Halo Dunia…!!!


Welcome...!!!

Assalamualaikum….

Hai Dear,,

Welcome to My Blog,

Mencoba-coba untuk menyalurkan hobi menulis, aku akan sangat senang bila kalian mau menyempatkan melihat-lihat, membaca-baca, dan memberi komentar agar blog ini bisa menjadi lebih baik.

Enjoy this Blog… Semangaat !!! \(^-^)/

Regards,,

Putri Nur Fauziah Andriyanti

Iklan

Tarawih dan Palestina


29 Mei 2018.

Ini Ramadhan ketiga aku mulai membiasakan tarawih di Masjid Baiturrahman. Dan tarawih hari ini Alhamdulillah kami kedatangan tamu istimewa, Syeikh dari Palestina (tak kusebutkan nama, khawatir keliru dalam penulisannya) yang mengimami shalat tarawih serta ceramah sebelum witir.

Tadinya kupikir, bacaan suratnya akan panjang, tapi tidak. Standar saja walaupun sangat tartil, pastinya. Kedatangan beliau ke sini membuatku berpikir dan merenung.

Terpikir olehku, bagaimana perasaan beliau berkunjung ke Indonesia saat Ramadhan. Aku membayangkan bagaimana berada di posisi beliau. Setelah mengalami dan menjalani masa perjuangan di tanah haram sana, lalu menyaksikan betapa masyarakat Indonesia dibuai akan kemudahan dan keamanan. Menu berbuka yang beragam melimpah, tawa dan suka cita. Miris. Akankah beliau berpikir waktu dan segala kenikmatan yang kami dapatkan terbuang dalam kesia-siaan? Atau ini hanya dalam pikiranku saja? Ah, mungkin beliau terlalu taqwa untuk sekedar mencela. Dibanding menyesalkan dan membandingkan, beliau lebih berharap dan mendoakan lahirnya mujahid-mujahid di Indonesia yang ikut membela dan mempertahankan bumi Palestina.

Dalam ceramahnya beliau menyampaikan bagaimana keadaan Palestine yang sejak bertahun lalu dikepung oleh zionis yahudi. Mereka membangun terowongan bawah tanah untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa. Mereka membangun pemukiman di sekitar Masjid untuk mengusir penduduk Palestine. Mereka menerapkan pajak yang tinggi, dan berbagai cara lain untuk menyusahkan warga Palestine. Tapi beliau katakan “Kami akan tetap di sini. Memperjuangkan tanah ini”.

Beliau sampaikan juga bagaimana kondisi Gaza. Kota yang miskin karena telah dibangun tembok setinggi 8 meter untuk memblokadenya. Tak hanya krisis pangan tapi juga kurangnya tenaga dan fasilitas kesehatan. Membuat mereka akhirnya mengungsi ke Negara terdekat.

Sedang di sini, di negeri ini. Begitu banyak nikmat. Makanan, pakaian, kesehatan, keamanan, namun sedikit yang bisa mensyukurinya. Kenaikan sedikit harga bahan pokok, mengeluh. Belum beli baju lebaran, mengeluh. Sakit sedikit di kepala, gigi, perut, mengeluh. Kinerja pemerintah yang seakan tak pernah memuaskan, mengeluh. Bahkan mungkin ada saja yang berkomentar “Rasanya ingin pindah saja, tinggal di Malaysia, Singapura atau Brunei Darussalam”.

Begitupun aku, sedikit masalah saja, “melarikan diri”. Ada yang tidak sesuai rencana, menggerutu dan meratapi. Sedang mereka di sana, dalam kondisi terburuk sekalipun, dengan yakin tetap berseru, “Kami akan tetap di sini!”. Bergetar hatiku mendengar ketegasan dalam kalimat yang beliau ucapkan.

Tak ada apa-apanya. Sungguh, perjuangan kita di sini, yang dirasa sudah setengah mati, berpeluh demi sesuap nasi, bertahan di tengah terik matahari, menjadi tiada berarti saat sebentar saja kita menilik ke tanah para Nabi.

Semoga Allah senantiasa menjaga bumi Palestina dari sentuhan zionis Yahudi.

[utie_collection] Fabric Basket


Apa yang lebih menyenangkan dari menerima? Ialah MEMBERI. Walaupun tak sejalan dengan logika, tapi ia memberi rasa bahagia.

Itulah yang melatar belakangi pembuatan fabric basket – keranjang kain- ini.

Sejak dulu, aku senang sekali memberi sesuatu kepada orang terdekatku. Sebuah hadiah, kenang-kenangan, atau karya buatan tangan. Sayangnya, aku hanya bisa royal hanya kepada orang yang kuanggap spesial, hohoho… 😈

Tahun ini, tepatnya tanggal 1 April, aku tahu akan diadakan acara nikah massal oleh sebuah lembaga islam. Acara yang akan diadakan di Masjid Al-Muhajirin Nusantara Depok ini adalah program nikah massal yang kedua. Aku pun sempat menghadiri nikah massal yang pertama. Saat itu, aku meniatkan untuk memberikan donasi bingkisan pengantin di nikah massal berikutnya.

