Silahkan Duduk Bu..!!!

Jumlah penduduk lebih besar dari jumlah angkutan di Indonesia? Itu wajar dan rasanya akan mengerikan jika jumlah kendaraan sama dengan jumlah penduduk.

Makanya sangat wajar dan menjadi pemandangan yang lumrah jika di dalam bis atau kereta banyak sekali yang tidak kebagian tempat duduk. Bisa dimengerti jika semua orang enggan merelakan tempat duduknya untuk orang lain, perjalanan jauh, tubuh yang lelah dan kemacetan yang luar biasa bisa dijadikan alasan untuk mempertahankan bangku kita. Lalu bagaimana bila ada wanita hamil, seorang ibu dengan anaknya yang masih kecil, dan juga wanita tua, apakah konsep ‘bangku ini untukku’ masih berlaku?

Aku pernah diceritakan oleh temanku tentang sebuah kejadian yang unik lagi memprihatinkan.

Suatu ketika ada seorang bapak2 yang naik bus AC jurusan Depok-Kalideres, tak lama keluar dari terminal bus sudah penuh dan banyak yang berdiri berdempet2an, sampai di margonda, naiklah seorang ibu dengan tiga anaknya yang masih kecil2. Melihat hal itu, si bapak tersebut menggerutu kepada orang yang duduk di sampingnya. Berikut kurang lebih gerutuannya,

“Itu si ibu ngga punya perasaan banget, udah tau anaknya masih kecil2 naiknya dari sini kan udah pasti penuh dan ngga dapet tempat duduk. Harusnya usaha kalo mau dapet duduk, ke terminal dulu kek, saya juga rumahnya di daerah sini tapi saya bela2in ke terminal dulu biar dapet duduk, saya usaha nih, dapet duduk gini juga ada perjuangannya.”

Hmm..dipikir2 sih ucapan bapak itu ada benarnya, perlu usaha untuk mendapatkan sesuatu. Tapi kalau dipikirkan lebih dalam, si ibu tidak sepenuhnya salah, bagaimana kalau itu pertama kalinya dia naik bus itu dan tidak tahu kalau ternyata selalu penuh? Atau tidakkah terpikir bahwa menyebrang balik ke terminal dengan membawa 3 anak kecil itu sangat merepotkan? Belum lagi ongkosnya yang bertambah, bisa saja si ibu tersebut termasuk orang yang dituntut untuk berhemat sehingga lebih memilih berdiri daripada menambah biaya?

Disinilah nilai kemanusian dan perasaan rela berkorban berlaku. Aku teringat cerita tentang sahabat Nabi yang ikut peperangan, ketika perang telah usai, si fulan menemukan si A dalam keadaan payah dan kehausan, dia meminta minum pada si fulan, ketika si fulan ingin memberikan minum tiba-tiba terdengar rintihan dari si B, si A pun menyuruh si fulan untuk memberikan minum itu kepada si B, kemudian si fulan menghampiri si B untuk memberikan minum, ketika akan minum lalu terdengar rintihan dari si C, si B pun menyuruh si fulan untuk memberikan minum pada si C. Si fulan dengan tergesa menghampiri si C, namun setelah sampai disana si C pun wafat, si fulan lantas berlari ke tempat si B untuk memberikan minum tapi ternyata si B pun telah wafat, begitu juga dengan si A. Akirnya mereka bertiga syahid di jalan Allah.

Apa hikmah yang bisa kita ambil dari cerita tersebut? Ternyata ketiga sahabat itu sungguh berpribadi mulia dan penuh kasih sayang, si A rela memberikan air yang sebenarnya sangat dia butuhkan kepada saudaranya seagama yang dia pikir lebih membutuhkan itu. Begitupun dengan si B. Sungguh pengorbanan yang luar biasa, memberikan sesuatu yang paling kita butuhkan.

Lalu bagaimana dengan kisah bapak2 di atas, seberapa besar pengorbanannya bila dibandingkan dengan sahabat nabi tersebut? Daripada menggerutu, bukankan akan lebih baik bila dia merelakan bangku yang dia dapat dengan penuh perjuangan itu untuk si ibu? Aku yakin, Allah tidak akan menyia2kan pengorbanannya itu, pahala yang besar menantinya bila dia ikhlas.

Tapi hidup itu pilihan, si Bapak telah memilih, lalu apa pilihan kita??

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s