Mimpiku keduluan

Sejak bazar di Al-Azhar tempo hari, aku jadi tergerak untuk membeli tas di toko asma nadia. Ternyata tokonya di ruko Mall Depok. Aku kesana bersama ibu dan kedua adik terkecilku. Mereka sangat antusias, karena memang belum pernah aku ajak ke Mall Depok. Tidak sulit mencari keberadaan toko tersebut. Tanpa harus berputar-putar, kami pun dengan cepat sudah berdiri di depan toko yang ramai dengan assesoris itu.

Begitu masuk ke tokonya, aku tercengang. Ternyata tidak hanya tas yang dipajang disana, ada busana, buku, pernak pernik, mainan anak-anak, dan masih banyak lagi. Begitu ramai, begitu berwarna. Aku mengatakan keinginanku untuk membeli tas kepada pramuniaganya, seorang pria dengan postur tubuh kurus tinggi yang tampak bersahabat. Saat bingung menentukan pilihan, tiba-tiba masuklah seorang wanita paruh baya ke dalam toko sambil mengucap salam. Aku terkesima sesaat. Detik berikutnya, aku tahu kalau wanita itu sang pemilik tokonya, Asma Nadia.

Tak beberapa lama, wanita yang memanggil dirinya asma -dan terkadang bunda- itu ikut melayani aku dan ibuku (waktu itu hanya kami pengunjungnya) sambil bercerita. Dia menceritakan ide awal dari pembuatan tas yang dijual disana. Ternyata bunda terinspirasi dengan tas-tas ransel imut di Korea Selatan saat beliau berada disana. Bunda juga kemudian menceritakan asal usul ide pembuatan barang-barang lain yang juga dijual di tokonya, seperti gamis dan sajadah lipat. Misinya satu, bunda ingin orang lain bisa menggunakan barang-barang kualitas impor dengan harga tidak terlampau mahal. Karena itulah, bunda kemudian mendesain dan memproduksinya sendiri.

Begitu banyak yang diceritakan bunda, membuatku terpesona. Selain penulis handal, bunda pun sungguh seorang pembicara yang tidak membosankan. Pantas saja bila bunda sering diundang sebagai pembicara, baik di dalam maupun luar negeri. Sekarang pun bunda sedang mengembangkan rumah bacanya yang sudah tersebar di beberapa daerah.

Sejenak aku merenung dan berpikir. Ini mimpiku, yah, benar, ini mimpiku dari dulu. Menjadi penulis, mendesain sendiri barang-barang seperti baju, sweater, sepatu, tas dan lainnya, ke luar negeri, keliling dunia, menjadi pengusaha. Dan semua itu telah dimiliki bunda, mimpiku telah keduluan diwujudkan orang. Luar biasa. Hatiku bergejolak, antara kagum, iri, dan bersemangat. Kalau bunda bisa mewujudkannya, lalu mengapa aq tidak?? Tidak ada yang tidak mungkin bukan?? Dan semangatku semakin berkobar, aku harus merealisasikan mimpiku, bagaimanapun caranya, aku harus berjuang untuk itu. Aku yakin aku bisa. Bismillah, Ya Alloh, wujudkanlah impianku, dekatkanlah impianku.

“Yang ini juga bagus lho, best seller. Dulu judulnya Catatan Hati di setiap sujudku, sekarang udah di tambah-tambahin lagi ceritanya, judulnya diganti jadi Catatan Hati di setiap Doaku,” kata-kata bunda menyadarkanku dari renungan sesaat itu.

Begitu pintar bunda mempromosikan bukunya, membuatku ingin membeli semuanya. Tapi keterbatasan budget dan kondisi ade-adeku yang mulai lelah membuatku hanya membeli dua bukunya saja dan segera pulang.

Hmm.. Pertemuan yang sungguh sangat berkesan untukku, dan mengobarkan semangat dalam dadaku. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk mimpiku yang menjadi nyata. Aamiin.

Jumat, 17 Agustus 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s