Dan ketika tau April ini akan diselenggarakan program tahunan itu, sedari Januari, aku pun memeras otak. Apa yang bisa kubuat untuk bingkisan pernikahan? Karena aku berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk memberi banyak, maka aku berpikir akan memberikan hadiah yang sederhana tapi bisa memberi kenangan.

Berpikir… berpikir… Hmm… Benda paling sederhana yang bisa aku buat itu: gantungan kunci, tempat tissue, pouch, tote? Ah, tapi itu lebih bermanfaat ke mempelai wanitanya. Aku ingin memberikan sesuatu yang bisa digunakan bersama.

Sempat terpikir membuat cover bantal couple, tapii… Paling tidak aku harus menyiapkan 2 cover setiap pasang, dan bisa jadi ada lebih dari 10 pasang yang ikut acara itu. Hmm…. (ah, maafkan saya yang tak punya banyak budget 😅)

Berbulan-bulan berpikir, akhirnya baru Maret aku memutuskan untuk membuat fabric basket. Terinspirasi dari teman-teman crafter yang mulai banyak membuatnya untuk bazaar, aku pun menjelajah model-model keranjang kain di pinterest.

Dalam memilih model, aku mempertimbangkan kesulitan dan bahan yang diperlukan. Karena waktu yang mendesak, aku putuskan untuk memilih model yang paling simple. Dan karena tidak ada cukup budget untuk membeli material baru, aku cukup memanfaatkan timbunan kainku saja 😅.

Pertengahan Maret, adikku mendapat musibah. Dia jatuh dan tulang tangannya patah sehingga butuh tindakan operasi. Praktis, pikiranku pun seketika terfokus kepada adikku. Namun, keinginanku masih besar untuk tetap membuat fabric basket itu.

10 hari menjelang hari H, ketika masalah adikku sudah slow, aku mulai merancang pola dari koran untuk mengira-ngira seberapa besar keranjang yang akan aku buat.

Setelah menetapkan ukuran, berhari-hari aku digalaukan dengan bahan yang akan digunakan. Sempat terpikir memanfaatkan celana jeans yang tidak terpakai juga potongan perca yang bisa di patchwork. Namun ternyata tak mudah. Karakteristik jeans melar dan tidak cocok dipatchwork dengan katun.

Lalu berpikir untuk menggunakan kanvas motif. Mudah dijahit dan tidak lagi butuh setrika lapisan. Tapi, apa spesialnya?

Akhirnya pilihanku jatuh pada kanvas polos yang akan aku hias dengan angka 1418 dan beberapa hiasan bunga sulam pita yang tempo hari kupelajari.

Tapi… Ternyata sulam pita benar-benar menguras tenaga. Tanganku ledes-ledes saat mengeluarkan jarum dari pori-pori kanvas -yang bahkan sudah cukup besar- itu. Belum lagi jenis pita seadanya yang membuat hasilnya kurang rapih, menurutku.

Well, sudahlah. Aku usahakan saja yang terbaik. Prinsip ‘craft tidak pernah salah’, ku camkan kuat-kuat di kepala -untuk menghibur hati-. Jadi sekalipun tidak sempurna, ‘yah, namanya juga handmade’, pembelaan diri yang sangat umum, haha… 🤣

H-3, aku baru selesai potong-potong bahan dan membuat hiasan. Bersyukur yang ikut nikah massal hanya 8 pasang sehingga cukup waktu untuk menyelesaikan. Sehari semalam aku menyelesaikan jahitannya. Paginya aku setrika dan pemotretan. Berhubung tidak ada spot cantik di rumahku, jadilah aku hilangkan saja background fotonya. 😆

Tak lupa aku sematkan kartu ucapan berisi doa pernikahan di setiap keranjang.

Ternyata tidak banyak yang langsung paham lho apa itu 1418. Apakah hanya aku saja yang suka menjadikan tanggal sebagai angka? 😅 Mungkin karena aku sedikit terobsesi menikah di tanggal cantik, maka setiap tahun, selalu melihat kalender, menentukan kapan saja hari jumat yang memiliki tanggal cantik. 17217, 3317, 17317, 5517, 7717, 1917, 171117, adalah beberapa tanggal yang ‘kulingkari’ tahun lalu. 🤣🤣🤣 Tanggal-tanggal itu tidak cantik? Well, cantik memang relatif. Haha…

Jadi, begitulah sedikit cerita tentang charity pertama Utie Collection. Pemikiran berbulan-bulan yang ditutup dengan eksekusi kebutan. Semoga kedelapan pasangan tersebut menyukai hadiah kecil ini dan bisa bermanfaat untuk mereka, minimal menjadi kenangan tersendiri. Serta semoga pernikahan mereka bisa mencapai mawaddah. Aamiin.

