, bukankah doa orang yang berpuasa diijabah oleh Alloh? Maka aku pergunakan kesempatan ini untuk berdoa. Ya Alloh, tidak peduli apakah bocah disampingku ini beragama islam atau bukan, tidak peduli apakah bocah ini bangun kesiangan atau tidak, tidak peduli apakah bocah ini termasuk anak baik yang rajin belajar atau sebaliknya, aku mohon, jangan biarkan dia telat, mudahkanlah perjalanannya.

Lalu seketika aku teringat bocah-bocah lain yang saat ini mungkin tengah berpacu dengan waktu pula karena kemacetan masih saja terlihat di kanan kiriku. Teringat pula adik laki-lakiku yang juga kelas 2 SMP di bekasi sana, postur tubuhnya pun bahkan seperti bocah ini. Teringat lagi adik perempuanku yang sedang ujian di SD nya. Dan doaku pun bertambah. Ya Alloh yang Maha Mengabulkan doa, mudahkan perjalanan anak-anak yang sekolah hari ini, termasuk adikku, jangan biarkan mereka telat, dan mudahkan mereka dalam mengerjakan ujiannya.

Melewati pertigaan depok dua, jalanan mulai lancar, bahkan sampai melewati jembatan panus. Aku mulai merasa sedikit lega. Sampai di jalan pemuda, bocah itu baru mengeluarkan suaranya kembali.
“Kiri bang” bergegas dia turun melewatiku.
Hati-hati ya dek, selamat berjuang, semoga sukses. Kata-kata itu hanya terlintas dalam hatiku, tak bernyali kuucapkan.

Aku melihat kembali jarum jam di tanganku. Ah, masih ada tujuh menit sebelum jarum panjang menunjukkan angka 6. Larilah bocah kecil, cepatlah, kamu masih punya waktu. Larilah, semoga Alloh mengabulkan doaku.

Senin, 8 Oktober 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s