Kopaja oh Kopaja

Ada kejadian yang cukup bikin aku “ngenes” beberapa hari yang lalu.

Aku baru pulang dari interview di sebuah perusahaan, waktu itu aku sedang di Kopaja 63, Jurusan BlokM-Depok. Dari di terminal BlokM saja kopajanya sudah penuh, alhasil aku ngga kebagian duduk dan berdiri di tengah-tengah (padahal aku cape dan mual banget, tapi mau bagaimana lagi?).

Dan, seperti trayek lainnya, Depok tuh emang banyak peminatnya, dalam sekejap kopaja yang aku tumpangi sudah penuh sesak. Dan kejadian berlangsung saat mobil melewati antasari menuju cilandak, si kenek tuh teriak-teriak nyuruh penumpang yang berdiri untuk lebih mepet lagi.

Pertama kali penumpang masih maklum, trus lebih mepet lagi (padahal kondisinya udah mepet dan ngga ada ruang lagi), kedua kali masih diam, ketiga kali penumpang mulai gondok, dan akhirnya entah yang keberapa kali si kenek marah-marah, penumpang pun mulai gerah.

“Apa sih Bang? Ini udah mepet!” kata seorang Ibu dibelakangku.

“Mau gimana lagi? Udah mepet ini, masih kurang? Ditingkat aja kalau kurang! Nggonggong aja kaya anjing!” Bapak-Bapak di sebelah aku membentak balik si kenek.

Aku cuma bisa istighfar dalam hati sambil geleng-geleng, ngga ada yang bisa aku lakukan, ngerasa kesal juga sih, lagian si kenek itu ngga ngeliat apa ya, kalau di dalam udah padat banget, kenapa masih aja dipaksa mepet. Penumpang itu kan juga manusia, bukan pepes, butuh kenyamanan, butuh oksigen, kalau terlalu dempet kan bisa sesak nafas kita, kok si kenek ngga ada pedulinya sama sesama manusia. Lagipula kita juga bayar, sudah seharusnya kita mendapatkan kenyamanan. Ini kita udah toleran dengan merapat, tapi masih di bentak juga, kenapa sih kenek-kenek itu ngga mau lebih toleran dengan penumpang? Kalau sama sesama manusia aja ngga menghargai, gimana sama makhluk hidup lainnya?

Aku bukan hendak menjelek-jelekkan kopaja 63, nggak, bukan kopajanya yang bermasalah, hal ini juga sering dijumpai di angkutan umum lainnya, PO Deborah Depok-Lebak Bulus misalnya, ngga beda situasinya. Aku ngga tau ya, maksudnya si kenek itu apa, untuk menambah penghasilan dia atau karena kasian melihat penumpang yang ingin naik tapi ngga muat lagi. Yang tau niat si kenek ya cuma dia sendiri. Kalau dia cuma mau ngambil keuntungan, berarti tuh kenek benar-benar tidak berperikemanusiaan. Tapi kalau memang itu karena kasian ngeliat banyak penumpang di pinggir jalan yang juga ingin pulang tapi ngga keangkut, ya ngga usah kaya gitu caranya, pake marah-marah segala. Kecuali kalau penumpang di dalam ngga ada toleransinya dengan berlega-lega ria, baru si kenek boleh menegur.

Tapi kalau dipikir dilema juga sih ya, buat penumpang yang udah naik, tentu saja mereka ngga nyaman kalau harus nyesek-nyesekan di dalem, tapi buat penumpang yang ngga keangkut, mereka mungkin rela berdesak-desakkan demi bisa pulang secepatnya.

Aku jadi bingung sendiri, harusnya bagaimana ya? Memang angkutannya terbatas, sementara peminatnya banyak, tapi kalau mau ditambah.. menambah kopaja? Menambah angkutan pencemar lingkungan no 1? Kayaknya banyak yang bakal ngga setuju, bahkan kalau bisa dimusnahkan saja. Tapi rata-rata angkutan di Jakarta berupa kopaja, metromini, atau miniarta, ngga mungkin juga diberantas.

Bener-bener dilema dech, PR nih buat Menteri perhubungan untuk memberi solusi terhadap masalah tersebut. Menambah kopaja dan antek-anteknya? Memberantas angkutan pencemar lingkungan no 1 tersebut? Mengganti bahan bakar angkutan tersebut? atau menciptakan alternatif angkutan lain? Sepertinya pemerintah kita harus mencontoh Negara-negara luar, Jepang misalnya? Dengan mengembangkan jalur kereta api, tapi kereta disini juga lebih penuh sesak, apa mungkin penduduk Indonesia yang terlalu over ya? Hhfftt.. ribet dech. Mungkin solusi yang tepat adalah mengekspor penduduk Indonesia??!! >$%&<?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s