Barakallahulakuma wabaraka ‘alaikuma wajama’a bainakuma fikhoir.

Matematika Drama Korea


Drakorutie

Hari gini, siapa sih abegeh yang ngga kenal sama drama korea? Nggak cuma abegeh, tak terhitung pula emak emak muda yang menggandrungi “sinetron” negeri gingseng itu.

Aku bahkan cukup kaget ketika adik perempuanku yang dimasukkan ke pesantren demi peningkatan ilmu agama dan “membatasi” waktu bermainnya itu justru kenal “korea” di sana.

Flashback ke 10 tahun lalu, aku pertama kali mengenal drakor karena teman-teman asramaku ribut-ribut soal full house dan chun hyang. Well, aku memang tipikal siswi kuper yang ngga peduli lingkungan. 😅

Di saat mereka asyik membicarakan han ji uen, lee young jae, hogwart, hermione, aku hanya bisa diam mendengarkan tanpa bisa mencerna. Sepertinya aku bahkan tidak pernah bisa benar-benar mendengarkan.

Dan aku juga tidak punya cukup waktu dan dana untuk mencari tahu apa itu karena setelahnya, aku mulai memasuki masa kelam dalam hidupku selama berbulan-bulan.

Dua tahun kemudian aku baru mengerti asal usul hogwart dan hermione. Dan yeah, aku pun akhirnya mengikuti dan menyukainya, terlambat dari zamannya.

Lima tahun kemudian, adikku yang sekolah di Bekasi merekomendasikan sebuah drama korea yang menurutnya bagus sekali. Mengharukan. Menyentuh. (padahal dia cowok lhoo) 😆

Pinochio. Itulah drama korea pertama yang benar-benar bisa aku simak. Sebelumnya, memang aku pernah menonton full house karena dampak teman-teman asramaku itu. Tapi sepertinya tidak cukup membekas untuk membuatku terkesan dan kecanduan. Atau mungkin aku yang belum terlalu mengerti.

Pinochio sukses membuatku mengacungkan jempol. Ternyata adikku tidak membual. Entahlah, apakah ada hubungannya dengan kisah kami yang juga telah ditinggalkan bapak, sehingga semakin menambah melankolis perasaan kami. Yang jelas, bagiku saat itu, drakor sangat berbeda dari sinetron indonesia. Jauh berbeda.

Dari pinochio, aku yang menyukai aktris utamanya, mulai mencari drakor dan film lain yang dibintanginya. Penasaran bagaimana dia berakting menjadi tokoh lainnya. Dari drakor itu, aku pun mulai menyukai aktor lain dan mencari tau tentangnya. Begitu seterusnya sampai kemudian aku kecanduan stadium 1 dengan drakor. Dan jumlah drama yang telah ku tonton berhasil membuat minusku bertambah drastis. 😣😥

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, aku bukannya kecanduan. Hanya saja tidak bisa memendam rasa penasaran. Dulu saat sekolah, ketika masih gemar membaca novel, sulit sekali melepas novel itu dari tanganku. Rasanya ingin cepat dilahap habis. Tak memandang waktu, bahkan perut lapar sekalipun masih bisa ditahan. Yeah, aku terlalu tergila-gila dengan cerita hingga tak ingin menghentikan sensasi kenikmatannya. Rasanya seperti terhisap ke dalamnya. Begitu pun saat menonton drakor marathon, I guess.

Begitulah perkenalanku dengan ‘sinetron jaman now’ itu. Saat ini pun aku masih menyukainya, walaupun sudah mulai mengalami titik jenuh.

Tak seperti kebanyakan pecinta drakor, aku menyukainya bukan karena wajah mulus tanpa cela oppa unnie-nya. Well, memangnya film apa yang tidak merekrut pemain dengan pesona di atas rata-rata? 🙄 cantik tampan di dunia entertain itu mutlak, jadi bagiku, itu terlalu biasa.

Yang membuatku tertarik dengannya, salah satunya adalah bahasa. Entah bagaimana dan sejak kapan aku mulai menyukai bahasa asing. Sejak SMP, saat aku begitu benci bahasa inggris, tak pernah terlintas sedikit pun bahwa aku suka bahasa. It’s a big big no. Aku lebih suka IPA dan matematika. Tak pernah bahasa.

Namun kemudian, setiap ada orang yang berbicara bahasa sunda, bahasa jawa, bahkan bahasa batak, aku seakan terpesona. Diam menyimak dan menikmatinya. Saat aku menonton Detective Conan Movie, aku pun mulai suka dengan bahasa Jepang. Saat sempat menonton Complices al Rescate dalam bahasa aslinya, aku pun tertarik. Bahkan bahasanya Meteor garden.

Dan tentu saja, aku pun menyukai bahasa kitab suciku, bahasa Arab. Tak melewatinya setiap ada kesempatan untuk belajar bahasa tersebut.

Back to topic. In my opinion, in my case, only just for me (🤣), inilah plus minus alias matematika drama korea:

+ Aku jadi mengenal berbagai profesi dan dunia di dalamnya, seperti wartawan, jaksa, pengacara, polisi, detektif, guru, dokter, dll. Mereka benar-benar membuka wawasanku.

+ Hampir semua drama dan film yang kutonton, ada nilai bermanfaat yang disampaikan baik tersirat ataupun tersurat. Kata-kata bijak, nasehat, inspirasi yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

+ Cermin yang merefleksikan hubungan antar manusia. Hubungan antara suami dan istri, ibu dan anak, ayah dan anak, antar saudara kandung, guru dan murid, atasan dan bawahan, senior dan junior, dll. Beberapa adegan membuatku tersadar, aah begitu rupanya. Jadi itulah alasan dibalik sikap seperti itu, jadi begitu seharusnya sikapku bila di posisi itu, bla.. bla.. bla..

+ Guru ekspresi. Salut melihat bagaimana beberapa tokoh mengekspresikan perasaannya, mengungkapkan apa yang dipikirannya dengan baik. Bagiku yang mengalami kesulitan mengungkapkan perasaan face to face, itu jelas jadi pelajaran berharga.

+ Budaya hormat kepada yang lebih tua sangat kuacungi jempol. Sulit mendeskripsikannya, tapi bahasa formal dan sikap hormatnya seringkali membuatku berkaca.

– Tak bisa dipungkiri, budaya non muslim bisa sangat bertentangan dengan budaya muslim. Seperti budaya mabuk-mabukan yang pasti ada dalam setiap dramanya. Juga konsep reinkarnasi atau janji-janji konyol dan kepercayaan tak berasaskan Tuhan yang seringkali diangkat.

– Lagi, tak jua bisa dihindari, romantisme dalam drama hampir selalu pasti ada. Kissing terkesan wajar bak berjabat tangan di Indonesia.

– Sayangnya, dunia profesi yang memberiku wawasan itu ada di negeri nun jauh di sana. Bisa jadi tak sama dengan di Indonesia. Mungkin juga malah jauh berbeda. Akan menyenangkan bila produksi film disini mengangkat tema-tema seperti itu.

– It’s always happy ending story. Bagiku ini bukan plus, karena bagaimana pun, realita tak pernah seindah cerita. Ini bisa berpotensi khayalan tinggi akan kesempurnaan atau sikap tak bisa menerima keadaan.

– Wasting time and hurting my self. Waktu berlalu saat menonton marathon tanpa ada produktivitas yang nyata. Kesehatan mata pun memburuk. Benar benar kerugian yang real.

So, setelah tahu plus minusnya, apakah aku merekomendasikan drama korea?

TIDAK

Why? Karena aku tipikal yang tidak bisa mengendalikan diri ketika sudah memulai dengan episode 1. Dan detik demi menit pun melalui jam.

Seorang teman crafter pernah berkata “aku ngga mau kehilangan waktu menjahit”. Yup. Beliau sangat benar. Waktu untuk menonton 20 episode mungkin setara dengan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan 10 tote bag yang siap dijual. Sungguh rugi, bukan?

Selain itu, terus menatap layar membuat leherku sakit dan migrainku kambuh. Pun minus mata semakin bertambah. Benar-benar rugi.

Lalu, apakah aku akan berhenti menyukai dan menontonnya?

TIDAK. Tidak dalam waktu dekat. Aku masih tetap menyukainya, dengan segala keistimewaanya. Namun, aku sedang mengurangi durasinya. Mengurangi sampai tahap mengakhiri, seperti halnya hubunganku dengan musik. Syukurlah aku termasuk yang cepat bosan. Cerita klise kemungkinan tidak akan membuatku tertarik. Belum lagi aktor-aktor baru yang tidak ku kenal. Ancaman justru bisa datang dari drama lama dengan aktor yang sudah ku kenal. Tapi selagi tak ada faktor pencetus, aku tak mudah untuk tergoda. 😁

Seperti seseorang yang ingin berhenti merokok, aku percaya kecanduan drama korea itu bisa dihentikan. Hanya butuh dorongan kuat dari dalam dan luar dirinya.

Karena sebagus apapun drama korea, harus kuakui, tak ada yang lebih bermanfaat selain menatap Al-Quran dan membacanya. 😊